Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi bitcoin dan emas batangan. ( Foto: irishtechnews.ie )

Ilustrasi bitcoin dan emas batangan. ( Foto: irishtechnews.ie )

Bitcoin Dapat Menggantikan Emas

Kamis, 10 Juni 2021 | 06:34 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

NEW YORK, investor.id – Pendiri dan Managing Partner SkyBridge Capital Anthony Scaramucci mengatakan bahwa para investor harus menerima lintasan dan level volatilitas bitcoin, mengingat mata uang digital ini semakin banyak diadopsi secara global.

Dia menambahkan bahwa bitcoin masih dalam tahap adopsi awal dan akan menjadi pengganti emas. Scaramucci juga mengungkapkan, SkyBridge Capital memiliki sekitar US$ 500 juta dalam bentuk bitcoin.

“Saya akan menunjukkan bahwa bitcoin masih naik tahun ini, jadi sebenarnya kinerjanya tahun ini sangat bagus. Kami sebenarnya menyukai karakteristik terbalik dan bersedia menerima volatilitas dalam bitcoin,” ujar dia dalam program CNBC “Capital Connection” pada Selasa (8/6).

Sebagai informasi, setelah mencapai level tertinggi sepanjang masa di atas US$ 63.000 pada April, harga bitcoin dilaporkan jatuh dengan cepat dalam hitungan pekan. Bahkan pada satu titik mencapai lebih dari separuh dari harga tertinggi sebelumnya. Namun, bitcoin naik lebih dari 10% sejak awal 2021.

Data dari Coin Metrics pada Rabu (9/6), pukul 02.35 pagi waktu setempat menunjukkan harga bitcoin berada di kisaran US$ 33.744.

Menurut CoinMarketCap, bitcoin – sebagai mata uang kripto (cryptocurrency) terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar – sering dianggap sebagai rival potensial emas untuk penyimpan nilai jangka panjang. Namun saat ini, harga bitcoin cenderung lebih fluktuatif secara eksponensial daripada emas.

“Jika Anda kembali ke masa IPO Amazon pada 1997. Jika Anda memiliki sahamnya itu, nilai US$10.000 dari saham itu pada IPO-nya sekarang bernilai US$24 juta. Tetapi Anda akan mengalami delapan periode waktu di mana saham turun setidaknya 50% karena mengalami penyesuaian, sesuai dengan hukum Metcalfe,” ungkap Scaramucci.

Sebagai informasi, hukum Metcalfe menyatakan bahwa nilai jaringan sebanding dengan kuadrat penggunanya.

“Departemen penelitian Skybridge memperkirakan, pengguna bitcoin mencapai satu miliar pada 2025, dibandingkan 125 juta yang tercatat saat ini,” tambah Scaramucci.

Pikirkan sistem telepon di masa awal 1900-an, lanjut Scaramucci, ketika orang-orang mulai membeli telepon itu dan terhubung satu sama lain. “Itulah yang terjadi pada bitcoin saat ini. Saya sangat yakin bahwa kita akan duduk di sini satu atau dua tahun dari sekarang dan berbicara tentang volatilitas ini, tetapi juga kagum dengan lintasan naik bitcoin selama 24 bulan ke depan,” katanya.

Pedang Bermata Dua

Di sisi lain, para regulator telah berulang kali mengkritik pertumbuhan mata uang kripto, seperti bitcoin karena popularitasnya di kalangan penjahat. Namun sistem transaksi transparan teknologi itu juga dapat digunakan untuk melawan para pelanggar hukum. Hal ini membuat bitcoin ibarat pedang bermata dua.

Belajar dari kasus peretasan yang dilakukan penjahat dunia maya Darkside, mereka menggunakan cara sulit untuk mengekstraksi uang tebusan sebesar nilai US$ 4,4 juta dari perusahaan minyak Colonial Pipeline ke dalam bentuk bitcoin.

Menyusul insiden pemerasan ransomware, yang memicu penutupan sementara jaringan pipa penyalur bahan bakar utama di bagian timur Amerika Serikat (AS) pada bulan lalu, Departemen Kehakiman AS mengatakan sudah berhasil menyita kembali uang tebusan sebanyak US$2,3 juta dengan menelusuri transaksi keuangan.

“Mengikuti jalur uang tetap menjadi salah satu alat paling dasar, namun kuat, yang kami miliki,” ujar Wakil Jaksa Agung AS Lisa Monaco, pada Senin, yang dikutip AFP.

Forensik keuangan untuk melacak transaksi kripto diklaim lebih kompleks terhadap jaringan yang terdesentralisasi dan anonim.

Pada sistem pembayaran tradisional lewat bank, polisi dapat beralih ke bank yang mengirim atau menerima uang. Sedangkan untuk melacak transaksi bitcoin, kantor pendaftaran yang mencatat transaksi ini – yakni blockchain – tidak meminta penggunanya untuk mengungkap identitas mereka.

Namun blockchain juga bersifat publik, dapat diunduh semua orang dan mengumpulkan siapa yang mungkin memiliki alamat anonim tempat bitcoin tiba. Bahkan beberapa pengguna menyimpan bitcoin mereka dengan aman di dompet offline, semisal dalam USB atau hard drive. Sementara bitcoin Darkside selalu ditautkan ke akun daring (online).


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN