Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Markas besar Bank Sentral Eropa (ECB) di Frankfurt am Main, Jerman barat. (Foto: AFP / Daniel ROLAND)

Markas besar Bank Sentral Eropa (ECB) di Frankfurt am Main, Jerman barat. (Foto: AFP / Daniel ROLAND)

ECB Hampir Dipastikan Umumkan Stimulus Baru

Herman, Rabu, 11 September 2019 | 09:26 WIB

FRANKFURT AM MAIN, investor.id – Tekanan dari pasar untuk membantu negara-negara zona euro yang ekonominya tengah lesu membuat Bank Sentral Eropa (ECB) hampir dipastikan mengumumkan pelonggaran moneter terbaru pada pertemuan Kamis (12/9). Kalangan analis mendukung langkah ECB ini.

Kebijakan itu juga bisa menjadi langkah besar terakhir dari Presiden ECB Mario Draghi, sebelum menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada Christine Lagarde – mantan direktur pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) – pada 31 Oktober 2019.

Menurut laporan, blok mata uang tunggal tersebut tidak serapuh pada saat Draghi menjanjikan segala hal yang diperlukan untuk menyelamatkannya pada 2012 – dengan skema pembelian obligasi 2,6 triliun euro mulai 2015 sampai 2018, dan tingkat suku bunga negatif.

Akan tetapi, ECB disebut-sebut telah gagal bertahun-tahun untuk mencapai target inflasi di bawah 2,0%, walau sudah ada intervensi luar biasa.

Dan sekarang, laju pertumbuhannya melambat karena zona euro menghadapi perang dagang yang dipimpin oleh Amerika Serikat (AS), kemudian melemahnya pasar-pasar negara maju dan risiko Brexit tanpa kesepakatan

Tercatat pada Kuartal II, kegiatan ekonomi di blok itu hanya meningkat 0,2% dibandingkan periode Januari-Maret, sementara inflasi tahunan turun menjadi 1,0% pada Juli. Sedangkan Jerman, sebagai negara dengan kekuatan ekonomi besar di blok itu, diprediksi merosot menuju resesi di Kuartal III.

Para pembuat kebijakan pun mendesak bahwa tujuan mereka masih berlaku sehingga mendorong harapan tinggi untuk pengambilan tindakan di pasar keuangan pada September. Menurut mereka, deklarasi Draghi pada Juni menyebutkan, bahwa ECB dapat melampaui target, dan mengimbangi tahun-tahun pertumbuhan harga di bawah target.

“Jika ECB memberikan hasil mengecewakan pada September maka mereka harus melakukan hal yang lebih besar lagi nantinya, tapi dengan peluang keberhasilan yang lebih rendah,” ujar strategis manajemen kekayaan Pictet Frederik Ducrozet.

Dia, secara khusus, mengarah pada risiko ekspektasi pasar terhadap inflasi di masa depan yang bakal meleset dari tujuan bank sentral. Selain itu, taruhan yang dihasilkan pada inflasi masa depan yang lebih rendah dapat berubah menjadi ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya.

Ducrozet pun menyarankan agar Draghi dapat mengumumkan pembelian obligasi baru senilai 600 miliar euro (US$ 660 miliar), serta penurunan tingkat suku bunga tabungan bank untuk disimpan ECB dengan kisaran -0,4% hingga -0,5%.

“Tetapi pertikaian dalam dewan pemerintahan dapat mengarah pada keputusan yang kurang optimal dan membiarkan pembelian aset di hari lain,” tambahnya.

Dewan Gubernur Terbelah

Di sisi lain, para gubernur dari negara zona euro yang paling terbebani, termasuk Prancis, Jerman dan Belanda, mengaku skeptis soal pembelian obligasi baru.

“Apakah perlu segera memulai kembali pembelian? Itu pertanyaan yang harus kita diskusikan,” kata Gubernur Bank of Prancis Francois Villeroy de Galhau pekan lalu.

Pasalnya, Villeroy yang biasa dipandang sebagai salah satu anggoa dewan berhaluan doves lebih menyukai pelonggaran moneter ketimbang mereka yang berhaluan hawk, terutama yang berasal dari negara bagian utara dan Eropa yang penduduknya berbahasa Jerman.

Gubernur bank sentral Jerman dan Belanda pun telah membahas masalah itu dalam beberapa pekan terakhir. Bahkan, Wakil Presiden ECB Luis de Guindos bersikeras pada akhir Agustus, jika lembaga finansialnya bergantung pada data.

“Indikasi-indikasi dari ekspektasi pasar tidak dapat menggantikan penilaian kebijakan kami,” pungkas de Guindos.

Sementara itu, Draghi telah memicu kepercayaan publik dalam langkah kebijakan selama musim panas. Pada Juli, dia menegaskan kembali bahwa para gubernur sedang mempertimbangkan kemungkinan tindakan yang diamibil di masa depan, jika tidak ada perbaikan dalam kondisi ekonomi.

Ada pun prediksi staf ECB tentang tingkat pertumbuhan dan inflasi baru, yang diperkirakan lebih rendah dari pada Juni, akan menjadi sumber bagi pembahasan di kalangan doves pada pertemuan minggu ini.

Tercatat jika prospek Juni sudah memangkas prediksi terhadap kedua langkah tersebut, dengan prediksi harga hanya tumbuh 1,6% pada 2021 atau jauh dari yang ditargetkan.

Terlepas apa pun keputusannya, para pembuat kebijakan akan terus memperbaiki “panduan ke depan” mereka sehubungan dengan kebijakan masa depan guna menetapkan ekspektasi pasar, berapa lama lagi suku bunga rendah akan bertahan.

Jika ECB meluncurkan langkah pembelian aset, kemungkinan hal itu bakal mengikat setiap kenaikan tingkat suku bunga sampai mereka berakhir. Dan hal itu bisa membuat Lagarde memiliki ruang lebih mudah di tahun pertamanya menjabat.

Sementara itu, untuk meredam kecaman tak terhindarkan dari perbankan terkait tingkat suku bunga rendah, banyak analis memprediksi ECB memperkenalkan sistem “berjenjang” yang membebaskan sejumlah biaya tabungan, yang jumlahnya mencapai lebih dari tujuh miliar euro per tahun.

“Bank sentral harus mencapai keseimbangan antara tujuan yang saling bertentangan: untuk memberikan bantuan yang cukup besar kepada bank, meninggalkan likuiditas yang cukup untuk mempertahankan syarat-syarat moneter ringan dan untuk menghindari pengetatan yang tidak beralasan,” ujar ekonom Marco Valli dari UniCredit. (afp)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN