Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz menandatangani rancangan anggaran belanja negara 2021 setelah pertemuan kabinet virtual, di ibu kota Riyadh, pada 15 Desember 2020. ( Foto: SPA / AFP )

Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz menandatangani rancangan anggaran belanja negara 2021 setelah pertemuan kabinet virtual, di ibu kota Riyadh, pada 15 Desember 2020. ( Foto: SPA / AFP )

Defisit Melonjak, Saudi Pangkas Belanja 2021

Kamis, 17 Desember 2020 | 06:59 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

RIYADH, investor.id – Pemerintah Arab Saudi memproyeksikan defisit anggarannya pada 2020 melonjak menjadi sekitar US$ 79 miliar sehingga anggaran belanja tahun depan akan dipangkas. Perkiraan defisit ini terkait dengan harga minyak rendah dan pelambatan ekonomi akibat pandemi virus corona Covid-19.

Dalam pernyataaan anggaran Kementerian Keuangan Arab Saudi yang dirilis Selasa (15/12), tahun ini pemerintah diprediksi membukukan defisit 298 miliar riyal (US$ 79 miliar) atau sekitar 12% dari produk domestik bruto (PDB). Sementara itu, untuk tahun depan, diperkirakan terjadi penurunan defisit menjadi 141 miliar riyal (US$ 37,6 miliar) atau sekitar 4,9% dari PDB.

Menurut laporan, saat mengesahkan rancangan anggaran belanja 2021, Arab Saudi mengumumkan pemangkasan belanja pemerintah sebagai upaya untuk mengurangi defisit selama tahun depan. Pasalnya, catatan defisit kali ini berada di tahun kedelapan selama berturut-turut.

Pemerintah sebelumnya memproyeksikan angka defisit 2020 mencapai US$ 50 miliar, karena didasarkan pada perkiraan defisit 2019 sebanyak US$ 35 miliar.

“Krisis ekonomi telah telah dikelola dengan sangat hati-hati dan efektif, yang mengarah pada pengurangan efek negatif pada ekonomi Saudi. 2020 adalah tahun yang sulit bagi seluruh dunia karena merebaknya pandemi virus corona, tetapi ekonomi kerajaan telah membuktikan kemampuannya untuk menahan dampaknya,” ujar Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman seperti dikutip oleh media pemerintah, yang dilansir oleh AFP.

Dalam pernyataan anggaran, Kerajaan Saudi – sebagai negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia Arab – memproyeksikan laju ekonomi tahun depan tumbuh 3,2% karena sebagian besar kegiatan ekonomi pulih dari proyeksi kontraksi 3,7% pada tahun ini. Sedangkan Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan perekonomian Saudi tahun ini mengalami kontraksi 5,4%.

Sebagai informasi, Arab Saudi telah gagal menyeimbangkan pembukuannya sejak kejatuhan harga minyak pada 2014. Peristiwa tersebut mendorong Negeri Petro Dolar ini untuk melakukan peminjaman lebih banyak dan mengambil cadangannya untuk menutup kerugian tersebut.

Rencana fiskal yang disahkan pada Selasa pun menunjukkan jalan yang sulit bagi kerajaan untuk menuju pemulihan. Sebelum pandemi Covid-19 melanda, Saudi telah memperkirakan hitungan kasar bahwa anggaran tahunan akan diseimbangkan pada 2023.

“Tetapi cadangan bank sentral Saudi diperkirakan turun menjadi 280 miliar riyal (US$ 74,6 miliar) tahun depan, dari 346 miliar riyal (US$ 92 miliar) yang diproyeksikan tahun ini,” demikian menurut kementerian keuangan.

Kencangkan Ikat Pinggang

Alhasil, Saudi harus mengencangkan ikat pinggangnya dan terus maju dengan langkah-langkah penghematan, di tengah harga minyak yang rendah.

Menurut pernyataan anggaran kerajaan, Arab Saudi berencana membelanjakan 990 miliar riyal (US$ 263,91 miliar) pada 2021, atau lebih rendah dibandingkan tahun ini.

Pendapatan minyak mentah pun hanya menghasilkan lebih dari dua pertiga pendapatan publik Saudi. Bahkan pada November, raksasa perusahaan energi Aramco membukukan penurunan laba 44,6% untuk Kuartal III karena pandemi virus corona sangat membebani permintaan minyak mentah global.

Para ahli ekonomi mengungkapkan bahwa Arab Saudi membutuhkan harga minyak mentah berada di kisaran US$ 80 per barel guna menyeimbangkan anggarannya, tetapi kenyataan di lapangan harga minyak saat ini sekitar US$ 50 per barel.

Di sisi lain, penurunan pendapatan Saudi diperkirakan menghambat program reformasi ambisius “Visi 2030” miliki Putra Mahkota Mohammed bin Salman, yang bertujuan merombak ketergantungan ekonomi kerajaan terhadap sektor energi.

Langkah-langkah penghematan yang telah diumumkan sejauh ini diprediksi hanya mampu mengendalikan sebagian defisit anggaran yang menguap.

Salah satu kebijakan yang dikeluarkan Saudi pada Juli adalah melipatgandakan pajak pertambahan nilai (PPN) menjadi 15%. Langkah ini diklaim telah membebani pendapatan rumah tangga, mendorong inflasi dan menekan pengeluaran konsumen.

Meski demikian, pemerintah masih berhati-hati untuk tidak melakukan PHK atau mengurangi gaji pegawai di tengah angka pengangguran kaum muda yang sudah tinggi. Tercatat hampir dua pertiga dari total warga Saudi bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Pembayaran gaji untuk sektor publik pun disebut-sebut berkontribusi sekitar setengah dari semua belanja pemerintah.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah Saudi telah mendorong kampanye agresif lainnya untuk mendiversifikasi pendapatannya, menaikkan biaya pekerja asing, serta menaikkan harga bahan bakar dan listrik.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN