Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Logo British Steel terpampang di luar pabrik Scunthorpe, milik British Steel, di Lincolnshire utara, Inggris timur laut. ( Foto:  AFP / Lindsey Parnaby )

Logo British Steel terpampang di luar pabrik Scunthorpe, milik British Steel, di Lincolnshire utara, Inggris timur laut. ( Foto: AFP / Lindsey Parnaby )

British Steel Dibeli Perusahaan asal Tiongkok

Iwan Subarkah Nurdiawan, Selasa, 12 November 2019 | 15:20 WIB

LONDON, investor.id – Raksasa industrial Tiongkok Jingye Group pada Senin (11/11) sepakat membeli perusahaan baja Inggris yang bangkrut, British Steel. Nilai transaksinya tidak diumumkan.

“Kantor Penerima dan Manajer Khusus dari EY dapat mengonfirmasikan telah terjadi kontrak jual beli yang mana Jingye Steel Ltd dan Jingye Steel Holding Ltd mengakuisisi aset-aset dan bisnis British Steel Limited,” bunyi pernyataan pihak kantor tersebut.

Kesepakatan ini masih harus mendapatkan persetujuan regulator. Juru bicara Jingye sebelumnya membenarkan ketua dewan direksi grup perusahaan berada di Inggris untuk negosiasi bisnis.

Sumber sebelumnya mengatakan bahwa Jingye membeli British Steel senilai 70 juta pound atau setara US$ 90 juta. British Steel dilikuidasi pada Mei 2019.

Lembaga dana militer Turki, OYAK, pada bulan lalu menarik diri dari kesepakatan untuk menyelamatkan British Steel. Pemilik perusahaan baja ini, Greybull Capital, menyalahkan Brexit sebagai penyebab malapetaka finansialnya.

Sementara itu, Asosiasi Baja Eropa sebelumnya mendesak Uni Eropa (UE) membantu sektor baja Eropa, yang kewalahan oleh banjir baja murah dari Asia, sejak Amerika Serikat (AS) mengenakan tarif impor atas baja Eropa pada 2018.

Adapun Pemerintah Inggris, walaupun tidak menjadikan produsen baja itu sebagai milik negara, pada Mei menyatakan akan tetap membayar gaji para karyawannya, dengan harapan dapat menemukan pembeli.

Jumlah karyawan British Steel sekitar 5.000 orang. Sementara pekerja yang secara tidak langsung terhubung kepadanya mencapai 20.000 orang.

Sebanyak 4.000 karyawan Britith Steel bekerja di Inggris. Sedangkan 1.000 lainnya berbasis di Prancis dan Belanda.

“Jika (penyelamatan) ini terkonfirmasi, kami menyambut baik langkah positif untuk menyelamatkan British Steel di bawah kepemilikan yang baru,” kata juru bicara sebuah serikat kerja di Inggris, Community.

Greybull Capital mendirikan British Steel, yang menghasilkan produk-produk baja batangan panjang, pada 2016 setelah mengambil alih asest-aset Tata Steel.

Produk baja batangan panjang mencakup pelat, rel untuk kereta api, baja untuk konstruksi, dan batang kawat. Produk batang kawat dapat dijadikan tambang baja untuk infrastruktur, seperti jembatan gantung atau filamen untuk ban mobil agar kokoh.

Jingye yang berbasis di Hebei, Tiongkok memiliki spesialisasi di industri baja dan besi. Tapi juga berinvestasi di sektor pariwisata, perhotelan, dan properti. Grup usaha ini memiliki total aset US$ 5,5 miliar dengan 23.500 pekerja. (afp/sn)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA