Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Calon presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat, Joe Biden. ( Foto: ALEX WONG / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / GETTY IMAGES VIA AFP )

Calon presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat, Joe Biden. ( Foto: ALEX WONG / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / GETTY IMAGES VIA AFP )

Capres Biden Berencana Gabungkan Pajak Federal dan Negara Bagian

Rabu, 21 Oktober 2020 | 06:36 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

NEW YORK, investor.id – Calon presiden (capres) Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat, Joe Biden berencana menggabungkan pajak federal dan negara bagian dalam kampanye pemilihan presiden (pilpres). Menurut para ahli, rencana tersebut dapat membuat kalangan masyarakat berpenghasilan tinggi di New York dan California dihadapkan pada gabungan tarif pajak sebesar 62%.

Sementara itu analisis non-partisan mengatakan, berdasarkan usulan Biden, bagi masyarakat Amerika yang berpenghasilan rata-rata kurang dari US$ 400.000 akan menerima pengurangan pajak. Sedangkan masyarakat berpenghasilan tinggi bakal menghadapi kenaikkan sebanyak dua digit dalam tarif pajak resmi mereka.

Sebagai informasi, di California, New Jersey dan Kota New York, para wajib pajak yang berpenghasilan lebih dari US$ 400.000 setahun dapat menghadapi gabungan tarif pajak penghasilan negara bagian dan lokal lebih dari 60%.

Menurut perhitungan Jared Walczak dari Tax Foundation, di usulan pajak Biden, masyarakat California berpenghasilan teratas dapat dikenai pajak negara bagian dan federal sebanyak 62,6%. Sedangkan di New Jersey, tingkat gabungan pajak bisa lebih dari 60%. Sementara itu di negara bagian New York bisa mencapai 58,2%. Bahkan di Kota New York sendiri – rumah bagi sebagian besar masyarakat berpenghasilan tinggi – tarif pajak pendapatan gabungan kota, negara bagian, dan federal akan sedikit di atas 62%.

Tentu saja, hanya sedikit para wajib pajak yang membayar tarif menurut undang-undang sepenuhnya, yang mengecualikan pengurangan, kredit, penggantian kerugian, celah, dan tarif pajak yang lebih rendah pada sumber pendapatan lain. Meskipun tarif pajak tertinggi menurut undang-undang (UU) AS saat ini adalah 37%, tarif efektif (yang sebenarnya dibayar para wajib pajak dengan bantuan dari akuntan mereka) untuk orang-orang berpenghasilan teratas adalah 26,8%. Demikian menurut Tax Foundation.

Dalam kampanye pemilihan presiden (pilpres), Biden menuturkan bahwa yang penting bagi para wajib pajak dan ekonomi adalah tarif efektif, bukan tarif berdasarkan undang-undang.

Menurut Pusat Kebijakan Pajak atau Tax Policy Center, berdasarkan rencana Biden, tarif pajak efektif untuk 1% yang berpenghasilan tertinggi akan meningkat dari 26,8% menjadi 39,8%. Itu berarti orang-orang berpenghasilan tertinggi di California dan Kota New York akan membayar tarif pajak negara bagian dan federal yang efektif sekitar 53%, dibandingkan dengan sekitar 40% yang mereka bayar dengan tarif efektif saat ini.

Di samping itu, jika Partai Demokrat memenangkan Senat, dan dapat mengesahkan undang-undang yang menghapus batasan US$ 10.000 untuk potongan pajak negara bagian dan lokal, maka tarif pajak gabungan negara bagian dan lokal untuk golongan berpenghasilan tertinggi bisa lebih rendah.

Namun secara resmi, tarif pajak gabungan lebih dari 60% untuk yang berpenghasilan teratas akan menjadi yang tertinggi dalam lebih dari 30 tahun. Bahkan jauh di atas tarif yang ditetapkan pemerintahan Barack Obama. Ada pun pendorong utama rencana Biden ini adalah kenaikan tarif pajak marjinal teratas yakni dari 37% menjadi 39,6%, dan pajak gaji tambahan sebesar 12,4% bagi orang-orang berpenghasilan lebih dari US$ 400.000 setahun, yang dibagi antara karyawan dan perusahaan. Ditambahkan oleh Walczak, ketentuan lain dalam rencana Biden adalah, tarif pajak federal teratas akan menjadi 49,338%.

Di sisi lain, tambahan tarif tertinggi di California mencapai sebesar 13,3% di mana gabungan tarif pajak penghasilan marjinal teratas untuk warga California berpenghasilan tertinggi bakal menjadi 62,64%. Di New Jersey, yang memiliki tarif tertinggi 10,75% untuk masyarakat yang menghasilkan lebih dari US$ 1 juta, tarif gabungan teratas menjadi 60,1%. Kemudian di negara bagian New York, tarif gabungan akan menjadi 58,2%, namun di Kota New York tarif gabungan akan menjadi 62%.

Walczak menyampaikan, jika Anda memasukkan kontribusi kenaikan pajak oleh para pemberi kerja, yang sering diteruskan ke karyawan, maka tarif gabungan akan naik lebih jauh yakni menjadi lebih dari 65% di California, 62,9% di New Jersey dan 64,7% di Kota New York.

“Tarif pajak juga bisa melompat lebih tinggi jika California dan New York menaikkan pajak bagi mereka yang berpenghasilan tinggi, yang telah diusulkan beberapa legislator untuk mengurangi kesenjangan anggaran yang mencapai miliaran dolar. Tarif ini akan menjadi yang tertinggi dalam sekitar 3,5 dekade, dan dikenakan pada basis pajak yang lebih luas daripada yang diberlakukan sebelumnya,” ujar Walzcak, seperti dilansir CNBC, Selasa (20/10).

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN