Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Christine Lagarde. Foto: IST

Christine Lagarde. Foto: IST

Christine Lagarde Diwarisi ECB yang Terbelah

Happy Amanda Amalia, Selasa, 22 Oktober 2019 | 17:59 WIB

FRANKFURT AM MAIN, investor.id – Kepergian Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Mario Draghi, setelah memimpin pertemuan terakhir dewan gubernur pada Kamis (24/10), akan mewariskan konflik. Kendati mendapat pujian karena berhasil menyelamatkan mata uang euro, namun dia membuat bank sentral zona euro tersebut terbelah menyusul penerapan kebijakan dana murahnya pada bulan lalu.

Draghi akan diganti oleh Christine Lagarde – mantan direktur pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) – yang bakal menghadapi zona euro, yang sepertinya tengah kehabisan tenaga setelah lima tahun melakukan pemulihan dengan penambahan 11 juta lapangan pekerjaan.

Pekan lalu, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi zona euro tahun ini hanya 1,2%, dan 1,4% pada 2020.

“Pertemuan itu tidak mungkin menjadi perayaan yang baik atas pencapaian yang mungkin diharapkannya. Perhatian akan fokus pada perpecahan yang tumbuh di antara para pembuat kebijakan yang disebabkan oleh paket stimulus pada September,” demikian prediksi analis Jack Allen-Reynolds dari Capital Economics.

Dirk Schumacher dari bank Natixis pun mengamini bahwa di antara dewan yang beranggotakan 25 orang, hilangnya kerja sama tim dan persahabatan kini telah meledak ke publik.

“Masalah itu dengan sendirinya merongrong efektivitas ECB,” kata dia, seraya menambahkan bahwa mereka hanya perlu meyakinkan pengamat agar dapat mendukung ekonomi di masa depan.

Selain terlihat sebagai artis solo yang berhasil membentuk lembaga yang mengarahkan visinya untuk ekonomi zona euro, Draghi juga dipuji, terutama karena menyelamatan mata uang euro selama krisis utang eksistensial.

Adapun penyelamatan yang dilakukan adalah dengan bantuan suntikan uang tunai yang besar dan tingkat suku bunga rendah dalam sejarah. Kebijakan itu membuat dirinya mencapat kecaman dari konservatif, khususnya di Jerman, yang mengatakan dia telah merugikan para nasabah.

Garis Pertempuran

Menurut laporan, sejak 2011 Draghi telah menurunkan tingkat suku bunga ke wilayah negatif, kemudian membeli utang pemerintah dan perusahaan sebesar 2,6 triliun euro (US$ 2,9 triliun), dan mengeluarkan ratusan miliar pinjaman murah ke bank-bank.

Sementara itu, laporan resmi dari pertemuan dewan gubernur ECB pada September menunjukkan kesepakatan luas tentang perlunya langkah-langkah dukungan lebih lanjut, karena perkiraan ECB sendiri menunjukkan inflasi gagal mencapai target di bawah 2% pada 2021.

Tetapi pertikaian muncul tentang seberapa kuat respons yang seharusnya. Paling kontroversial adalah memulai kembali pembelian obligasi quantitative easing (QE), yang sudah tidak digunakan sejak Desember 2018.

Skema tersebut ditujukan mendorong pertumbuhan dan, secara tidak langsung, tingkat inflasi, yang selalu membelah para pembuat kebijakan.

Kali ini, para pendukung berpendapat skema itu harus menangkal guncangan di masa depan yang memengaruhi zona euro dan meningkatnya kekhawatiran deflasi. Sedangkan penentangnya, termasuk gubernur bank sentral Jerman dan Prancis percaya itu akan memiliki “efek minimal”. Demikian disampaikan ekonom Mirabaud bank Valentin Bissat.

Di sisi lain, Allen-Reynolds dari Capital Economics mengingatkan, kepahitan yang menimbulkan pertanyaan tentang legitimasi keputusan, dan apakah dewan bisa setuju untuk memperluas pembelian aset lebih lanjut, jika diperlukan. Selain itu, kebutuhan akan peningkatan stimulus juga tidak dapat dikesampingkan dalam beberapa bulan dan tahun mendatang. (afp/pya)


 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA