Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Foto ilustrasi: Sejumlah pekerja berangkat ke pabrik. Sebagian manufaktur di Tiongkok sudah mulai buka.

Foto ilustrasi: Sejumlah pekerja berangkat ke pabrik. Sebagian manufaktur di Tiongkok sudah mulai buka.

Ekonomi Tiongkok Kontraksi 6,8%

Listyorini, Jumat, 17 April 2020 | 09:57 WIB

JAKARTA, Investor.id – Biro Statistik Nasional Tiongkok melaporkan, Jumat (17/4/2020) bahwa produk domestik bruto (PDB) kuartal pertamanya mengalami kontraksi 6,8% pada tahun 2020 dibanding tahun lalu (year on year), sebagai dampak pandemi virus corona (Covid-19).

Kontraksi ekonomi Tiongkok ini menjadi penurunan pertama sejak setidaknya 1992, ketika catatan PDB triwulanan resmi dimulai, menurut Reuters. Jika dibanding kuartal keempat 2019, PDB Tiongkok turun 9,8%.

Analis yang disurvei oleh Reuters memperkirakan PDB Tiongkok akan menyusut 6,5% pada kuartal pertama (Januari hingga Maret), dibandingkan dengan tahun lalu. Perkiraan dari 57 analis yang disurvei berkisar dari 28,9% kontraksi hingga ekspansi 4%.

Ekonomi Tiongkok tumbuh 6% pada kuartal sebelumnya, dari September hingga Desember 2019. Negara ini menghadapi tekanan luar biasa di tengah meningkatnya ketidakpastian dan ketidakstabilan akibat wabah Covid-19, kata biro statistik.

Tiongkok menghadapi kesulitan dan tantangan baru dalam melanjutkan kembali pekerjaan dan produksi. Ekonomi terbesar kedua di dunia itu terhenti awal tahun ini ketika Beijing menerapkan lockdown dan karantina skala besar untuk membatasi kontak manusia guna mencegah wabah Covid-19.

Pada kuartal pertama, penjualan ritel di Tiongkok turun 19% dari tahun lalu sementara produksi industri turun 8,4% pada periode yang sama.Data terbaru datang setelah ekspor turun tajam pada Januari dan Februari dibandingkan tahun lalu, dan aktivitas manufaktur anjlok.

Ekonomi Tiongkok mulai bergerak dengan dimulainya pembukaan banyak perusahaan dan pabrik-pabrik sudah bekerja kembali. Tetapi tantangannya adalah anjloknya permintaan global karena sebagian besar negara masih memberlakukan pembatasan sosial dengan ketat sehingga menurunkan aktivitas warganya dan tetap tinggal di rumah. Hal ini menyebabkan permintaan global anjlok tajam.

Sumber : REUTERS

BAGIKAN