Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pelanggan sedang melihat-lihat buah dan sayuran di kios penjual sayur, di pasar Kirkgate di Leeds, Inggris utara pada 6 Januari 2021, di hari kedua karantina nasional Inggris untuk memerangi penyebaran Covid-19. ( Foto: Oli Scarff / AFP )

Pelanggan sedang melihat-lihat buah dan sayuran di kios penjual sayur, di pasar Kirkgate di Leeds, Inggris utara pada 6 Januari 2021, di hari kedua karantina nasional Inggris untuk memerangi penyebaran Covid-19. ( Foto: Oli Scarff / AFP )

Ekonomi Inggris Mengarah ke Resesi Ganda

Sabtu, 16 Januari 2021 | 06:54 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Ekonomi Inggris dilaporkan kontraksi 2,6% pada November 2020 karena terdampak aturan pembatasan yang ditetapkan untuk mencegah penyebaran virus corona Covid-19. Data resmi yang dirilis, Jumat (15/1) memicu kekhawatiran bahwa aturan karantina atau lockdown saat ini bisa memicu resesi ganda.

Catatan produk domestik bruto (PDB) pun menunjukkan balik arah setelah mencapai pertumbuhan 0,6% pada Oktober. Dalam pernyataan Kantor Statistik Nasional (Office for National Statistics/ONS), ekonomi Inggris 8,5% lebih kecil dari level pra-pandemi pada Februari 2020.

Sebagai informasi, Inggris sempat berada dalam karantina sebagian yang diberlakukan November tahun lalu, karena pemerintah bergegas mengekang melonjaknya angka kasus infeksi Covid-19. Aturan pembatasan ini juga diterapkan di Wales, Skotlandia, dan Irlandia Utara.

Aturan pembatasan baru dilonggarkan menjelang perayaan Natal. Menurut Darren Morgan, direktur statistik ekonomi ONS, perekonomian Inggris terpukul oleh aturan pembatasan yang diberlakukan selama November guna menahan pandemi Covid-19.

“Namun, banyak pelaku bisnis yang melakukan penyesuaian dengan kondisi kerja baru selama pandemi, seperti meluasnya penggunaan fitur belanja click-and-collect – sebuah pengalaman belanja secara online dan offline dengan cara mengambil pesanan sendiri – hingga ke online. Secara umum, sektor manufaktur dan konstruksi masih terus beroperasi. Sekolah-sekolah juga tetap buka, yang artinya dampak terhadap ekonomi secara signifikan lebih kecil pada November dibandingkan selama aturan karantina pertama,” demikian penjelasan Morgan, yang dikutip AFP.

Selain itu kecenderungan penurunan juga terjadi menjelang perpisahan terakhir Inggris dari Uni Eropa atau Brexit pada akhir Desember. Pada bulan tersebut, Pemerintah Inggris secara resmi meninggalkan pasar tunggal dan serikat pabean Uni Eropa.

Khawatir Resesi Ganda

Pada bulan ini, Inggris dan Skotlandia kembali memberlakukan lockdown selama berminggu-minggu. Pasalnya, pihak berwenang Inggris sedang berusaha menghentikan varian baru dari virus corona Covid-19 yang dikatakan lebih dapat menular. Tindakan ini menyerupai pembatasan virus corona nasional pertama yang diberlakukan dari Maret hingga Juni 2020

Para ekonom pun memperingatkan, bahwa pembatasan saat ini dapat memicu resesi ganda (double-dip), yakni ketika ekonomi merosot ke dalam penurunan bersejarah tahun lalu karena karantina awal yang ketat.

“Dengan pemberlakuan kembali karantina di Inggris, dan akan berlangsung hingga setidaknya pertengahan Februari maka ekonominya bakal memiliki awal yang menantang hingga 2021, serta jelas akan mengalami kontraksi pada kuartal pertama. Proyeksi kontraksi Kuartal I dalam PDB secara kuartalan berkisar 3,0%-4,0%. Hal ini akan menghasilkan resesi ganda,” ungkap ekonom EY Howard Archer.

Sementara itu, Menteri Keuangan Inggris Rishi Sunak menggaungkan pernyataannya dari pekan lalu di mana ia mengatakan bahwa laju ekonomi akan memburuk sebelum pemulihan terjadi.

Sunak juga menyatakan optimistisnya terhadap peluncuran vaksin dan kebijakan stimulus virus pemerintah, termasuk skema dukungan cuti kerja. Skema ini membayarkan sebagian besar gaji sektor swasta hingga April.

“Jelas segalanya akan menjadi lebih sulit sebelum menjadi lebih baik, dan angka (PDB) hari ini menyoroti skala tantangan yang kami hadapi. Tetapi ada alasan untuk berharap bahwa peluncuran vaksin kami berjalan dengan baik dan melalui Rencana untuk Lapangan Kerja, kami akan menciptakan peluang baru bagi mereka yang paling membutuhkan. Dengan dukungan ini, dan ketangguhan serta usaha rakyat Inggris, kita akan melewati ini,” ungkap Sunak, pada Jumat.

Menurut laporan, Inggris telah menjadi negara di Eropa yang paling parah dilanda pandemi dahsyat, dengan jumlah kematian lebih dari 86.000. Pemerintah pun menaruh harapan pada upaya vaksinasi massal, yang sejauh ini telah melibatkan sekitar tiga juta orang yang telah menerima suntikan vaksin.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN