Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden. ( Foto: AL DRAGO / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden. ( Foto: AL DRAGO / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Perselisihan Kapal Selam

Biden Minta Langsung Bicara dengan Macron

Senin, 20 September 2021 | 06:37 WIB
Iwan Subarkah (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

PARIS, investor.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden pada Minggu (19/9) meminta langsung bicara dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron. Ia berusaha meredakan ketegangan, yang jarang terjadi di antara dua negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) tersebut, terkait perselisihan pembelian kapal selam.

Pada hari yang sama, Perdana Menteri (PM) Australia Scott Morrison membantah tuduhan Prancis bahwa pihaknya telah berdusta tentang rencana pembatalan kontrak pembelian kapal selam Prancis. Menurut Morrison, ia sudah beberapa bulan lalu mengutarakan kekhawatiran-kekhawatiran akan kesepakatan tersebut.

Prancis marah lantaran Australia membatalkan kesepakatan dengan negaranya dan memilih kapal selam nuklir buatan AS. Macron sampai menarik duta besar (dubes) Prancis untuk Canberra dan Washington.

Tapi juru bicara Pemerintah Prancis Gabriel Attal mengatakan pada Minggu, Biden dan Macron akan berbicara melalui sambungan telepon dalam beberapa hari ke depan. Biden yang meminta pembicaraan ini.

Attal mengatakan, Macron akan meminta klarifikasi dari Biden terkait pengumuman pakta pertahanan baru antara AS, Australia, dan Inggris. Pakta tersebut yang mendorong Australia membatalkan kontrak bernilai tinggi untuk pembelian kapal selam hibrid diesel-listrik buatan Prancis.

“Kami akan meminta penjelasan. AS harus menjelaskan apa yang tampaknya merupakan sebuah pelanggaran kepercayaan berat,” ujar Attal.

Sementara Morrison berkukuh bahwa ia dan para menterinya tidak pernah menutup-nutupi permasalahan terkait kapal selam Prancis.

“Saya pikir mereka seharusnya sangat tahu bahwa kami memiliki kekhawatiran-kekhawatiran besar dan mendalam. Kami sudah menegaskan akan mengambil keputusan berdasarkan kepentingan nasional strategis kami,” ujar Morrison, kepada wartawan di Sydney.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Prancis Yves Le Drian pada Sabtu (18/9) secara terang-terangan mengungkapkan kemarahan kepada Australia, AS, dan Inggris. Pakta keamanan trilateral tersebut diumumkan pada Rabu pekan lalu.

“Telah terjadi kebohongan, muslihat, pelanggaran kepercayaan berat dan penghinaan,” ujar Le Drian kepada televisi France 2.

Penarikan dubes tersebut baru pertama kalinya dilakukan dalam hubungan negara-negara yang terlibat. Menurut Le Drian, langkah itu diambil untuk menunjukkan bahwa Prancis sangat kecewa dan bahwa ada krisis serius di antara negara-negara yang terlibat.

Bantah-Membantah

Prancis dan Australia menandatangani kontrak pembelian kapal selam konvensional senilai US$ 36,5 miliar itu pada 2016. Morrison mengaku bisa memahami kekecewaan Prancis.

“Tapi saya tidak menyesali keputusan untuk mendahulukan kepentingan nasional Prancis. Tidak akan pernah,” ujar dia.

Menteri Pertahanan (Menhan) Australia Peter Dutton juga berkukuh bahwa negaranya sudah terang-terangan, terbuka, dan jujur kepada Prancis mengenai kekhawatiran-kekhawatiran dari kesepakatan tersebut. Namun hal ini dibantah oleh Menhan Prancis Florence Parly.

“Pernyataannya tidak akurat. Kami belum pernah diberi tahu tentang niatan-niatan Australia,” ujar dia, saat berkunjung ke Niger.

Menteri Keuangan (Menkeu) Australia Simon Birmingham mengatakan bahwa pihaknya akan mengupayakan pemulihan hubungan yang kuat dengan Prancis hingga ke masa-masa mendatang.

Biden yang mengumumkan aliansi pertahanan baru tiga negara tersebut. Hal ini dipandang untuk meladeni kemunculan Tiongkok di kawasan. Bagian dari kesepakatan adalah perpanjangan teknologi kapal selam nuklir AS kepada Australia, juga mencakup pertahanan siber, kecerdasan buatan terapan, dan teknologi-teknologi bawah laut.

Tapi Le Drian menyebutnya sebagai menikam dari belakang. Tindakan pemerintahan Biden, kata dia, tidak ada bedanya dengan pemerintahan AS era Donald Trump, yang suka tiba-tiba mengubah kebijakan dengan sekutu-sekutu lamanya di Eropa.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN