Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson. ( Foto: Pippa FOWLES / 10 Downing Street / AFP )

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson. ( Foto: Pippa FOWLES / 10 Downing Street / AFP )

Ekonomi Inggris Catat Hasil Kuartalan Terburuk Sejak 1979

Grace Eldora, Rabu, 1 Juli 2020 | 07:24 WIB

LONDON, investor.id - Ekonomi Inggris mengalami kontraksi kuartalan terburuk selama lebih dari 40 tahun. Setelah pandemi virus corona Covid-19 memangkas aktivitas ekonomi. Rilis tersebut ditunjukkan oleh data resmi hasil revisi, Selasa (30/6).

Produk domestik bruto (PDB) Inggris menyusut 2,2% pada kuartal I-2020 atau periode Januari-Maret, dibandingkan dengan tiga bulan sebelumnya. Kantor Statistik Nasional (ONS) menyampaikan data ini dalam sebuah pernyataan yang memberikan perkiraan kedua.

Angka awal yang diberikan oleh ONS menunjukkan kontraksi PDB sebesar 2,0% pada kuartal pertama, atau proyeksi terburuk sejak krisis keuangan global pada 2008.

Data kuartal kedua akan menunjukkan dampak penuh dari pandemi virus corona, karena penguncian nasional Inggris baru dikenakan pada 23 Maret. Angka resmi baru-baru ini menunjukkan aktivitas ekonomi Inggris jatuh dengan rekor 20,4% pada April.

"Gambaran ekonomi kami yang lebih terperinci pada kuartal pertama menunjukkan penurunan kuartalan terbesar sejak (kuartal ketiga) 1979. Semua sektor utama ekonomi menyusut secara signifikan sepanjang Maret karena dampak dari pandemi ini," kata Wakil Statistik Nasional ONS Jonathan Athow, Selasa (30/6).

Namun Athow menambahkan, penurunan tajam dalam belanja konsumen pada akhir Maret menyebabkan peningkatan yang nyata dalam tabungan rumah tangga. Ini telah dibantu lebih lanjut oleh pemerintah yang membayar sebagian besar upah pekerja sektor swasta selama masa pandemi untuk membuat mereka tetap bekerja.

Sementara itu, para ekonom mengantisipasi penurunan dua digit dalam output selama kuartal kedua atau periode April-Juni, menempatkan Inggris dalam resesi secara teknis.

"Jelas ekonomi Inggris menyaksikan rekor kontraksi PDB pada kuartal kedua," kata Howard Archer, ekonom EY.

Ia memperkirakan penurunan 17% sebelum rebound 10% di kuartal ketiga. Bank of England (BoE) telah memperingatkan kelumpuhan yang diakibatkan Covid-19 dapat memicu resesi terburuk bangsa selama berabad-abad terakhir, setelah virus corona memukul keras ekonomi di seluruh dunia.

Awal bulan ini, BoE meluncurkan tambahan uang tunai 100 miliar pound (setara US$ 126 miliar atau 112 miliar euro) berupa stimulus, untuk menopang ekonomi Inggris yang terkena virus corona.

Bank sentral tersebut sudah bereaksi dengan memangkas suku bunga utamanya ke rekor terendah 0,1% dan menyuntikkan 200 miliar pound ke dalam ekonomi untuk mendapatkan pinjaman bank ritel ke sektor bisnis yang rapuh.

Pada awal perdagangan, Bursa London merosot ketika pejabat menerapkan kembali tindakan karantina di kota Leicester. Sementara data menunjukkan ekonomi Inggris menyusut lebih dari yang diperkirakan pada kuartal pertama. Sedangkan bursa saham Paris dan Frankfurt menguat.

"Kekhawatiran tentang negara-negara gelombang kedua (penyebaran virus) tampaknya sekarang menjadi berita minggu lalu. Jadi sepertinya, ketika investor beralih fokus pada narasi pembukaan kembali yang kuat," kata Stephen Innes dari AxiCorp. (afp)

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN