Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Logo Bank Dunia atau World Bank. ( Foto: Reuters )

Logo Bank Dunia atau World Bank. ( Foto: Reuters )

Bank Dunia akan Biayai Dosis Tambahan untuk Negara Penghasilan Rendah

Rabu, 28 Juli 2021 | 07:08 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

JENEWA, investor.id – Mekanisme pembiayaan baru dari Bank Dunia yang disampaikan pada Senin (26/7) akan membantu negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah untuk membeli dosis vaksin Covid-19 secara kolektif melalui fasilitas Covax.

Pengumuman tentang mekanisme itu juga bakal membantu negara-negara tersebut membeli dosis vaksin tambahan di luar dosis bersubsidi yang sudah diterima melalui Covax.

Sebagai informasi, Covax didirikan dengan tujuan memastikan 92 wilayah berkembang dapat mengakses vaksin virus corona guna memerangi pandemi, dengan biaya ditanggung oleh para donor.

Lewat skema menggunakan uang dari Bank Dunia dan bank-bank pembangunan lain, maka fasilitas (Covax) yang akan bertindak melakukan pembelian lanjutan dari produsen vaksin berdasarkan permintaan agregat di seluruh negara.

Mekanisme pembiayaan tersebut dibangun di atas pengaturan pembagian biaya Covax yang ada dengan tujuan menyediakan 430 juta dosis tambahan – atau dosis yang cukup untuk memberikan vaksinasi lengkap kepada 250 juta orang – untuk pengiriman antara akhir 2021 dan pertengahan 2022 ke 92 negara.

Dosis-dosis vaksin tersebut dapat dibeli melalui pengaturan pembiayaan baru. Negara-negara juga harus memiliki fleksibilitas dalam memilih untuk membeli vaksin tertentu yang sesuai dengan preferensi mereka. Covax dipimpin bersama oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), aliansi vaksin Gavi dan Koalisi untuk Inovasi Kesiapsiagaan Epidemi (Coalition for Epidemic Preparedness Innovations).

“Mekanisme pembiayaan akan memungkinkan Covax membuka dosis tambahan untuk negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Ketika kami bergerak melampaui target awal, dan bekerja demi mendukung upaya negara-negara untuk melindungi sebagian besar populasi mereka, pembiayaan Bank Dunia akan membantu kami maju lebih jauh menuju tujuan kami untuk mengendalikan Covid-19,” demikian penjelasan CEO Gavi, Seth Berkley dalam sebuah pernyataan, yang dikutip AFP.

Ketimpangan Vaksin

Di sisi lain, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah berulang kali mengecam ketidakseimbangan distribusi global dosis vaksin Covid-19 yang mengejutkan.

Menurut hitungan AFP, hampir 3,9 miliar dosis vaksin Covid-19 yang telah disuntikkan di seluruh dunia, setidaknya di 216 wilayah.

Di negara-negara berpenghasilan tinggi, seperti yang didefinisikan oleh Bank Dunia, sebanyak 95,4 dosis telah diberikan per 100 penduduk. Angka itu hanya 1,5 dosis per 100 orang di 29 negara berpenghasilan terendah.

Sejauh ini, Covax telah mengirimkan lebih dari 138 juta dosis vaksin ke 136 wilayah yang berpartisipasi. Tapi angka ini masih jauh dari jumlah yang diharapkan.

“Mengakses vaksin tetap menjadi satu-satunya tantangan terbesar yang dihadapi negara-negara berkembang. Mekanisme ini akan memungkinkan pasokan baru dan memungkinkan negara-negara untuk mempercepat pembelian vaksin. Ini juga akan memberikan transparansi tentang ketersediaan vaksin, harga, dan jadwal pengiriman,” kata Presiden Bank Dunia David Malpass.

Bank Dunia mengatakan telah menyediakan dana sebanyak US$ 20 miliar untuk negara-negara berkembang guna membantu membeli dan mendistribusikan vaksin, serta mendukung upaya di 53 negara sejauh ini.

Menurut lembaga kreditor pembangunan yang berbasis di Washington, Amerika Serikat (AS), ada banyak negara telah mengindikasikan ingin membeli vaksin tambahan melalui Covax tetapi memiliki opsi pembelian di tempat lain, termasuk langsung dari produsen vaksin.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN