Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Logo Bank of Japan (BoJ) atau bank sentral Jepang. ( Foto: klimexcm.com )

Logo Bank of Japan (BoJ) atau bank sentral Jepang. ( Foto: klimexcm.com )

Bank Sentral Jepang Naikkan Prediksi Pertumbuhan

Rabu, 28 April 2021 | 06:27 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

TOKYO, investor.id – Bank of Japan (BoJ) pada Selasa (27/4) menaikkan prediksi pertumbuhan ekonomi Jepang. Faktor pendorongnya disebutkan karena sisi permintaan akan meningkat, walau BoJ masih mempertahankan kebijakan moneter sangat longgar.

Tetapi diakui oleh BoJ itu bahwa prospeknya tersebut masih dibayangi ketidakpastian. Dapat berubah bergantung pada bagaimana kondisi pandemi Covid-19 ke depannya serta dampaknya terhadap ekonomi dalam negeri maupun global.

Menurut laporan, BoJ merevisi perkiraan untuk tahun fiskal 2020-2021 yang berakhir pada 31 Maret tahun depan bahwa ekonomi kontraksi 4,9%, dibandingkan prediksi kontraksi 5,6% pada Januari 2021.

Sementara itu untuk tahun fiskal saat ini, BoJ memperkirakan pertumbuhan naik 4,0% dibandingkan prediksi Januari sebesar 3,9%. Sedangkan untuk tahun fiskal yang berakhir pada Maret 2023, diperkirakan naik dari 1,8% menjadi 2,4%.

“Tingkat pertumbuhan yang diproyeksikan lebih tinggi, terutama untuk tahun fiskal 2022, karena didukung oleh permintaan domestik dan eksternal yang lebih kuat,” kata BoJ, seperti dikutip AFP.

Bank sentral Jepang mengungkapkan, untuk saat ini aktivitas ekonomi Jepang diperkirakan masih lebih rendah dari tingkat pra-pandemi. Mereka juga memproyeksi akan melihat dampak virus memudar secara bertahap. Tetapi gambaran itu tidak semuanya positif, karena BoJ dipaksa lagi untuk merevisi perkiraan inflasinya, dan menempatkan target 2% yang telah lama dipertahanka,n bahkan lebih jauh dari jangkauan.

BoJ sendiri secara konsisten gagal mencapai target yang dianggapnya sebagai kunci untuk meningkatkan laju ekonomi yang tersendat, walau ada rentetan paket stimulus dan pelonggaran moneter.

BoJ memproyeksikan bahwa tingkat inflasi hanya 0,1% untuk tahun fiskal yang berakhir pada Maret 2022, turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 0,5%. Bahkan BoJ memperkirakan kenaikan itu menjadi 0,8% untuk tahun fiskal yang berakhir Maret 2023, dan hanya mencapai 1,0% pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2024.

Vaksinasi Covid-19 Lambat

BoJ telah menyatakan bakal melanjutkan kebijakan moneter yang ada selama diperlukan untuk mencapai target 2%. Mengulang keputusan sebelumnya, BoJ mengatakan tidak akan ragu untuk mengambil langkah-langkah pelonggaran tambahan, jika perlu. Meski mereka berharap bahwa tingkat suku bunga kebijakan jangka pendek dan panjang tetap di kisaran level saat ini atau lebih rendah.

“Dengan memprediksi bahwa inflasi akan tetap jauh di bawah target 2% pada tahun fiskal 2023, (BoJ) mengisyaratkan periode kelambanan yang berkepanjangan. Menyusul peluncuran vaksin yang akan meningkat dalam beberapa bulan mendatang – setelah sempat lambat – aktivitas-aktivitas harus mulai pulih kembali dalam waktu dekat, sehingga menurunkan kebutuhan akan stimulus tambahan,” kata Marcel Thieliant, ekonom senior Jepang di Capital Economics.

Bahkan di beberapa bagian di wilayah Jepang, termasuk pusat ekonomi Tokyo dan Osaka, kembali berada di bawah status darurat virus ketiga yang mendorong penutupan pusat-pusat perbelanjaan serta restoran dan bar yang menyajikan minuman mengandung alkohol.

Negeri Matahari Terbit itu memulai pelaksanaan vaksinasi Covid-19 pada Februari, tetapi sejauh ini baru menyetujui formula vaksin Pfizer serta memberikan suntikan vaksin kepada kelompok tenaga kesehatan dan orang tua.

Menurut Gubernur BoJ Haruhiko Kuroda, lambatnya peluncuran pelaksanaan vaksin Covid-19 di Jepang bukanlah faktor utama di balik kecepatan pemulihan ekonominya.

“Benar bahwa memajukan vaksinasi akan berdampak pada percepatan pemulihan. Tetapi ada hal-hal yang tidak akan diputuskan hanya karena vaksin,” ujar Kuroda.

Ia juga menambahkan bahwa elemen-elemen lain seperti potensi pertumbuhan akan membantu mengatur kecepatan pemulihan.
 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN