Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Logo Dana Moneter Internasional (IMF). ( Foto: AFP Photo/Brendan SMIALOWSKI )

Logo Dana Moneter Internasional (IMF). ( Foto: AFP Photo/Brendan SMIALOWSKI )

Bank Dunia - IMF Pertimbangkan Perubahan Iklim Dalam Pengurangan Utang

Sabtu, 20 Februari 2021 | 12:30 WIB
Fajar Widhiyanto

Jakarta - Bank Dunia bekerja sama dengan Dana Moneter Internasional (IMF) tengah mencari cara untuk memasukkan faktor perubahan iklim ke dalam negosiasi pengurangan beban utang beberapa negara miskin. Hal ini disampaikan Presiden Bank Dunia David Malpass dalam wawancaranya dengan Reuters Jumat (19/2) waktu setempat.

Tiga negara yakni Ethiopia, Chad dan Zambia saat ini diketahui tengah memulai negosiasi dengan kreditor di bawah Kerangka Kerja Bersama yang baru, yang didukung oleh Kelompok 20 negara-negara ekonomi utama, suatu proses yang mengarah pada pengurangan utang dalam beberapa kasus.

Malpass memperkirakan adanya sejumlah negara lainnya yang meminta restrukturisasi utang mereka. Namun ia menolak memberikan rincian nama negara-negara tersebut.

Situasi pandemi Covid-19 memang telah memperburuk prospek banyak negara yang sudah terlilit utang besar sejak sebelum wabah. Dengan turunnya pendapatan, sementara pengeluaran meningkat di tengah upaya vaksinasi yang relatif rendah dibanding negara-negara maju.

Tiongkok, Amerika Serikat, dan negara G20 lainnya sejatinya sempat menawarkan keringanan pembayaran utang sementara untuk negara-negara termiskin yang berutang kepada kreditor resmi di bawah Debt Service Suspension Initiative (DSSI). Pada November tahun lalu, G20 juga meluncurkan kerangka kerja baru yang dirancang untuk menangani porsi utang yang tidak berkelanjutan.

Malpass mengatakan Bank Dunia dan IMF sedang mempelajari bagaimana menggabungkan dua masalah global, yakni kebutuhan untuk mengurangi atau merestrukturisasi beban utang yang berat di banyak negara miskin, dengan kebutuhan untuk mengurangi emisi bahan bakar fosil yang berkontribusi pada perubahan iklim.

Memasukkan faktor perubahan iklim ke dalam proses restrukturisasi utang dinilai dapat membantu memotivasi pemberi pinjaman asing, bahkan kreditor swasta untuk menghapus porsi tertentu dari utang negara-negara miskin. Langkah ini bisa dijadikan sebagai imbalan untuk upaya negara debitur membentuk pembangunan yang berkelanjutan.

Dalam skema tersebut, Bank Dunia dan IMF berperan sebagai penasehat dan konsultan dalam negosiasi restrukturisasi utang, megingat kedua lembaga inilah yang menilai tingkat keberlanjutan beban utang masing-masing negara.

Banyak negara berkembang membutuhkan dana belanja yang besar untuk menopang kebutuhan pangan dan infrastruktur mereka akibat dari perubahan iklim. Pemerintah mereka juga harus mengeluarkan dana yang besar untuk proyek energi alternatif, di tengah keterbatasan sumber dana untuk investasi yang dibutuhkan.

“Perlu ada pengakuan moral oleh dunia bahwa aktivitas di negara maju berdampak pada masyarakat di negara miskin,” kata Malpass. “Negara-negara miskin sebenarnya tidak mengeluarkan banyak gas rumah kaca, tetapi mereka menanggung dampak terberat dari seluruh dunia,” tambahnya.

Sebelumnya Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva awal bulan ini menyampaikan perihal diskusi tahap awal yang sedang berlangsung tentang mengaitkan keringanan utang dengan ketahanan iklim dan investasi dalam sumber energi rendah karbon.

 

Editor : Fajar Widhi (fajar_widhi@investor.co.id)

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN