Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sebuah plakat bertuliskan

Sebuah plakat bertuliskan "Setop Kekacauan Brexit" milik seorang aktivis anti-Brexit bersandar pada bendera Uni Eropa berada di luar Gedung Parlemen di London, Inggris pada 23 Oktober 2019. ( Foto: AFP / Tolga Akmen )

Ekonomi Inggris Mandek pada Akhir 2019

Grace Eldora, Rabu, 12 Februari 2020 | 13:52 WIB

LONDON, investor.id - Ekonomi Inggris mencatatkan pertumbuhan nol pada kuartal terakhir tahun lalu. Industri manufaktur menyusut pada periode menuju pemilihan umum negara yang diawali oleh Brexit.

"Tidak ada pertumbuhan pada kuartal terakhir 2019 karena peningkatan sektor jasa dan konstruksi diimbangi oleh perlambatan yang ditunjukkan dari manufaktur, terutama industri motor," kata Rob Kent-Smith dari Biro Statistik Nasional (ONS), Selasa (11/2).

ONS menyebutkan bahwa sektor manufaktur Inggris mengalami kontraksi 0,8% pada periode Oktober-Desember 2019.

Pemerintah Inggris akhirnya meninggalkan Uni Eropa pada 31 Januari 2020, setelah Perdana Menteri Inggris Boris Johnson pada Desember tahun lalu memimpin Partai Konservatif meraih kemenangan dalam jajak pendapat nasional.

"Kami telah memecahkan kebuntuan dan meninggalkan Uni Eropa. Sekarang kami perlu memanfaatkan momen ini untuk naik peringkat dan mempersiapkan negara hebat kita untuk kesuksesan jangka panjang," tutur Menteri Keuangan Inggris Sajid Javid dalam sebuah pernyataan Selasa, setelah rilis data pertumbuhan tersebut.

Ia mengatakan, bulan depan akan menentukan bagaimana Inggris akan bergerak maju dengan lebih banyak ambisi dan pemikiran baru.

“Juga memberdayakan para karyawan dan bisnis, sehingga setiap orang memiliki kesempatan untuk berkembang," kata Javid.

Namun menjelang Brexit, Bank of England (BoE) memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi Inggris untuk tahun ini dan selanjutnya. Pasalnya, negara tersebut menghadapi negosiasi yang sulit dengan Uni Eropa, untuk mencapai kesepakatan perdagangan baru.

Ekonomi Inggris diprediksikan tumbuh hanya 0,8%. Turun tajam dari perkiraan sebelumnya 1,2%. Pada 2021, produk domestik bruto diperkirakan tumbuh 1,4%, dibandingkan estimasi sebelumnya sebesar 1,7%, yang disampaikan pada November 2019.

ONS pada Selasa menambahkan, ekonomi Inggris tumbuh sebesar 1,4% tahun lalu setelah produk domestik bruto (PDB) tumbuh 1,3% pada 2018. PDB tumbuh 0,5% pada kuartal III-2019.

"Ekonomi Inggris menghadapi tantangan dari ketidakpastian politik domestik dan pelemahan pertumbuhan global tahun lalu. Dalam keadaan itu tingkat pertumbuhan 1,4% tidak buruk. Bagaimana pun juga sedikit lebih baik dari 2018 dan tingkat pertumbuhan kawasan euro tahun lalu," kata kepala ekonom Deloitte Ian Stewart.

Sementara itu, ekonom senior di Pusat Penelitian Ekonomi dan Bisnis Pablo Shah mengatakan, pertumbuhan Inggris di paruh kedua tahun lalu telah bergantung pada ekspor.

"Ini mengekspos kelemahan mendasar yang signifikan. Dan menunjukkan perlambatan dalam perdagangan internasional atau ekonomi dari mitra ekspor utama, dapat tiba-tiba mengambil penyokong penting ekonomi Inggris," tambah Shah. (afp)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN