Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Keuangan (Menkeu) Inggris Rishi Sunak berpose dengan membawa makalah Rencana Ekonomi Musim Dingin di luar kantor 11 Downing street, London pada 24 September 2020. ( Foto: DANIEL LEAL-OLIVAS / AFP )

Menteri Keuangan (Menkeu) Inggris Rishi Sunak berpose dengan membawa makalah Rencana Ekonomi Musim Dingin di luar kantor 11 Downing street, London pada 24 September 2020. ( Foto: DANIEL LEAL-OLIVAS / AFP )

Ekonomi Inggris Sangat Tertekan Covid-19

Senin, 23 November 2020 | 07:20 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Menteri Keuangan Rishi Sunak memperingatkan bahwa ekonomi Inggris telah berada di bawah tekanan luar biasa yang disebabkan oleh pandemi virus corona Covid-19. Pernyataan itu disampaikan menjelang kajian anggaran belanja pemerintah pada pekan depan.

“Perkiraan ekonomi yang akan dirilis bersamaan dengan kajian anggaran belanja pemerintah pada Rabu (25/11), bakal menunjukkan tekanan dan tekanan yang sangat besar yang dialami ekonomi kita,” ujar Sunak kepada Sky News, yang dilansir oleh AFP pada Minggu (22/11).

Namun dia menolak untuk kembali menerapkan langkah-langkah penghematan.

“Temuan perkiraan independen Kantor Tanggung Jawab Anggaran serta 750.000 orang yang kehilangan lapangan kerja akibat virus corona akan dipertimbangkan saat kami mencari-cari cara terbaik untuk melawan virus,” kata Sunak.

Di sisi lain, terlepas adanya dampak mendalam dari pandemi Covid-19 terhadap kajian anggaran belanja, Sunak menyatakan menolak kemungkinan untuk kembali memberlakukan langkah-langkah penghematan pada ekonomi negara.

“Belanja pemerintah akan terus meningkat pada belanja publik sehari-hari tahun lalu. Sama sekali tidak ada cara bagi siapa pun untuk mengatakan itu adalah penghematan,” tuturnya.

Selain itu, Sunak juga menolak untuk membatalkan pembekuan pembayaran sektor publik yang sangat diharapkan.

“Ini langkah adil untuk memikirkan tentang apa yang terjadi dengan upah, dengan pekerjaan, dengan jam kerja. Di seluruh perekonomian ketika kita berpikir tentang apa yang benar untuk dilakukan di sektor publik,” katanya.

Menurut laporan, Inggris sangat terdampak oleh Covid-19 dibandingkan negara lain di Eropa karena mencatat lebih dari 54.000 jiwa telah meninggal dunia dari 1,4 juta kasus. Pada November, pemerintahan Perdana Menteri Boris Johnson memberlakukan karantina (lockdown) selama empat minggu untuk menghentikan penyebaran virus corona. Aturan karantina dijadwalkan dicabut sebagian pada 2 Desember, yang mana keputusan ini memberikan sedikit kelegaan bagi pelaku bisnis.

Sunak mengatakan pemerintah sedang mencari cara bagaimana para keluarga dapat menghabiskan waktu bersama selama Natal. Namun dia tidak mau mendahului pengumuman tentang strategi menghadapi virus corona pada musim dingin di Inggris, yang akan disampaikan Johnson pada Senin (23/11).

Pemerintah mengatakan aturan lockdown di seluruh Inggris akan diganti dengan sistem berjenjang, yang sebelumnya beroperasi di seluruh negeri

Menjelang kajian anggaran belanja, Departemen Keuangan Inggris pada Sabtu (21/11) meluncurkan paket bantuan sebanya 3 miliar poundsterling (setaraUS$ 3,9 miliar atau 3,4 miliar euro) untuk mendukung Layanan Kesehatan Nasional (NHS) dalam mengatasi dampak virus corona.

Sebagai bagian dari paket itu, sebanyak 1 miliar poundsterling akan dibelanjakan untuk mengatasi masalah jaminan simpanan dalam layanan kesehatan, yakni membayar hingga satu juta pemeriksaan tambahan, pemindaian, dan operasi tambahan bagi para pasien yang pengobatannya sempat tertunda sejak pandemi Covid-19 dimulai.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN