Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi paket stimulus Covid-19 Amerika Serikat (AS). ( Foto: Forbes / Getty )

Ilustrasi paket stimulus Covid-19 Amerika Serikat (AS). ( Foto: Forbes / Getty )

Biden Usulkan Stimulus Ekonomi US$ 1,9 Triliun

Sabtu, 16 Januari 2021 | 05:44 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

WILMINGTON, investor.id – Presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengusulkan suntikan stimulus ekonomi sebesar US$ 1,9 triliun ketika resmi menjabat pada pekan depan. Hal ini seiring bertambahnya bukti-bukti bahwa pemulihan dari tren penurunan tajam, yang disebabkan pandemi virus corona Covid-19, mulai melemah.

Biden sendiri diklaim memiliki kesempatan untuk meloloskan paket bantuan besar-besaran ketiga terkait pandemi Covid-19 di AS, mengingat kontrol Partai Demokrat di Kongres baik Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) maupun Senat.

Usulan yang disebut “Rencana Penyelamatan Amerika” itu dirilis pada Kamis (14/1) waktu setempat, dan mencakup sejumlah tindakan yang bertujuan merevitalisasi negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia.

Dalam proposal tersebut, Biden ingin menaikkan upah minimum federal menjadi US$ 15 per jam serta membantu pemerintah negara bagian dan daerah – yang sedang berjuang – untuk membuka kembali sekolah dengan aman, meluncurkan kampanye vaksinasi Covid-19 besar-besaran, dan meningkatkan nilai cek stimulus yang disetujui Kongres bulan lalu.

“Pengembalian investasi dalam lapangan pekerjaan ini, kesetaraan rasial akan mencegah kerusakan ekonomi jangka panjang, dan manfaatnya akan jauh melebihi biayanya. Pada saat krisis ini, kita tidak bisa membiarkan kelambanan,” ujar Biden dalam pidatonya di Wilmington, Delaware, yang dikutip AFP.

Pemimpin Senat Demokrat Chuck Schumer dan Ketua DPR Nancy Pelosi pun menyambut rencana Biden. Keduanya berjanji untuk menyerahkannya kepada anggota parlemen.

“Kami akan mendapatkan hak bekerja untuk mengubah visi Presiden terpilih Biden menjadi undang-undang, yang akan disahkan oleh kedua majelis dan ditandatangani menjadi undang-undang,” katanya dalam pernyataan bersama.

Namun, itu baru langkah pertama. Menurut para pejabat, Biden bermaksud menyampaikan rencana “pemulihan” kedua kepada anggota parlemen segera setelah dilantik pada 20 Januari guna memacu perekrutan dan memerangi perubahan iklim.

“Kita akan menggunakan dolar (uang) dari para wajib pajak untuk membangun kembali Amerika. Kita akan membeli produk-produk Amerika, mendukung jutaan pekerjaan manufaktur Amerika, meningkatkan kekuatan daya saing kita di dunia yang semakin kompetitif,” ujar Biden.

Di sisi lain, Pemerintah AS pada Kamis melaporkan adanya lonjakan dalam pengajuan tunjangan pengangguran baru di pekan pertama 2021, menjadi hampir satu juta. Ini adalah level tertingginya sejak Agustus.

Sementara itu, data resmi yang dirilis pekan lalu menunjukkan penurunan lapangan pekerjaan pada bulan Desember.

Seperti diketahui, Biden (78 tahun) akan dilantik sebagai presiden AS pada 20 Januari, setelah melalui transisi kacau hingga memunculkan aksi massa yang menyerang gedung Capitol AS – atas desakan Presiden Donald Trump yang kalah dalam pemilihan umum (pemilu) – di saat anggota parlemen menggelar sesi guna mengesahkan kemenangan hasil pemilihan presiden (pilpres).

Joe Biden, presiden terpilih Amerika Serikat (AS). ( Foto: CHANDAN KHANNA / AFP )
Joe Biden, presiden terpilih Amerika Serikat (AS). ( Foto: CHANDAN KHANNA / AFP )

Mempertahankan Program Bantuan

Menurut laporan, proposal stimulus yang diajukan Biden dibangun di atas dua paket bantuan besar-besaran yang disetujui Kongres pada 2020. Kedua stimulus ini mengalami peningkatan dan meluas hingga ke tunjangan pengangguran September, sehingga dapat membantu puluhan juta masyarakat untuk membayar tagihannya pasca kehilangan pekerjaan selama pandemi.

Proposal itu juga menyerukan untuk merancang cara mempertahankan program-program tersebut jika angka pengangguran tetap tinggi. Sekaligus terus memperluas bantuan makanan pemerintah, mengingat kondisi negara yang sedang berjuang menghadapu beberapa tingkat kelaparan tertinggi di zaman modern.

Namun ada kontroversi yang menunggu dari penyediaan dana sebesar US$ 350 miliar yang diusulkan kepada pemerintah negara bagian dan lokal – yang sempat dihalangi anggota parlemen Republik sepanjang tahun lalu. Hal ini berpotensi menantang langkah presiden terpilih untuk meningkatkan besaran nilai cek stimulus yang diterima warga negara Amerika dalam paket Desember menjadi US$ 2.000, guna memenuhi janji kampanye.

Dengan mayoritas paling tipis di Kongres, tmpaknya Demokrat masih harus membujuk beberapa Partai Republik jika ada orang di partai mereka yang melanggar.

Salah seorang senator Demokrat telah menyatakan keraguannya atas penambahan pembayaran stimuls. Tetapi awal pekan ini, Senator Republik Marco Rubio mengatakan kepada Biden, akan mendukung bantuan tambahan.

Proposal tersebut juga menyerukan bantuan US$ 160 miliar untuk melawan Covid-19, termasuk pelaksanaan kampanye vaksinasi nasional, dan US$ 170 miliar untuk membuka sebagian besar institusi pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak hingga siswa kelas delapan dalam 100 hari pertama pemerintahan Biden.

Aspek lain dari rencana Biden berikutnya, adalah menambah kredit pajak yang bertujuan memerangi kemiskinan dan membantu orang tua yang bekerja untuk menitipkan anak-anak, ditambah dengan memperpanjang moratorium penggusuran.

Rencana tersebut menawarkan kredit dan hibah yang fleksibel bagi usaha kecil yang merupakan pemberi kerja besar. Namun selama pandemi, mereka harus berjuang untuk bertahan hidup karena negara memberlakukan pembatasan untuk menghentikan virus.

Sebelum ada penjelasan secara rinci, Michael Feroli dari JP Morgan memperkirakan Kongres dapat mengurangi usulan stimulus Biden hingga kisaran US$ 900 miliar, sesuai dengan yang disetujui bulan lalu.

“Bahkan jumlah yang lebih kecil akan mendorong pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) tahun ini menjadi 5,3% dan pada 2022 menjadi 2,6%,” kata Feroli, seraya menambahkan bahwa perkiraan perubahan haluan yang luar biasa ini turut dibantu oleh inflasi yang dapat diabaikan, dan pemeliharaan suku bunga pinjaman yang rendah oleh The Federal Reserve (The Fed).


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN