Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Logo aplikasi seluler Facebook dan Google yang terlihat pada kayar tablet. ( Foto: Denis Charlet / AFP )

Logo aplikasi seluler Facebook dan Google yang terlihat pada kayar tablet. ( Foto: Denis Charlet / AFP )

Facebook Blokir Berita

Australia Khawatirkan Informasi Salah yang Menyebar Luas

Jumat, 19 Februari 2021 | 07:09 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

BRISBANE, investor.id – Pemblokiran konten berita di Australia oleh Facebook menimbulkan kekhawatiran bahwa misinformasi yang akan memenuhi konten media sosial tersebut di Australia. Berita palsu dan teori konspirasi dikhawatirkan menjadi tidak terkendali, sementara sumber yang dapat dipercaya telah terputus.

Mulai Kamis (18/2), warga Australia tidak dapat mengunggah tautan ke artikel berita atau melihat halaman Facebook dari situs berita lokal maupun internasional. Sedangkan media berita Australia menghilang dari situs tersebut di seluruh dunia.

Raksasa media sosial itu bertindak karena Australia memperkenalkan peraturan baru yang keras bagi mereka. Yakni memaksa Facebook dan Google untuk membayar atas berita yang ditampilkan di platform-nya. Tindakan mengejutkan Facebook itu menimbulkan kemarahan.

Beberapa lembaga pemerintah penting yang ditugaskan untuk menyampaikan berita darurat Covid-19, kebakaran hutan, banjir, dan petunjuk topan awalnya ikut terblokir kontennya. Atas kejadian ini, tak lama kemudian Facebook mulai kembali menampilkan berita Australia.

Tapi bermacam-macam halaman Australia lainnya juga dibiarkan kosong. Termasuk akun badan amal kanker dan tunawisma, bisnis-bisnis besar, bahkan akun satir populer.

Tetapi serangkaian halaman milik pemasok berita palsu dan teori konspirasi tidak terpengaruh oleh pemblokiran, meskipun mereka sering mengunggah tentang peristiwa terkini. Di antaranya adalah beberapa halaman yang diidentifikasi oleh tim pemeriksa fakta AFP sebagai berbagi klaim palsu yang beredar kepada puluhan ribu pengguna.

Aliansi Media, Hiburan, dan Seni (MEAA) mengatakan jurnalis profesional yang diwakilinya bertindak sebagai pemeriksa informasi salah yang tersebar, sebelum pekerjaan mereka dilarang dari feed Facebook.

"Dengan membatasi berita independen yang diproduksi secara profesional di Australia, Facebook mengizinkan promosi teori konspirasi, informasi yang salah, berita palsu, dan (penyebar teori konspirasi) QAnon crackpot di platform miliknya," ujar perwakilan MEAA Marcus Strom, Kamis (18/2).

Tindakan tidak bertanggung jawab oleh Facebook ini, tambah dia, akan mendorong penyebaran berita palsu.

“Khususnya yang berbahaya selama pandemi Covid-19 dan ini merupakan pengkhianatan terhadap para pengguna di Australia," lanjutnya.

Seorang juru bicara Facebook mengatakan, komitmen perusahaan untuk memerangi informasi yang salah di media sosial tersebut belum berubah.

"Kami mengarahkan orang-orang ke informasi kesehatan yang berwenang dan memberi tahu mereka tentang pembaruan melalui Pusat Informasi Covid-19 kami," kata dia.

Juru bicara tersebut juga menunjuk pada kemitraan untuk pengecekan fakta yang sedang berlangsung. AFP adalah salah satu organisasi yang saat ini bekerja dengan program pengecekan fakta Facebook. Facebook membayar untuk menggunakan pemeriksaan fakta dari sekitar 60 organisasi semacam itu, termasuk outlet media dan pemeriksa fakta khusus, di platform Facebook dan Instagram.

Pemblokiran oleh Facebook terjadi hanya beberapa hari sebelum peluncuran vaksin yang direncanakan Australia, meningkatkan kekhawatiran pejabat kesehatan bisa tenggelam oleh suara kelompok anti vaksin.

"Saya akan mengatakan lagi ke Facebook, pikirkan lagi. Anda mungkin melakukannya demi uang, tetapi kita semua ada untuk keselamatan, perlindungan, dan tanggung jawab. Ini adalah saat untuk kembali ke asal. Di mana Anda seharusnya, sebagai sebuah perusahaan, fokus pada komunitas, keterlibatan, bukan atas uang," kata Menteri Kesehatan Australia Greg Hunt.

Menghasilkan Pendapatan

Facebook mengatakan telah menghasilkan pendapatan ratusan juta dolar untuk organisasi media Australia melalui jumlah klik.

Para pengamat mengecam kegesitan dan cakupan tindakan Facebook terhadap Australia setelah bertahun-tahun melakukan apa yang mereka gambarkan sebagai keengganan untuk menghapus platform kekerasan, ujaran kebencian, dan informasi yang salah.

"Dan orang-orang bertanya-tanya mengapa ini tidak terjadi dengan kelompok-kelompok pembenci tertentu di bagian lain dunia, mengapa tidak ada upaya untuk menghapus konten itu sekaligus," ungkap Lucie Krahulcova dari Digital Rights Watch kepada AFP.

Facebook sudah mendapat kecaman karena tidak berbuat cukup untuk mengekang informasi yang salah dan fitnah secara global, sebelum kontroversi terbaru ini.

Bulan lalu, CEO Facebook Mark Zuckerberg mengatakan perusahaan sedang berusaha untuk menurunkan suhu platform. Pihaknya mengurangi jenis pembicaraan politik yang memecah belah dan menghasut yang telah lama beredar di dalamnya.

Jejaring sosial tersebut juga telah mengatur tentang pelarangan grup yang membagikan klaim Covid-19 yang dibantah dan menyoroti anjuran kesehatan dari badan resmi terpercaya yang tetap dapat diakses.

Namun demikian, Reset Australia yang bertujuan melawan ancaman digital terhadap demokrasi, mengatakan pemblokiran berita Australia menunjukkan betapa sedikit platform yang peduli untuk menghentikan penyebaran informasi keliru.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN