Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden menyampaikan sambutan pada acara virtual  Konferensi Keamanan Munic,h di Ruang Timur Gedung Putih, pada 19 Februari 2021 di Washington, DC. ( Foto: Anna Moneymaker-Pool / Getty Images / AFP ).

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden menyampaikan sambutan pada acara virtual Konferensi Keamanan Munic,h di Ruang Timur Gedung Putih, pada 19 Februari 2021 di Washington, DC. ( Foto: Anna Moneymaker-Pool / Getty Images / AFP ).

Debut di Pertemuan G-7

Biden Janjikan Aksi Iklim dan Pemulihan Covid

Sabtu, 20 Februari 2021 | 06:17 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden memulai debutnya dalam pertemuan kelompok G-7 pada Jumat (19/2) waktu setempat yang digelar secara virtual. Dalam kesempatan itu, Biden menjanjikan bantuan sebesar US$ 4 miliar untuk Covac, program yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk membeli vaksin dan didistribusikan ke seluruh dunia.

Langkah Biden tersebut sejalan dengan mitra-mitra Amerika yang kembali memfokuskan bobot kolektifnya pada pemulihan pandemi Covid-19 dan perubahan iklim, pascadrama yang terjadi di era pemerintahan Donald Trump.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson – yang menjadi ketua pelaksana pertemuan kelompok G-7 tahun ini – dijadwalkan memulai pembahasan virtual pada siang waktu setempat. Dia juga berjanji merilis kelebihan vaksin virus corona untuk negara-negara miskin di masa depan.

Sedangkan Uni Eropa (UE) mengumumkan pada Jumat, bakal melipatgandakan kontribusinya untuk program vaksinasi Covid-19 global Covax menjadi satu miliar euro (US$ 1,2 miliar).

Menurut Kepala UE Ursula von der Leyen, peningkatan pendanaan dari anggaran blok tersebut, dan janji bantuan 100 juta euro lebih lanjut bertujuan mendukung perang melawan virus di Afrika. Demikian disampaikan dalam tautan video pertemuan G-7.

Namun Presiden Prancis Emmanuel Macron menuntut negara-negara kaya mengambil langkah lebih jauh, dengan mentransfer 3%-5% dari stok vaksin mereka ke Afrika.

“Ini adalah percepatan ketidaksetaraan global luar biasa dan secara politik juga tidak berkelanjutan karena membuka jalan bagi perang pengaruh atas vaksin,” ujar dia kepada Financial Times, yang dikutip AFP.

Sementara itu, Rusia dan Tiongkok meningkatkan distribusi vaksin mereka sendiri secara gratis atau dengan harga murah.

Menurut Menteri Luar Negeri (Menlu) junior Inggris James Cleverly, tugas pertama pemerintah adalah melindungi rakyatnya sendiri.

“Tapi kami juga merupakan kekuatan global untuk kebaikan, dan itulah mengapa kami memimpin dunia dalam seruan guna memastikan bahwa negara-negara termiskin di dunia juga dalam keadaan aman. Dan kami tidak akan menggunakan distribusi vaksin karena pengaruh diplomatik jangka pendek – seperti yang dilakukan beberapa negara,” katanya kepada radio BBC.

Tiongkok Absen

Usai mengikuti pertemuan puncak G-7, Biden, Johnson dan para pemimpin negara Uni Eropa di G-7 akan bergabung dengan pertemuan online lainnya yakni Konferensi Keamanan Munich tahunan untuk memperbarui kerja sama transatlantik.

Biden sendiri akan menjadi presiden AS pertama yang berpidato di pertemuan Munich. Hal ini menggarisbawahi perubahan yang menentukan menyusul kehancurak kerja sama di bawah pendahulunya Donald Trump – yang kerap berjalan sendirian.

Sejak menjabat bulan lalu, Demokrat telah kembali berkomitmen pada Amerika Serikat untuk menjalankan penanganan pemanasan global dan kembali ke dalam Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pada Jumat secara resmi menandai masuknya AS kembali ke Pakta Iklim Paris.

“Partisipasi Biden baik dalam pertemuan G-7 dan Munich menandai seruan luas, percaya diri, dan tegas agar aliansi transatlantik dan kemitraan berdiri bersama,” ungkap seorang pejabat senior pemerintahan Biden kepada wartawan.

Namun, Biden tetap mempertahankan satu perspektif Trump, yakni ketidakpercayaan terhadap Tiongkok. Negeri Tirai Bambu itu juga bukan bagian dari G-7 – yang terdiri atas Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, dan AS – sedangkan AS tengah memposisikan ulang negara demokrasi yang kaya sebagai penyeimbang Tiongkok di tengah ketidakpercayaan terhadap penanganan awal Covid-19.

Perjanjian Pandemi

Sementara itu, Inggris ingin kelompok G-7 mendukung perjanjian pandemi yang diusulkan untuk meningkatkan peringatan dini, dan transparansi data jika terjadi wabah serupa di masa depan. Inggris menyangkal bahwa usulannya diartikan sedang mengincar Tiongkok. Namun kenyataan di lapangan. Tiongkok telah berulang kali dituduh menutupi kemunculan virus pada akhir 2019 dan menghilangkan informasi-informasi awal penting dari WHO.

Johnson juga akan memanfaatkan momen pertemuan G-7 untuk mendorong WHO, dan ilmuwan internasional mengerjakan pengembangan vaksin baru hanya dalam 100 hari. Hal ini akan mewakili penurunan dramatis atas 300 hari ganjil yang diperlukan untuk menghasilkan vaksin melawan virus corona.

“Pengembangan vaksin virus corona yang layak menawarkan prospek menggiurkan untuk kembali ke normalitas, tetapi kita tidak boleh berpuas diri. Sebagai para pemimpin dari kelompok G-7, kita harus mengatakan hari ini 'tidak pernah terjadi lagi',” tutur Johnson.

Sekarang, setelah kampanye vaksinasi yang bergerak semakin cepat – setidaknya di Barat – para pemimpin kelompok G-7 juga berharap melewati pandemi menuju pemulihan keuangan, setelah peenrapan aturan karantina (lockdown) yang menghancurkan banyak negara.

“Presiden Biden juga akan membahas kebutuhan melakukan investasi untuk memperkuat daya saing kolektif kita, dan pentingnya memperbarui aturan global demi mengatasi tantangan-tantangan ekonomi, seperti yang ditimbulkan oleh Tiongkok,” demikian pernyataan Gedung Putih.

Selain itu, Biden bakal mempromosikan agenda-agenda tindakan yang kuat untuk mengatasi krisis iklim global. Di saat Inggris bersiap menjadi tuan rumah pertemuan puncak iklim PBB berikutnya (COP26) di kota Glasgow, Skotlandia pada November mendatang.

Pelaksanaan COP26 akan mengakhiri tahun diplomatik sibuk yang akan menyempurnakan visi Johnson tentang “Inggris Global” setelah keluar dari blok UE atau Brexit. Dia pun berharap menjadi tuan rumah pelaksanaan pertemuan G-7 secara langsung pada Juni, di sebuah resor di barat daya Inggris.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN