Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perwakilan Dagang Amerika Serikat (AS) Katherine Tai. ( Foto: Bill O LEARY / POOL / AFP )

Perwakilan Dagang Amerika Serikat (AS) Katherine Tai. ( Foto: Bill O LEARY / POOL / AFP )

Aturan Perdagangan Dapat Membantu Penanganan Perubahan Iklim

Sabtu, 17 April 2021 | 06:33 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Perwakilan Dagang Amerika Serikat (AS) Katherine Tai mengatakan pada Kamis (15/4) waktu setempat bahwa perdagangan internasional dapat menciptakan insentif bagi negara-negara untuk mengikis perlindungan guna menarik investasi. Namun diperlukan aturan perdagangan global untuk melawan persaingan ekonomi yang akan mengarah pada standar yang lebih rendah.

“Pandangan bahwa masalah lingkungan bukan merupakan bagian inheren dari perdagangan, mengabaikan kenyataan bahwa aturan globalisasi yang ada memiliki kecenderungan menekan ke bawah atas perlindungan lingkungan. Hal ini menempatkan negara-negara dengan standar lingkungan yang lebih tinggi pada posisi yang tidak menguntungkan dalam persaingan,” ujar Tai dalam pidato terbuka pertamanya di Center for American Progress – sebuah lembaga riset progresif di Washington, yang dikutip AFP.

Menjelang pertemuan puncak iklim virtual yang dihadiri Presiden AS Joe Biden pekan depan, Tai mengungkapkan komitmennya untuk memperkuat aturan di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) guna memerangi masalah-masalah, seperti pembalakan liar dan penangkapan ikan berlebihan.

“Hutan adalah paru-paru planet kita, dan kita harus menggunakan kebijakan perdagangan serta tindakan penegakan perdagangan untuk melindunginya,” kata dia, seraya menambahkan bahwa aturan tersebut tidak akan efektif jika tidak ditegakkan.

“Ke depan, perdagangan memiliki peran untuk dimainkan dalam mencegah persaingan ekonomi yang akan mengarah pada standar yang lebih rendah, dan memberikan insentif peningkatan kinerja yang lebih baik. Tapi kita harus sadar bahwa kita hanya akan benar-benar menangani masalah skala global ini melalui aturan global,” tambah Tai.

Sebagai informasi, Biden telah membalikkan kebijakan iklim yang skeptis dari pendahulunya Donald Trump, menjadi sebuah prioritas di pemerintahannya. Bahkan AS menjadi tuan rumah acara pertemuan puncak virtual para pemimpin dunia pada pekan depan.

Pelestarian Sumber Daya

Menurut laporan, situasi dunia diklaim sudah sangat keluar dari jalur dalam memenuhi tujuan untuk mengekang pemanasan global yang telah ditandatangani sebagian besar negara dalam Perjanjian Iklim Paris 2015. Biden berharap pertemuan puncak akan menghasilkan janji yang lebih kuat sebelum pertemuan yang dipimpin Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Glasgow, Skotlandia, pada akhir tahun.

Hanya selang beberapa hari setelah menjabat pada Januari tahun ini, Biden bergegas menandatangani rangkaian perintah eksekutif yang dikatakan bakal menaikkan rencana ambisius pemerintah untuk menghadapi ancaman perubahan iklim yang ada.

Dia pun mengumumkan, bahwa AS akan bergabung kembali dengan Perjanjian Paris dan diprediksi mengungkap target emisi 2030 yang ambisius.

Di samping itu, Tai juga mencatat, jika Biden baru-baru ini mengumumkan rencana anggaran belanja besar-besara untuk infrastruktur dan lapangan pekerjaan senilai US$ 2 triliun. Fokus paket belanja ini berada pada penciptaan lapangan kerja melalui perluasan energi terbarukan, dan proyek lingkungan lainnya untuk menata kembali dan membangun kembali ekonomi baru.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN