Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Orang-orang mengenakan masker pelindung saat berbelanja di sebuah pasar swalayan di Shenyang, provinsi Liaoning,  timur laut Tiongkok, pada 10 Februari 2020. Korban jiwa dari wabah virus korona telah melonjak menjadi 1.000 pada 11 Februari 2020. ( Foto: STR / AFP )

Orang-orang mengenakan masker pelindung saat berbelanja di sebuah pasar swalayan di Shenyang, provinsi Liaoning, timur laut Tiongkok, pada 10 Februari 2020. Korban jiwa dari wabah virus korona telah melonjak menjadi 1.000 pada 11 Februari 2020. ( Foto: STR / AFP )

Penyebaran Virus Korona COVID-19

Dampak ke Ekonomi Global Ringan

Jumat, 14 Februari 2020 | 08:04 WIB
Iwan Subarkah Nurdiawan (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Dampak penyebaran virus korona baru COVID-19 di Tiongkok terhadap pertumbuhan ekonomi global diprediksi ringan. Walau terlalu dini untuk mengukur kerugian ekonominya.

Hal tersebut diutarakan Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva di Washington, Amerika Serikat (AS), Rabu (12/2) waktu setempat.

COVID-19 hingga berita ini diturunkan telah merenggut lebih dari 1.360 orang dan menginfeksi hampir 60.000 di Tiongkok. Sedangkan korban jiwa di luar Tiongkok bertambah satu menjadi dua, setelah Jepang melaporkan satu orang jatuh. Tapi muncul harapan bahwa penyebaran virus ini dapat memuncak pada bulan ini.

IMF memperkirakan dampak penyebaran virus tersebut terhadap ekonomi global mengikuti bentuk kurva V. IMF memperkirakan penurunan tajam kegiatan ekonomi di Tiongkok, tapi kemudian diikuti oleh pemulihan tajam.

“Yang berarti kemungkinan dampaknya hanya akan ringan terhadap seluruh dunia. Tapi masih terlalu dini untuk membuat proyeksi-proyeksi. Perekonomian global agak kurang kuat dibandingkan saat Tiongkok dihadapkan pada epidemi virus SARS pada 2003,” ujar Georgieva, seperti dilansir AFP dari CNBC.

Ia menambahkan, kondisi Tiongkok berbeda. Dan dunia juga berbeda. Tapi virus ini, kata Georgieva, jelas lebih berdampak, sedangkan perekonomian dunia waktu itu sangat kuat.

IMF sebelumnya memperkirakan ekonomi Tiongkok tumbuh 6,0% tahun ini. Bandingkan dengan 10% pada 2003. Sementara para pejabat pemerintah AS enggan memberikan proyeksi. Tapi memperkirakan dampaknya ke ekonomi AS bakal sebentar.

“Tentunya (virus) ini akan berdampak signifikan di Tiongkok. Tapi untuk ekonomi AS, saya pikir virus korona tidak akan berdampak lebih dari tahun ini,” ujar Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin, Rabu kepada Kongres.

Dalam testimoninya di hadapan Kongres AS, Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell mengatakan, pihaknya terus mencermati perkembangan krisis virus ini.

“The Fed memantau terus penyebaran virus korona, karena dapat menimbulkan gangguan-gangguan di Tiongkok yang menyebar ke seluruh perekonomian global,” ujar Powell, dalam testimoni hari pertama, Selasa (11/2) waktu setempat.

Powell berbicara sehari setelah Presiden Donald Trump menyampaikan rancangan anggaran US$ 4,8 triliun kepada Kongres. Dengan anggaran sebesar itu, defisit anggaran AS yang sudah besar akan berlanjut setidaknya hingga 15 tahun ke depan. Powell kembali mengatakan bahwa anggaran pemerintah harus lebih dapat terkelola.

Dalam penyampaian pandangan kebijakan moneter enam bulanan di hadapan Komisi Jasa Keuangan Dewan Perwakilan AS itu, Powell cukup optimistis terhadap ekonomi AS. Ia menyinggung penciptaan lapangan kerja yang solid dan ekonomi terus tumbuh.

Walau begitu, ia mengatakan tidak semuanya berada dalam kondisi baik. Kenaikan upah tetap rendah. Jumlah tenaga kerja di sektor pendidikan dan keterampilan juga tertinggal, juga dalam angkatan kerja dan biaya kesehatan.

Pasar Finansial

Sementara itu, pasar saham Asia berjatuhan pada Kamis setelah perubahan terhadap cara penghitungan membuat jumlah korban jiwa dan yang terinfeksi di Tiongkok melonjak. Para investor kembali mengkhawatirkan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi.

Indeks Nikkei 225 ditutup turun 0,1%. Hang Seng melemah 0,3%. Shanghai turun 0,7%. Seoul turun 0,2%, Singapura melemah 0,3%. Tapi Sydney dan Taipei ditutup menguat.

Jumlah baru korban virus korona itu meredam sentimen positif dari Wall Street pada penutupan perdagangan Rabu, yang mana ketiga indeks utama mencatat rekor tertinggi baru.

“Lonjakan angka-angka virus korona Tiongkok sempat seperti hantaman ribuan batu bata, karena sudah menjadi kekhawatiran terbesar pasar,” ujar Stephen Innes, kepala strategi pasar AxiCorp.

Sementara di awal perdagangan Kamis di Eropa, London turun 1,0% dan Paris serta Frankfurt melemah masing-masing 0,4%.

“Saat pasar mulai tenang mendengar kabar bahwa tren kenaikan infeksi COVID-19 menurun, tiba-tiba lonjakan jumlah kasus baru di Hubei menghentak ketenangan itu,” ujar Khoon Goh, kepala riset Asia dari ANZ Banking Group, kepada Bloomberg News.

Tiongkok juga importir dan konsumen terbesar minyak dunia. Harga minyak mentah menjadi sangat sensitif terhadap penyebaran virus ini. Lonjakan korban dan kasus baru membuat harga kontrak dua minyak mentah utama turun pada Kamis. (afp)


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN