Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seorang wanita berjalan di depan polisi anti huru hara selama unjuk rasa mendukung pemimpin oposisi Alexei Navalny yang dipenjara di Moskow pada 31 Januari 2021. ( Foto: Alexander Nemenov / AFP )

Seorang wanita berjalan di depan polisi anti huru hara selama unjuk rasa mendukung pemimpin oposisi Alexei Navalny yang dipenjara di Moskow pada 31 Januari 2021. ( Foto: Alexander Nemenov / AFP )

Cegah Aksi Unjuk Rasa, Polisi Tutup Pusat Kota Moskow

Senin, 1 Februari 2021 | 06:45 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

MOSKOW, investor.id – Polisi menerapkan lockdown atau menutup pusat kota Moskow, dan kota-kota lain di Rusia pada Minggu (31/1) menyusul aksi unjuk rasa yang dilakukan demonstran di jalan-jalan seluruh Negeri Beruang Merah. Aksi ini menuntut pembebasan kritikus Alexei Navalny yang dipenjara oleh Kremlin.

Ratusan polisi dengan perlengkapan anti huru hara terlihat berjaga-jaga di di jalan-jalan ibu kota Rusia, sejak Minggu pagi. Mereka juga membatasi pergerakan pejalan kaki di sekitar pusat. Bahkan dalam tindakan luar biasa yang jarang terjadi itu, otoritas kota Moskow tutut menutup beberapa stasiun Metro pusat dan mengalihkan transportasi darat.

Para pendukug oposisi menyerukan demonstrasi di akhir pekan kedua setelah puluhan ribu orang menggelar protes di seluruh negeri pada Sabtu lalu atas penangkapan lawan Presiden Vladimir Putin, Navalny yang menarik perhatian.

Menurut pemantau independen OVD-Info, aksi protes yang dimulai di Moskow dan Saint Petersburg mengakibatkan sedikitnya 650 orang telah ditahan di seluruh negeri. Kelompok pemantau itu melaporkan terdapat lebih dari 4.000 penahanan selama asi protes yang diadakan akhir pekan lalu.

Sebagai informasi, Navalny ditahan di bandara Moskow pada pertengahan Januari setelah terbang kembali ke Rusia dari Jerman. Tempat di mana dia memulihkan diri dari keracunan yang dialami pada Agustus, yang diduga dilakukan oleh Kremlin.

Pegiat kampanye anti korupsi berusia 44 tahun itu ditahan di pusat penahanan Moskow, dan menghadapi potensi hukuman penjara selama bertahun-tahun dalam beberapa kasus kriminal yang berbeda.

Sementara itu, pemeritah Barat menyerukan pembebasan Navalny.

Kemarahan Rakyat

Selain di Moskow, para pengunjuk rasa juga menggelar demontrasi di kota-kota termasuk Vladivostok di Timur Jauh, pada Minggu. Belasan orang tampak berkumpul di alun-alun, meskipun polisi telah menutupnya menjelang aksi protes.

Ribuan orang juga dilaporkan melakukan protes di kota Novosibirsk di Siberia meskipun suhu turun hingga -20 derajat Celcius.

Menurut politisi lokal dan sekutu Angkatan Laut, Helga Pirogova, aksi protes yang dilaksanakan Minggu, di Novosibirsk berpotensi lebih besar daripada sepekan sebelumnya. “Rakyat masih marah dengan apa yang terjadi,” kata pria berusia 32 tahun itu kepada AFP.

Di Moskow sendiri, pihak penyelenggara aksi demonstrasi berusaha keras menangani upaya pencegahan besar-besaran oleh polisi. Mereka pun mengumumkan perubahan pada menit-menit terakhir di lokasi ketika wartawan AFP melihat polisi mulai menahan warga.

Ratusan orang menggelar aksi di pusat kota meneriakkan kata-kata “Kebebasan!” dan “Putin adalah pencuri!”. Sementara itu di kota kedua, polisi Saint Petersburg menutup jalan raya utama Nevsky Prospekt dan memarkir mobilnya di seluruh pusat kota. Demikian laporan wartawan AFP.

“Seluruh pusat kota ditutup. Dan siapa yang dilawannya, melawan rakyat mereka sendiri?” ungkap Natalya Grigoryeva, yang mengikuti aksi unjuk rasa di Saint Petersburg bersama putrinya.

Otoritas Rusia pun telah mengeluarkan beberapa peringatan agar tidak berpartisipasi dalam unjuk rasa tidak sah dan mengancam menjatuhkan tuntutan pidana terhadap para pengunjuk rasa.

Sebagai informasi, Navalny akan diadili dalam beberapa kasus di pekan depan, termasuk pada 2 Februari atas tuduhan melanggar ketentuan hukuman percobaan 2014.

Istri Navalny, Yulia, mengunggah foto keluarganya di Instagram pada Minggu, dan mendesak para pendukung untuk menyuarakan pendapat mereka. “Jika kita tetap diam, maka besok mereka akan datang ke salah satu dari kita,” tulisnya.

Di samping itu, pada pekan ini beberapa rekan Navalny, termasuk pengacara Lyubov Sobol dan saudara lelakinya Oleg, ditempatkan dalam tahanan rumah hingga akhir Maret. Mereka tengah menunggu dakwaan karena melanggar aturan pembatasan terkait virus corona Covid-19 dengan mengajak orang-orang untuk bergabung dalam aksi protes.

Juru bicara Navalny, Kira Yarmysh juga ditahan pada Sabtu malam karena melanggar protokol Covid, pada hari yang sama dia akan bebas setelah menjalani hukuman penjara sembilan hari karena melanggar undang-undang protes.

Menurut Kepala Yayasan Anti-Korupsi Navalny, Ivan Zhdanov, pada Sabtu, Komite Investigasi memberi tahu dia bahwa kasus kriminal atas tuduhan penipuan telah diluncurkan terhadap Navalny.


 


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN