Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden. ( Foto: Nicholas Kamm / AFP )

Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden. ( Foto: Nicholas Kamm / AFP )

Cara Biden Meyakinkan Rakyat AS Terkait Lonjakan Inflasi

Kamis, 25 November 2021 | 06:51 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

WASHINGTON, investor.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden memanfaatkan cadangan minyak strategis untuk meyakinkan rakyat AS, di tengah kritikan atas kenaikan inflasi dan kelangkaan barang menjelang Thanksgiving. Keputusan tersebut juga dinilai sebagai usaha mengangkat tingkat dukungan dari rakyatnya di dalam negeri, yang saat ini merosot.

Biden mengumumkan rencana terkoordinasi dengan konsumen besar lainnya untuk mendistribusikan cadangan minyak ke pasar. Ini didorong desakan ketidakpuasan yang meningkat di seluruh negeri atas inflasi, terutama kenaikan harga bahan bakar.

Pemerintah mengatakan bahwa setelah berminggu-minggu negosiasi, penggunaan cadangan minyak akan dilakukan secara paralel bersamaan negara konsumen energi utama lainnya termasuk Tiongkok, India, Jepang, Republik Korea, dan Inggris.

"Ini akan memakan waktu, tetapi tidak lama lagi Anda akan melihat harga gas turun," kata Biden dalam pidatonya di Gedung Putih, Rabu (24/11).

Pemerintah Tiongkok dan Jepang mengkonfirmasi pada Rabu mengonfirmasi bahwa mereka akan bergabung dengan AS. Tetapi keduanya hanya memberikan sedikit rincian.

Sementara itu, dalam rata-rata jajak pendapat terbaru dari fivethirtyeight.com, peringkat persetujuan Biden hanya mencapai 42,8% dengan 52,2% tidak setuju dengan kepemimpinannya.

Biden mengatakan harga bensin di pasar grosir telah turun sekitar 10% dalam beberapa tahun terakhir, tetapi harga di pompa tidak bergerak.

"Dengan kata lain, perusahaan pemasok gas membayar lebih kecil dan menghasilkan lebih besar," katanya.

Ia menuduh perusahaan-perusahaan itu mengantongi selisih harga grosir dan harga eceran. Partai oposisi Republik tidak terkesan dengan jaminan Biden tentang penyadapan cadangan minyak.

"Kepemimpinan Joe Biden yang gagal menyebabkan harga meroket. Sekarang keluarga Amerika membayar lebih untuk gas, bahan makanan, dan semuanya pada Thanksgiving ini," kata ketua Komite Nasional Partai Republik Ronna McDaniel dalam sebuah pernyataan.

Lapangan kerja AS meningkat pesat, upah naik, dan pasar saham semakin tinggi. Tetapi inflasi, terutama untuk harga bahan bakar, tidak membaik.

Harga bahan bakar rata-rata di stasiun-stasiun pengisian adalah US$ 3,41 per galon, level tertinggi sejak 2014 menurut angka terbaru dari asosiasi pengendara AS (AAA). Ini menunjukkan peningkatan harga US$ 1,29 dibandingkan harga setahun yang lalu.

Biaya transportasi yang tinggi juga menimbulkan biaya dan kelangkaan di seluruh perekonomian. Masalah pasokan juga mempengaruhi banyak hal, mulai dari mobil bekas hingga pakaian.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN