Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Logo Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi atau OECD terpampang di pintu masuk markasnya di Paris, Prancis. ( Foto: AP Photo / Francois Mori )

Logo Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi atau OECD terpampang di pintu masuk markasnya di Paris, Prancis. ( Foto: AP Photo / Francois Mori )

Ekonomi Dunia Kembali ke Level Pra-Pandemi pada 2021

Rabu, 2 Desember 2020 | 07:11 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

PARIS, investor.id – Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi atau Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memprediksi kondisi perekonomian global kembali ke level pra-pandemi virus corona Covid-19 pada 2021. Walau kehadiran vaksin membantu mendorong pemulihan, tingkat pertumbuhan ekonomi seluruh dunia kemungkinan tidak merata.

Tanda-tanda bahwa vaksin akan didistribusikan beberapa pekan mendatang telah mendongkrak optimistis disertai kehati-hatian. Pasalnya tahun ini akan berakhir dengan catatan bahwa Covid-19 telah merenggut sekitar 1,4 juta jiwa.

“Untuk kali pertama sejak pandemi dimulai, sekarang ada harapan untuk masa depan yang lebih cerah. Kemajuan vaksin dan pengobatan telah meningkatkan harapan dan menyurutkan ketidakpastian. Jalan ke depan lebih cerah tetapi juga menantang,” ujar Kepala ekonom OECD Laurence Boone, seperti dikutip AFP pada Selasa (1/12).

Dia juga mengakui, masih diperlukan tindakan-tindakan menahan penyebaran virus untuk beberapa bulan mendatang.

Kepala ekonom Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) Laurence Boone. ( Foto: AFP via Getty Images )
Kepala ekonom Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) Laurence Boone. ( Foto: AFP via Getty Images )

Langkah Luar Biasa

Laporan OECD menunjukkan bahwa produksi dunia pada tahun ini mengalami penurunan 4,2% karena terdampak aturan karantina (lockdown) yang diterapkan selama berbulan-bulan. Aturan tersebut memperlambat penyebaran virus corona, tetapi telah menganggu perekonomian global.

OECD memprediksi ekonomi dunia pulih dengan tingkat pertumbuhan 4,2% pada 2021. Perkiraan kontraksi dan pemulihan ini lebih rendah dibandingkan pembaruan data pada September, meskipun banyak negara memberlakukan pembatasan baru untuk memperlambat penyebaran virus corona.

OECD sendiri memberikan pujian terhadap pemulihan yang terjadi dengan cepat karena langkah-langkah luar biasa yang diambil oleh pemerintah dan bank-bank sentral. Organisasi tersebut juga menganjurkan 37 negaara anggotanya untuk mendorong kemajuan ekonomi dan perdagangan dunia.

“Tanpa dukungan kebijakan yang masif, situasi ekonomi dan sosial akan menjadi bencana,” tambah Boone.

Dia mengatakan bahwa dukungan akan membuahkan hasil yang baik dalam beberapa bulan mendatang.

Rebound akan lebih kuat dan lebih cepat karena semakin banyak aktivitas yang dibuka kembali, membatasi kerugian pendapatan agregat dari krisis,” ujarnya.

Tiongkok Lolos Kontraksi

Namun OECD memperingatkan, bahwa rebound kemungkinan tidak akan merata dan dapat menyebabkan perubahan yang abadi dalam ekonomi dunia.

Meski begitu, Tiongkok kemungkinan menjadi satu-satunya negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia yang lolos dari kontraksi tahun ini Negeri Tirai Bambu itu membukukan pertumbuhan ekonomi sebesar 1,8% dan diperkirakan melonjak 8,0% pada 2021.

Di sisi lain, ekonomi Amerika Serikat (AS) pada tahun ini akan berkontraksi sebesar 3,7% dan hanya tumbuh 3,2% pada 2021.

Sementara itu, zona euro akan mengurangi kerugiannya setelah sempat kontraksi 7,5% pada 2020 dan diprediksi tumbuh 3,6% pada 2021.

Jepang diperkirakan mengalami hal yang sama yakni kontraksi 5,3% pada 2020, kemudian diikuti dengan kenaikan 2,3% pada 2021. Bahkan negara-negara berkembang besar lainnya juga diproyeksikan pulih secara perlahan.

Di Brasil, pertumbuhan ekonominya tahun ini turun 6,0% dan disusul dengan kenaikan 2,6% pada 2021.

Sedangkan di India, kondisi ekonominya terlihat lebih baik karena perlambatan 9,9% pada tahun ini, dan diperkirakan mengalami rebound 7,9% pada 2021.

Untuk Tiongkok, secara keseluruhan negara itu diperkirakan menyumbang sepertiga dari pertumbuhan global pada tahun depan. sementara Eropa dan Amerika Utara diperkirakan berkontribusi kurang dari bobot mereka dalam ekonomi global.

Dampak Sosial

OECD menyatakan meskipun distribusi vaksin diprediksi segera terjadi, prospek ekonomi global masih sangat tidak pasti. Hal ini mengingat kesulitan dalam meluncurkan kampanye vaksinasi besar-besaran, serta ketidakpastian tentang berapa lama vaksin akan memberikan perlindungan, dan kebutuhan untuk memberlakukan pembatasan sementara.

OECD juga menyuarakan kewaspadaan tentang dampak sosial yang muncul dari krisis pandemi, yang membuat banyak karyawan terkena PHK.

“Meskipun ada bantuan kebijakan besar, dan bahkan dalam skenario terbalik, pandemi tetap akan merusak struktur ekonomi negara-negara di seluruh dunia,” kata Boone.

Alhasil, dia mendesak pemerintah untuk tidak melonggarkan langkah-langkah dukungan seiring dengan ketersediaan vaksin Covid-19, bahkan ketika tingkat hutang publik melonjak ke level luar biasa.

“Aktivisme kebijakan yang meningkat tidak perlu dikhawatirkan jika diterapkan untuk menghasilkan pertumbuhan yang lebih tinggi dan lebih adil,” ujar Boone, seraya mencatat bahwa biaya utang berada pada rekor terendah.

OECD pun mendesak pemerintah untuk memfokuskan upaya-upayanya pada barang dan jasa penting, seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur fisik dan digital sebagai dasar untuk pertumbuhan. Mereka juga menyerukan tindakan tegas untuk membalikkan peningkatan kemiskinan dan ketidaksetaraan pendapatan dan kembali ke kerja sama internasional.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN