Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Clinton Bantu Wong Cilik

Senin, 15 Agustus 2016 | 13:06 WIB
Oleh Iwan Subarkah

Di sisi lain, kata Gallagher, Hillary Clinton tampaknya menyadari beratnya tugas untuk mengangkat perekonomian AS. Tidak mengherankan, dalam rencana ekonominya, Clinton menyentuh masalah-masalah mendasar, seperti bagaimana para pengusaha membutuhkan modal kerja, para komuter membutuhkan transportasi umum yang dapat diandalkan, dan bagaimana anak-anak sekolah membutuhkan akses internet kecepatan tinggi.


“Rencana ekonomi seorang kandidat mencerminkan pandangannya terhadap dunia. Rencana Trump, yang menekankan pemangkasan pajak dan menghapus regulasi-regulasi yang memberatkan, jatuh dari gedung pencakar langit miliknya. Ini pandangan dari ruang direksi, dari tempat transaksi- transaksi besar dituntaskan, dan wong cilik tetap tak terperhatikan,” tutur Gallagher.


Adapun Clinton, lanjut dia, tampak memahami kebutuhan wong cilik. Clinton berharap bisa membantu para pemilik rumah pertama dalam menangani utang. Dia menginginkan remaja-remaja yang rentan masalah untuk bisa bekerja, dan membantu para mantan narapidana kembali menemukan lapangan kerja.


“Rencananya sangat menyentuh ke dasar, seperti mengenai transportasi umum. Dia fokus membenahi trotoar dan jalur sepeda di kota-kota,” kata Gallagher.


Clinton ingin menaikkan pajak pribadi, terutama bagi orang-orang kaya, untuk mendanai program-programnya. Tax Policy Center menyebutkan, kelompok 5% warga berpendapatan tertinggi akan menanggung 90% beban kenaikan pajak.


“Tapi, dampaknya terhadap belanja dan ekonomi diperkirakan kecil, karena orang-orang kaya cenderung menabung, bukan belanja. Jadi, ini akan memukul simpanan dan investasi. Selain itu, aturan pajak bakal makin rumit,” ujar Mark Zandi, kepala ekonom Moody’s Analytics.


Rencana Clinton itu akan menambah penerimaan pemerintah US$ 1,1 triliun selama 10 tahun ke depan. Hal ini akan membantu menutupi kekurangan pendanaan untuk anggaran belanja yang bertambah. (bersambung)


Baca selanjutnya di http://id.beritasatu.com/international/rencana-trump-pangkas-pajak-pribadi-susah-disetujui-kongres/148256

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN