Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Warga Iran membakar bendera Amerika Serikat (AS) dan Israel saat prosesi pemakaman komandan militer yang terbunuh Qasem Soleimani, kepala paramiliter Irak Abu Mahdi al-Muhandis dan korban lain dari serangan AS di ibukota Teheran, Iran pada 6 Januari 2020. Para pelayat memadati jalan-jalan di Teheran untuk memberi penghormatan kepada Soleimani, yang mempelopori operasi Timur Tengah Iran sebagai komandan Pasukan Quds Pengawal Revolusi, dan tewas dalam serangan pesawat tak berawak AS pada 3 Januari 2020 di dekat bandara Baghdad, Irak. ( Foto: AFP / Atta KENARE )

Warga Iran membakar bendera Amerika Serikat (AS) dan Israel saat prosesi pemakaman komandan militer yang terbunuh Qasem Soleimani, kepala paramiliter Irak Abu Mahdi al-Muhandis dan korban lain dari serangan AS di ibukota Teheran, Iran pada 6 Januari 2020. Para pelayat memadati jalan-jalan di Teheran untuk memberi penghormatan kepada Soleimani, yang mempelopori operasi Timur Tengah Iran sebagai komandan Pasukan Quds Pengawal Revolusi, dan tewas dalam serangan pesawat tak berawak AS pada 3 Januari 2020 di dekat bandara Baghdad, Irak. ( Foto: AFP / Atta KENARE )

Ekonomi Irak Terancam Kolaps

Selasa, 14 Januari 2020 | 07:57 WIB
Iwan Subarkah Nurdiawan (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

BAGHDAD, investor.id – Perekonomian Irak dapat kolaps jika sampai Amerika Serikat (AS) menerapkan ancaman sanksi-sanksinya. Termasuk memblokir akses ke sebuah rekening di AS, tempat pemerintah Irak menyimpan pendapatan minyak dan selama ini memenuhi 90% kebutuhan anggaran nasional.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump dibuat marah oleh Parlemen Irak. Setelah hasil pemungutan suaranya pada 5 Januari 2020 lalu memutuskan untuk mengusir keluar pasukan asing. Termasuk sekitar 5.200 pasukan AS, yang sejak 2014 membantu tentara Irak memerangi kelompok-kelompok jihadis.

Trump mengancam jika pasukannya diminta keluar, AS akan menjatuhkan sanksi-sanksi yang sangat berat. Dua pejabat Irak mengungkapkan kepada AFP bahwa AS menyampaikan langsung pesan itu kepada kantor Perdana Menteri (PM) Adel Abdel Mahdi.

“Kantor PM mendapatkan telepon bernada ancaman bahwa jika pasukan AS ditendang keluar, kami -yakni AS- akan memblokir akses anda ke The Fed New York,” ujar seorang pejabat Irak.

Keputusan Parlemen Irak itu juga dipicu kemarahan, setelah serangan drone AS di Baghdad pada dua hari sebelumnya menewaskan jenderal besar Iran Qasem Soleimani dan tangan kanannya di Irak, Abu Mahdi Al Muhandis.

Rekening bank sentral Irak di The Fed itu dibuka pada 2003. Menyusul invasi AS ke Irak yang kemudian menggulingkan diktator Irak ketika itu, Saddam Hussein.

Berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) No 1483, seluruh pendapatan dari penjualan minyak Irak disimpan di rekening tersebut. Resolusi itu juga menandai pencabutan sanksi-sanksi global yang selama ini mencekik ekonomi Irak, serta embargo minyak setelah rezim Saddam menginvasi Kuwait.

Irak adalah produsen minyak kedua terbesar di Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak atau OPEC. Lebih dari 90% anggaran negara, yang pada 2019 mencapai US$ 112 miliar, ditutupi dari pendapatan minyak.

Hingga saat itu, pendapatan yang diterima dalam dolar AS setiap harinya dialirkan ke rekening tersebut. Saldonya sekarang disebutkan sekitar US$ 35 miliar.

Setiap bulannya, Irak menarik dana tunai US$ 1-2 miliar dari rekening tersebut untuk transaksi perdagangan dan transaksi resmi.

“Kami negara produsen minyak. Rekening tersebut dalam dolar, sehingga jika aksesnya diputus, berarti terputus juga aliran dana,” kata pejabat Irak.

Pejabat yang lain menambahkan bahwa jika itu terajdi, pemerintah tidak dapat berfungsi atau membayar gaji pegawai dan nilai tukar mata uang akan anjlok.

“Yang berarti Irak akan kolaps,” ujar pejabat tersebut. (afp/sn)

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN