Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bendera nasional Amerika Serikat (AS) dan bendera nasional Tiongkok. ( Foto: Reuters )

Bendera nasional Amerika Serikat (AS) dan bendera nasional Tiongkok. ( Foto: Reuters )

Ekonomi Tiongkok Dapat Lampaui AS pada 2035

Senin, 1 Maret 2021 | 05:45 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

SINGAPURA, investor.id – Tiongkok digadang-gadang memiliki peluang bagus untuk melipatgandakan ekonomi negaranya pada 2035, dan melampaui Amerika Serikat (AS) sebagai negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Demikian disampaikan seorang ekonom dari Bank of America.

Presiden Tiongkok Xi Jinping sendiri sempat menyampaikan pada November tahun lalu bahwa pihaknya memungkinkan melipat gandakan produk domestik bruto (PDB), dan pendapatan per kapita negara pada 2035. Saat ini Negeri Tirai Bambu itu berusaha menjadi negara maju.

Namun untuk melipatgandakan PDB Tiongkok membutuhkan pertumbuhan tahunan rata-rata sebesar 4,7% untuk 15 tahun ke depan, di mana menurut beberapa pengamat masalah itu mungkin sulit dicapai. Selain itu, Kepala Ekonomi Asia di BofA Global Research, Helen Qiao mengatakan beberapa langkah reformasi akan membantu Tiongkok untuk sampai di sana.

“Kami pikir Tiongkok akan mampu mencapainya,” ujarnya dalam program “Street Signs Asia” CNBC pada Jumat (26/2).

Qiao memprediksi, selain melipatgandakan PDB-nya, raksasa ekonomi di Asia itu bakal melampaui AS sebagai ekonomi terbesar dunia sekitar 2027 hingga 2028. Tiongkok sendiri merupakan salah satu dari sedikit ekonomi global yang tumbuh pada 2020. Ini terlepas dari tantangan yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19.

Data resmi menunjukkan ekonomi Tiongkok pada tahun lalu tumbuh 2,3% tahun lalu, sedangkan Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan Tiongkok untuk tahun ini mencapai 8,1%. Sementara itu perkiraan terbaru yang dirilis pemerintah menunjukkan ekonomi AS berkontraksi sebesar 3,5% pada 2020, sementara itu IMF mengatakan ekonomi AS di tahun ini bisa tumbuh 5,1%.

Khawatirkan Pertumbuhan Tiongkok

Dalam sebuah laporan yang diterbitkan awal bulan ini, Qiao membahas kekhawatiran umum yang akan menghalangi Tiongkok dari tujuan ekonominya pada 2035. Terdapat tiga alasan yang sering dikutip oleh para skeptis, yakni pertama, tentang populasi lanjut usia di Tiongkok yang akan mengganggu pertumbuhan potensinya. Kedua adalah, rasio utang terhadap PDB Tiongkok yang tinggi akan mengancam stabilitas ekonomi. Ada pun alasan ketiga adalah soal model pertumbuhan yang didorong investasi negara tidak berkelanjutan dan tidak dapat mendorong pertumbuhan dalam jangka panjang.

Menurut laporan, kekhawatiran-kekhawatiran tersebut akan memperlambat, tetapi tidak menggagalkan, lintasan pertumbuhan Tiongkok secara keseluruhan. Pasalnya, pemerintah telah memiliki beberapa kebijakan untuk mengatasi tantangan tersebut. Tindakan tersebut mencakup langkah-langkah yang fokus pada menstabilkan utang, dan inisiatif untuk mendorong urbanisasi lebih lanjut dan pembukaan sektor jasa.

“Namun, perjalanan Tiongkok menuju sasarannya pada 2035 tidaklah bebas risiko,” tutur Qiao kepada CNBC.

Dia menambahkan, bahkan jika Tiongkok melaksanakan reformasi seperti yang dijanjikan, ada banyak faktor yang tidak dapat dikendalikan oleh negara tersebut.

Ekonom tersebut mengutip ketegangan lebih lanjut antara AS dan Tiongkok sebagai ancaman memungkinkan bagi pertumbuhan ekonomi Tiongkok. “Akankah hubungan itu tetap manis dan damai? Kami tidak begitu yakin,” ujarnya.

Sepeti diketahui, Ketegangan AS-Tongkok dilaporkan meningkat selama masa jabatan mantan Presiden Donald Trump, dan menjadi salah satu ancaman terbesar bagi ekonomi global sebelum pandemi Covid-19.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN