Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perdana Menteri (PM) Australia, Scott Morrison (kiri) dan Presiden Tiongkok, Xi Jinping. ( Foto: AFP )

Perdana Menteri (PM) Australia, Scott Morrison (kiri) dan Presiden Tiongkok, Xi Jinping. ( Foto: AFP )

Australia Tuding Tiongkok Merusak WTO

Jumat, 22 Oktober 2021 | 06:29 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

SYDNEY, investor.id – Pemerintah Australia menyampaikan kecaman pedas terhadap kebijakan perdagangan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) pada Kamis (21/10). Negeri Kangguru itu menuding Tiongkok merusak Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), dan enggan merombak ekonomi yang dijanjikan.

Selama tinjauan WTO yang rutin diadakan di Jenewa, Swiss, perwakilan Australia mengatakan bahwa Tiongkok telah mendapat manfaat secara signifikan dari 20 tahun keanggotaan WTO. Tetapi Negeri Tirai Bambu itu tidak mempertahankan kesepakatannya.

Dalam pernyataan yang disampaikan secara terang-terangan dan dipublikasikan setelah pertemuan itu, otoritas Australia berkeras bahwa sejumlah sanksi yang dikenakan terhadap barang-barang asal Australia bermotivasi politik sekaligus menunjukkan kesenjangan yang semakin besar antara retorika Tiongkok tindakannya.

Dalam catatan selama 18 bulan terakhir, Tiongkok telah memberlakukan pembatasan pada daftar panjang ekspor Australia karena hubungan politik antara kedua negara telah mencapai titik terendah dalam satu generasi.

“Tiongkok semakin menguji aturan dan norma perdagangan global dengan terlibat dalam praktik yang tidak sesuai dengan komitmen WTO-nya. Dengan merusak aturan perdagangan yang disepakati, Tiongkok juga merusak sistem perdagangan multilateral yang diandalkan oleh semua anggota WTO,” demikian pernyataan Pemerintah Australia, yang dikutip AFP.

Para pejabat Australia juga mengungkapkan untuk pertama kalinya bahwa daftar barang – yang berisi jelai, batu bara, bijih tembaga, kapas, jerami, kayu gelondongan, lobster batu, gula, minuman anggur, daging sapi, buah jeruk, biji-bijian, dan anggur yang dikonsumsi saat masih segar (table grapes) – sekarang mencakup produk susu dan susu formula bayi.

Para ahli melihat sanksi yang dikenakan Tiongkok terhadap Australia sebagai pesan terselubung kepada negara-negara di Pasifik, bahwa menantang Tiongkok secara politis akan menimbulkan kerugian ekonomi yang serius.

Sebagai informasi, Pemerintah Australia sudah lama menolak upaya-upaya Tiongkok untuk menegaskan pengaruh di kawasan itu, termasuk melarang raksasa teknologi telekomunikasi Huawei terlibat dalam kontrak utama, juga mempertanyakan bagaimana pandemi Covid-19 dimulai, mengumumkan peningkatan besar-besaran dalam pengeluaran militer dan membatasi operasi pengaruh Tiongkok di Australia .

Pada pertemuan tertutup di Jenewa, Swiss, Tiongkok dilaporkan berjanji mempercepat upaya-upaya untuk membuka pasarnya, dan menerapkan kebijakan impor yang lebih proaktif. Namun, pihak berwenang Australia berkeras bahwa reformasi berorientasi pasar Tiongkok belum mengalami perkembangan dalam beberapa tahun terakhir.

Pada Desember tahun ini akan menandai 20 tahun sejak Tiongkok bergabung dengan WTO. Momen ini diperkirakan oleh para pembuat kebijakan di Amerika Serikat (AS) bakal mengikat Tiongkok dengan lembaga-lembaga internasional yang dirancang Barat, dan memacu reformasi politik.

Dua dekade kemudian, akses ke pasar Tiongkok masih dikontrol dengan ketat, perusahaan-perusahaan milik negara terlihat mendominasi banyak sektor ekonomi dan Partai Komunis tetap memegang kekuasaan.

Presiden Xi Jinping – yang telah menghasut beberapa tindakan keras terhadap musuh-musuh potensial – diprediksi melanjutkan masa jabatan lima tahun ketiga, yang belum pernah terjadi sebelumnya sebagai Sekretaris Jenderal pada pertemuan penting partai tahun depan.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : AFP

BAGIKAN