Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden. ( Foto: BRENDAN SMIALOWSKI / AFP )

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden. ( Foto: BRENDAN SMIALOWSKI / AFP )

Biden Naikkan Pajak Orang Kaya

Rabu, 28 April 2021 | 06:08 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

WASHINGTON, investor.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden akan mengusulkan kenaikan pajak atas keuntungan investasi dari orang-orang terkaya. Uangnya akan dipakai untuk membiayai rencana baru pemerintah untuk membantu keluarga-keluarga di AS.

Biden minggu ini dijadwalkan mengumumkan program Rencana Keluarga Amerika (American Families Plan/ AFP) senilai US$ 1,8 triliun. Dana dari kenaikan pajak tersebut akan digunakan untuk memberikan perawatan anak secara nasional, cuti keluarga dalam tanggungan, dan perguruan tinggi komunitas gratis.

Kenaikan pungutan atas keuntungan yang diperoleh dari penjualan saham, properti, dan aset-aset lainnya itu hanya akan menimpa individu yang berpenghasilan US$ 1 juta setahun. Hanya sebagian kecil dari para pembayar pajak di AS. Menurut Brian Deese, kepala Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih, jumlahnya 500.000 orang.

"Perubahan ini hanya akan berlaku terhadap nol koma nol nol tiga persen dari wajib pajak, bukan kelompok satu persen teratas, dan bukan separuh teratas pula dari yang satu persen teratas itu," kata Deese, seperti dikutip AFP, Senin (26/4) waktu setempat.

Ia merujuk pada data pajak tahun 2018. Perubahan tersebut, tambah Deese, akan membantu untuk memenuhi kebutuhan biaya investasi tersebut dalam jangka panjang.

"Dengan melakukan reformasi atas tarif pajak, kami juga menghargai pekerjaan dan bukan hanya kekayaan," ujar Deese.

Ia tidak memberikan rincian tentang rencana kenaikan pajak itu. Tetapi laporan media pekan lalu, ang mengutip para pejabat AS, menyebutkan bahwa pemerintahan Biden akan menaikkan tarif pajak atas capital gain menjadi 39,6% dari 20%.

Ditambah dengan pajak 3,8% yang dibebankan kepada investor kaya untuk membayar program asuransi kesehatan Obamacare, tarif pajak capital gain tertinggi bisa naik menjadi 43,4%. Atau yang tertinggi sejak 1920-an, menurut kelompok riset independen Tax Foundation. Tetapi Deese membela rencana kenaikan pajak tersebut.

“Kami yakin ini tidak hanya adil, tetapi juga akan membantu mengurangi jenis penghindaran pajak yang secara signifikan merusak kepercayaan dan keadilan dalam aturan perpajakan itu sendiri. Dan yang terpenting, penerimaannya akan membantu untuk investasi langsung bagi anak-anak kita dan keluarga kita, maupun daya saing ekonomi masa depan kita. Serta menempatkan kita pada posisi di mana kita dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih besar,” jelasnya.

Biden dijadwalkan berpidato di sesi gabungan Kongres pada Rabu (28/4) malam waktu setempat. Ia akan mengatakan bahwa orang-orang kaya harus membayar sesuai porsinya untuk mendanai prioritas kebijakannya tersebut. Sikap itu juga tercermin dari pandangan sebagian besar warga AS dalam jajak pendapat baru-baru ini.

Rencana infrastruktur senilai US$ 2 triliun akan dibayar sebagian dari kenaikan pajak korporasi.

Tetapi Partai Republik dan kelompok bisnis telah menyatakan penolakan terhadap kenaikan pajak apa pun. Menurut mereka, hal itu akan menghambat investasi swasta.

Biden juga mendapat dukungan dari pemerintah Jerman dan Prancis pada Selasa, terkait usulan untuk memberlakukan pajak perusahaan minimum global sebesar 21%. Usulan ini akan menargetkan perusahaan multinasional besar seperti Amazon dan Google.

"Orang sudah muak dengan perusahaan besar karena tidak membayar bagian pajak sesuai porsinya," ujar Menteri Keuangan Prancis Bruno Le Maire kepada mingguan Jerman Die Zeit.

Menteri Keuangan Jerman Olaf Scholz menambahkan dalam wawancara bersama itu, dirinya tidak menentang saran dari AS.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN