Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Tiongkok Xi Jinping (kiri) dan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden. ( Foto: NICOLAS ASFOURI, NICHOLAS KAMM / AFP )

Presiden Tiongkok Xi Jinping (kiri) dan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden. ( Foto: NICOLAS ASFOURI, NICHOLAS KAMM / AFP )

Biden dan Xi Serukan Saling Menjauhi Jalur Konflik

Sabtu, 11 September 2021 | 06:12 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

WASHINGTON, investor.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada Kamis (9/9) waktu setempat untuk kali pertama melakukan pembicaraan lewat sambungan telepon selama 90 menit, dalam tujuh bulan sejak Biden resmi menjabat pada 20 Januari. Dalam percakapan itu, kedua pemimpin mendesak untuk menjauh dari jalur konflik tapi tetap bersaing sengit.

Menurut Gedung Putih, Biden memperingatkan soal kesalahpahaman yang dapat memicu konfrontasi antara AS dan Tiongkok. Sementara itu, Xi menyerukan arah baru dalam hubungan yang sedang dilanda kesulitan serius.

Seperti diketahui, hubungan AS-Tiongkok mengalami kemerosotan di bawah kepemimpinan Donald Trump, yang meluncurkan perang dagang antara dua negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia, dan mengkritik Pemerintah Tiongkok atas penanganannya terhadap pandemi virus corona.

Sedangkan pemerintahan Biden disebut mendesak kebijakan multilateralisme dan mengakhiri ideologi America Firsti Trump, tetapi juga mempertahankan kebijakan tarif perdagangan dan bersikap tegas terhadap bidang-bidang lain yang melibatkan hubungan AS dengan Tiongkok, seperti keamanan siber dan hak asasi manusia (HAM).

“Selama melakukan percakapan, pesan Biden yang disampaikan adalah bahwa Amerika Serikat ingin memastikan kami tidak memiliki situasi di masa depan, di mana kami membelok ke konflik yang tidak diinginkan,” ujar pejabat senior pemerintah AS kepada wartawan, yang dikutip AFP.

Sementara itu di Beijing, lembaga penyiaran CCTV melaporkan bahwa perbincangan via telepon tersebut berlangsung secara terus terang dan mendalam. Dalam kesempatan itu, lanjutnya, Xi mencatatkan kesulitan-kesulitan serius yang disebabkan kebijakan AS baru-baru ini terhadap Tiongkok, yang telah membuat kedua negara saling bertikai soal perdagangan, teknologi, hak asasi manusia dan asal usul virus corona.

“Apakah Tiongkok dan AS dapat menangani hubungan mereka dengan baik sangat penting untuk masa depan dan nasib dunia,” lapor CCTV yang mengutip pernyataan Xi.

Di sisi lain, Gedung Putih mengisyaratkan kebuntuan diplomatik tidak berkelanjutan dan berpotensi berbahaya sehingga membutuhkan intervensi para pemimpin dalam pembicaraan Kamis. “Kami menyambut persaingan yang ketat, tetapi kami tidak ingin persaingan itu berubah menjadi konflik,” tutur pejabat yang enggan disebut namanya, kepada wartawan.

Ia menambahkan, tujuan dari pembicaraan via telepon itu adalah untuk menetapkan pagar pembatas sehingga hubungan dapat dikelola secara bertanggung jawab.

Sebelumnya, upaya pembicaraan di tingkat yang lebih rendah antara pejabat AS dan Tiongkok tidak berjalan baik. Terutama ketika terjadi perseteruan pada Maret, antara Menteri Luar Negeri (Menlu AS) Antony Blinken dan pejabat tinggi Tiongkok dalam pertemuan di Anchorage, Alaska.

“Kami belum terlalu puas dengan perilaku lawan bicara kami,” ungkap pejabat senior itu kepada wartawan.

Pejabat itu juga menuding Tiongkok, sebagian besar tidak mau terlibat dalam pembicaraan serius atau substantif. “Kami tidak percaya bahwa itu adalah cara negara yang bertanggung jawab bertindak, terutama mengingat pentingnya persaingan AS-Tiongkok secara global. Menanggapi kebuntuan itu, Presiden Biden memahami pentingnya melibatkan Presiden Xi secara langsung,” katanya.

Menurut catatan Gedung Putih, “Biden dan Xi membahas bidang-bidang di mana kepentingan kita bertemu, dan bidang-bidang di mana kepentingan-kepentingan, nilai, dan perspektif kita berbeda.”

Tanpa Terobosan

Pejabat tersebut menambahkan bahwa pembicaraan yang berlangsun Kamis, difokuskan ke isu-isu luas dan strategis namun tanpa ada keputusan konkret yang diharapkan diambil untuk isu-isu luar biasa atau pengaturan pertemuan puncak pertama Biden-Xi.

Alhasil, daftar ketidaksepakatan antara AS dan Tiongkok semakin panjang dan terus bertambah.

Di luar isu perdagangan, para pejabat Gedung Putih mengeluhkan praktik perdagangan Tiongkok yang tidak adik dan memaksa, serta ketegangan yang semakin dalam terkait klaim Tiongkok atas Taiwan dan mayoritas pulau di Laut Tiongkok Selatan.

AS juga dibuat geram dengan penolakan Tiongkok untuk bekerja sama dalam penyelidikan internasional tentang asal-usul virus Covid-19 – yang yang pertama kali muncul di Tiongkok sebelum menyebar ke seluruh dunia.

Selain itu, ada area di mana kedua kekuatan juga harus bekerja sama atau setidaknya berkoordinasi, termasuk dalam program senjata nuklir Korea Utara dan krisis iklim. Menurut Gedung Putih, Biden dan Xi juga membahas pandemi Covid dan iklim, di antara topik global lainnya.

Biden pun telah mengemukakan kekhawatiran tentang serangan siber Tiongkok terhadap Amerika Serikat.

“Tapi percakapan Kamis, bukan tentang menemukan semacam kesepakatan terobosan melainkan soal menjaga saluran komunikasi tetap terbuka antara kedua kekuatan. Tujuan kami adalah, untuk benar-benar mencapai keadaan yang stabil antara Amerika Serikat dan Tiongkok,” demikian disampaikan pejabat itu.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN