Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan bekerja di jalur perakitan truk di sebuah pabrik manufaktur kendaraan Jianghuai Automobile Group Corp. (JAC), di Qingzhou, provinsi Shandong, Tiongkok timur pada 15 Maret 2021. ( Foto: STR / AFP )

Karyawan bekerja di jalur perakitan truk di sebuah pabrik manufaktur kendaraan Jianghuai Automobile Group Corp. (JAC), di Qingzhou, provinsi Shandong, Tiongkok timur pada 15 Maret 2021. ( Foto: STR / AFP )

Ekonomi Tiongkok Tidak Dapat Mengandalkan Ekspor

Rabu, 14 April 2021 | 06:44 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

BEIJING, investor.id – Tahun lalu laju ekonomi Tiongkok mendapat sokongan ekspor yang kuat, tetapi sokongan itu sudah berkurang. Menurut bea cukai negara pada Selasa (13/4), ekspor dalam nilai dolar hanya naik 30,6% pada Maret dari tahun lalu atau meleset dari ekspektasi untuk tumbuh 35,5%.

Menurut Juru bicara Bea Cukai Li Kuiwen kepada wartawan, untuk tiga bulan ke depan basis tinggi yang tercatat tahun lalu menjadi tantangan perdagangan pada Kuartal II. Selain itu, Li mengatakan kebangkitan kasus infeksi Covid-19 dan ketidakpastian di luar negeri – seperti tersumbatnya jalur Terusan Suez karena kapal peti kemas yang kandas – membuat Tiongkok masih memiliki jalan panjang untuk mencapai pertumbuhan perdagangan yang stabil.

Sebagai informasi, otoritas Tiongkok ingin mengalihkan ketergantungan ekonomi negaranya ke konsumsi swasta untuk mendongkrak pertumbuhan, dan menghindari manufaktur barang untuk ekspor. Namun kategori tersebut masih memainkan peran penting dalam perekonomian secara keseluruhan. Apalagi pada tahun lalu, pabrik-pabrik Tiongkok dapat melanjutkan produksi jauh lebih awal dibandingkan pabrik di negara lain yang masih berjuang melawan pandemi Covid-19.

Ekspor nasional tahun lalu dilaporkan naik 3,6%, sementara produk domestik bruto (PDB) negara tumbuh 2,3% dan menjadikannya sebagai satu-satunya negara yang berkembang di tengah pandemi. Ada pun sebagian besar pertumbuhan ekspor tahun lalu berasal dari lonjakan permintaan masker dan peralatan pelindung diri (APD) lainnya.

Menurut Larry Hu, kepala ekonom Tiongkok di Macquarie, kebangkitan dini Tiongkok dari pandemi dan stimulus di luar negeri telah meningkatkan pembelian produk yang dilakukan oleh pabrikan Tiongkok.

“Kedua faktor ini (akan) memudar di sisa tahun ini karena negara-negara lain mulai dibuka kembali dan konsumen dapat berbelanja jasa lebih banyak. Oleh karena itu, saya tidak berpikir kecepatan saat ini bisa bertahan,” katanya dalam surat elektronik (email), Selasa, yang dikutip CNBC.

Data Wind Information menunjukkan peningkatan ekspor sebesar 30,6% pada Maret, yang berasal dari basis rendah. Ekspor Tiongkok dilaporkan turun 13,6% pada Kuartal I tahun lalu di tengah kontraksi PDB sebesar 6,8%

Sementara itu, para analis Nomura memperkirakan pertumbuhan ekspor turun menjadi 10% hingga 15% di bulan April, dengan perlambatan yang lebih signifikan di paruh kedua tahun ini.

E-commerce Internasional

Sebagai isyarat lain terkait batas kemampuan perdagangan untuk berkontribusi pada pertumbuhan nasional, e-commerce lintas batas antara Tiongkok dan negara lain menunjukkan kinerja lemah pada Kuartal I.

Tren baru yang digerakkan oleh internet hanya menyumbang 419,5 miliar yuan (US$ 64,5 miliar) untuk diperdagangkan dalam tiga bulan pertama tahun ini. Tren itu menunjukkan kontribusi di bawah 5% dari perdagangan Tiongkok selama waktu itu. Catatan ini edikit berubah dari rasio hampir 5,3% untuk semua tahun lalu.

Sementara angka Kuartal I menandai pertumbuhan 46,5% dari basis yang lemah tahun lalu, nilai perdagangan e-commerce lintas batas dalam tiga bulan pertama tahun ini berada di bawah rata-rata kuartalan tahun lalu yakni sebesar 422,5 miliar yuan.

“Proporsi e-commerce lintas batas tetap rendah. Ini menunjukkan batasan yang dimilikinya dalam berkontribusi pada impor dan ekspor dan ekonomi secara keseluruhan,” tutur Bruce Pang, kepala penelitian makro dan strategi di China Renaissance, berdasarkan terjemahan CNBC dari pernyataan berbahasa Mandarin.

Pang memperkirakan otoritas Tiongkok bakal fokus pada perluasan permintaan domestik dan pasar lokal, sebagai cara untuk melakukan lindung nilai terhadap potensi fluktuasi perdagangan luar negeri.

Di sisi lain, catatan impor naik 38,1% lebih besar dari perkiraan pada Maret. Pemerintah Tiongkok dijadwalkan merilis angka PDB Kuartal I pada 16 April. Data untuk Januari dan Februari biasanya dipengaruhi oleh Festival Musim Semi, sebuah hari libur terbesar di negara tersebut.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN