Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Ekspansi Ekonomi Inggris Meningkat

Kamis, 28 Juli 2016 | 08:07 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

LONDON – Pertumbuhan ekonomi Inggris di luar dugaan meningkat pada triwulan dua 2016, padahal berlangsung menjelang referendum keanggotaan Uni Eropa (UE), yang hasilnya mayoritas rakyat Inggris memutuskan keluar.

 

Badan statistik nasional Inggris, ONS melaporkan pada Rabu (27/7), produk domestik bruto (PDB) tumbuh 0,6% pada April-Juni 2016. Hasil tersebut melampaui ekspektasi pasar yang sebesar 0,5%.

 

Kegiatan ekonomi Inggris selama tiga bulan itu didukung oleh bangkitnya produksi industri. Sedangkan ekspansi ekonomi pada triwulan pertama 2016 adalah sebesar 0,4%.

 

“Data PDB hari ini menunjukkan fundamental ekonomi Inggris kuat,” ujar Menteri Keuangan (Menkeu) Inggris Philip Hammond. Ia menambahkan bahwa negaranya dalam posisi kuat untuk menegosiasikan keluar dari UE, menyusul hasil referendum 23 Juni 2016.

 

“Pada kuartal dua tahun ini ekonomi kita tumbuh 0,6%, lebih pesat dari perkiraan. Produksi juga mencatat kenaikan kuartalan tertinggi dalam hampir 20 tahun terakhir sehingga jelas kita memasuki negosiasi untuk meninggalkan UE dalam posisi ekonomi yang kuat,” tutur Hammond.

 

Aktivitas ekonomi Inggris pada kuartal II-2016 terutama didorong oleh kuatnya pertumbuhan produksi industri, yang meningkat 2,1%. Bandingkan dengan penurunan 0,2% pada triwulan sebelumnya. Produksi industry terbaru menyamai data pada kuartal III-1999.

 

Sektor jasa tumbuh 0,5% pada triwulan tersebut, tapi diiringi penurunan di sektor pertanian serta konstruksi. Ekonom Scotiabank Alan Clarke mengatakan, kuartal dua tidak digelayuti kekhawatiran-kekhawatiran terkait Brexit, karena banyak yang memperkirakan Inggris bertahan di UE.

 

“Hasil referendum itu merupakan kejutan besar. Sebagian besar mengira Inggris akan memilih bertahan di UE, sehingga kekhawatiran-kekhawatiran sebelum pemungutan suara tidak separah yang diperkirakan,” tutur Clarke.

 

Pada Rabu, Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker menunjuk politikus senior Prancis dan mantan komisioner UE Michel Barnier untuk memimpin negosiasi dengan Inggris. “Ia negosiator kawakan yang kaya pengalaman di area-area kebijakan besar yang relevan dengan negosiasi. Jaringan kontaknya juga sangat luas,” kata Juncker.

 

Perdana Menteri (PM) Inggris Theresa May sudah memberi isyarat pemerintah tidak akan terburu-buru menjalani negosiasi keluar dari UE. Perundingan kemungkinan besar baru akan dimulai awal tahun depan.

 

“Negosiasi ini akan mengindikasikan dimulainya masa penyesuaian. Tapi saya yakin kami memiliki instrumen-instrumen untuk menangani tantangan-tantangan ke depan. Bersama Bank of England kami akan mengambil langkah apa pun yang dianggap perlu untuk mendukung perekonomian serta menjaga kepercayaan bisnis dan konsumen,” kata Hammond. (afp/sn)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN