Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Suasana Bank of England (BoE), di Kota London pada 5 Februari 2021. ( Foto: Niklas Hallen / AFP )

Suasana Bank of England (BoE), di Kota London pada 5 Februari 2021. ( Foto: Niklas Hallen / AFP )

Bank Sentral Inggris Pertahankan Stimulus

Jumat, 24 September 2021 | 06:52 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

LONDON, investor.id – Bank sentral Inggris atau BoE mempertahankan stimulus dan suku bunga rekor terendah pada Kamis (23/9). Tetapi para analis menilai, bank tersebut bisa mengikuti The Federal Reserve (The Fed) dalam memberi sinyal kapan akan mengurangi dukungan darurat.

Komite kebijakan moneter BoE mempertahankan biaya pinjaman pada level 0,1% dan mempertahankan stimulus tunainya. Yang berarti otoritas moneter tetap memompa ekonomi Inggris dengan likuiditas hingga hampir 900 miliar pound atau setara US$ 1,2 triliun meskipun inflasi tinggi.

Perkiraan pengetatan kebijakan oleh BoE menguat setelah Deputi Gubernur BoE Dave Ramsden dan anggota dewan Michael Saunders mendukung penghentian lebih awal program pembelian obligasi pemerintah.

BoE dalam pernyataannya juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Inggris kuartal III jadi 2,1% dari sebelumnya 2,9%. “Penurunan ini mencerminkan munculnya lagi beberapa hambatan di sisi pasokan,” kata BoE, yang dikutip AFP.

Mengenai inflasi, BoE mengingatkan bahwa harga-harga di tingkat konsumen naik hingga sedikit di atas 4% pada akhir tahun ini. Yang berarti dua kali lipat dari target bank sentral, yang disebabkan oleh makin dalamnya gejolak harga energi.

Keputusan BoE keluar pada saat bank-bank sentral global sedang mempertimbangkan kapan harus menarik kebijakan moneter longgar dan stimulus besar-besaran. Yang digelontorkan saat ekonomi dunia rontok oleh pandemi Covid-19 dan sekarang mulai pulih.

The Fed pada Rabu (22/9) menyatakan akan segera mulai mengurangi bantuan daruratnya. Bank sentral Norwegia pada Kamis menjadi negara anggota pertama dari kelompok mata uang utama G10 yang menaikkan biaya pinjaman.

Sementara Bank sentral Swiss (SNB) mempertahankan kebijakan moneter longgarnya saat menurunkan proyeksi pertumbuhan negara itu untuk 2021.

Kalangan analis masih mengamini langkah bank-bank sentral untuk mempertahankan stimulus, kendati ada tekanan inflasi.

"Tidak mungkin ada pergerakan dari The Fed dan bank sentral Inggris hari ini, meskipun ada tekanan inflasi," kata analis AJ Bell, Russ Mould pada Kamis (23/9).

Namun, tambah dia, akan ada ekspektasi semacam sinyal tentang kapan pembelian aset akan ditingkatkan kembali dan apakah kenaikan suku bunga Inggris bisa menjadi prospek pada tahun depan.

Bank-bank sentral dunia melakukan pembelian obligasi komersial dalam jumlah besar. Langkah ini membuat uang beredar di perekonomian dunia sangat besar.

Beberapa analis berpendapat bahwa ini memicu inflasi, yang meningkat dalam hal apa pun setelah pandemi yang disebabkan kekurangan pasokan.

Para bankir bank sentral tetap waspada terhadap stagflasi, yakni campuran merusak dari pertumbuhan ekonomi yang rendah dan inflasi yang tidak terkendali.

Adapun inflasi Inggris tahunan melonjak pada Agustus 2021 menjadi 3,2% atau mendekati level tertinggi dalam satu dekade, setelah negara muncul dari penguncian.

BoE mengingatkan bahwa inflasi akan segera mencapai 4,0%, dua kali lipat dari targetnya. Tetapi pihaknya yakin lonjakan ini akan bersifat sementara.

Gubernur BoE Andrew Bailey berpendapat bahwa pemulihan sedang mendatar sebagai akibat dari pandemi dan kemacetan rantai pasokan global.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN