Menu
Sign in
@ Contact
Search
Duta Besar Republik Indonesia untuk Singapura Suryopratomo.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Singapura Suryopratomo.

Dubes Suryopratomo: Perekonomian Singapura Bergerak ke Pemulihan

Jumat, 9 September 2022 | 10:17 WIB
Primus Dorimulu (primus@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Perekonomian Singapura dinilai sudah mulai kembali normal dan bergerak ke posisi pemulihan. Salah satu indikatornya adalah jumlah penerbangan dari dan menuju Bandar Udara Internasional Changi Singapura yang telah mencapai sekitar 60-70% dari total penerbangan sebelum pandemi Covid-19.

“Jadi, jumlah pesawat yang naik dan turun di sini, (di Bandar Udara Internasional Changi) Singapura, sebelum pandemi itu sekitar 69 ribu, sekarang sudah 44 ribu penerbangan per bulan,” kata Duta Besar Republik Indonesia untuk Singapura Suryopratomo dalam perbincangan eksklusif dengan Investor Daily, pekan lalu.

Baca juga: Harga Tiket Pesawat Jakarta-Singapura Masih 4 Kali sebelum Pandemi

Ia menambahkan, tanda-tanda pemulihan perekonomian itu semakin tampak sejak Singapura menghapus syarat karantina bagi pelaku perjalanan luar negeri yang masuk ke negaranya dengan syarat telah divaksinasi Covid-19 dan negatif tes Covid-19 sebelum keberangkatan. Kebijakan itu berlaku mulai 1 April 2022.

Meski demikian, dalam pidato nasional beberapa waktu lalu, Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong mengungkapkan bahwa Negara Kota itu sekarang memiliki tantangan baru, yaitu perang Ukraina-Rusia di Eropa. Pasalnya, hal itu memukul rantai pasok (supply change) global yang berdampak ke perekonomian Singapura.

“(Perang Ukraina-Rusian) ini adalah sebuah tantangan baru yang diminta oleh Perdana Menteri untuk dihadapi secara bersama-sama oleh masyarakat dan rakyat Singapura. Karena ini bukan hal yang mudah untuk ditangani. Singapura dihadapkan pada masalah supply change,” tutur mantan jurnalis yang akrab disapa Tommy tersebut.

Selain itu, lanjut dia, perekonomian Singapura juga dihadapkan pada peningkatan harga atau biaya hidup, di antaranya adalah biaya sewa rumah yang naik sekitar US$ 800 per bulan. Namun, hal tersebut sudah diantisipasi oleh pemerintah Singapura.

“Itu yang sudah dihitung pemerintah. Tapi, pemerintah Singapura yakin bahwa (inflasi) tidak akan double digit. Inflasinya akan tetap di bawah 10%. Jadi, tantangan Singapura sekarang itu (juga) dari sisi inflasi dan tingkat suku bunga. Karena, itu akan berpengaruh terhadap perekonomian Singapura,” papar Tommy.

Baca juga: Singapura Tegas Dukung Presidensi Indonesia di G20 dan Asean

Terkait pertumbuhan ekonomi, pemerintah Singapura tahun ini memasang target sangat moderat yaitu hanya tumbuh 3-4% (yoy), meski tahun lalu mampu tumbuh hingga 7,61% (yoy). “Sejauh ini, pertumbuhan ekonomi di kuartal II-2022 angkanya masih baik, tapi pemerintah Singapura sangat moderat,” ucap Tommy.

Ekonomi Singapura pada kuartal II tahun ini tercatat tumbuh 4,4% (yoy). Angka realisasi itu lebih rendah dibandingkan ekspektasi pemerintah yang memperkirakan ekonomi Negeri Singa itu mampu tumbuh hingga 4,8% (yoy). Sebelum tumbuh 7,61% (yoy) pada tahun lalu, ekonomi Singapura sempat mengalami kontraksi hingga 4,14% pada 2020.

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com