Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kotak-kotak berisi vaksin Moderna Covid-19 sedang disiapkan untuk dikirim di pusat distribusi McKesson, di Olive Branch, Mississippi, Amerika Serikat (AS) pada 20 Desember 2020. ( Foto: Paul Sancya / POOL / AFP )

Kotak-kotak berisi vaksin Moderna Covid-19 sedang disiapkan untuk dikirim di pusat distribusi McKesson, di Olive Branch, Mississippi, Amerika Serikat (AS) pada 20 Desember 2020. ( Foto: Paul Sancya / POOL / AFP )

EMA Tunda Keputusan Otorisasi Vaksin Covid Moderna

Selasa, 5 Januari 2021 | 08:00 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

DEN HAAG, investor.id – Badan pengawas obat-obatan Uni Eropa (UE) atau European Medicines Agency (EMA) telah menunda keputusan otorisasi penggunana darurat vaksin Covid-19 buatan perusahaan obat Amerika Serikat (AS) Moderna pada Senin (4/1), dan melanjutkan pembahasan pada Rabu (6/1). Pertemuan khusus ini diajukan menyusul meningkatnya kritikan atas lambatnya peluncuran vaksin di blok UE.

EMA menyampaikan akan melanjutkan pembicaraan soal pemberian lampu hijau kepada vaksin kedua UE pada Rabu. Sebelumnya, mereka mendapat tekanan dari negara-negara anggota UE untuk mempercepat pemberian persetujuan darurat. Rencana pembahasan ini telah dimajukan dari jadwal awal 12 Januari menjadi 6 Januari, kemudian dimajukan lagi pada 4 Januari.

“Komite EMA untuk pembahasan obat-obatan manusia tentang vaksin Covid-19 (oleh) Moderna belum mencapai kesimpulan hari ini. Pembicaraan akan berlanjut pada Rabu. Tidak ada komunikasi lebih lanjut yang akan dikeluarkan hari ini oleh EMA,” demikian cuitan EMA di Twitter.

UE sebenarnya telah meluncurkan kampanye vaksinasi dengan vaksin Pfizer-BioNTech pada 27 Desember tahun lalu. Namun kemajuan yang dialami UE jauh lebih lambat daripada di Amerika Serikat (AS), Inggris, atau Israel.

Komisi Eropa sebelumnya memberikan pembelaan terhadap kritikan yang ditujukan ke blok mata uang tunggal. UE dinilai lambat dalam meluncurkan vaksin, dan rencananya bakal mengakibatkan UE melalui rintangan.

“Jelas bahwa upaya yang begitu kompleks akan selalu membawa kesulitan,” ujar Juru bicara Eric Mamer kepada wartawan.

Ada pun vaksin Pfizer-BioNTech – yang dikembangkan di Jerman – sebagai satu-satunya yang saat ini diizinkan untuk digunakan di Uni Eropa, usai memperoleh percepatan izin EMA pada 21 Desember.

Di AS, vaksin Pfizer-BioNTech digunakan bersamaan dengan vaksin Moderna. Sedangkan Inggris, pada Senin sudah mulai menggunakan vaksin lokal buatan raksasa perusahaan farmasi AstraZeneca.

Menurut catatan, negara-negara di UE telah tertinggal jauh dalam hal vaksinasi Covid-19. Prancis, misalnya, baru memberikan vaksin tahap pertama kepada lebih dari 500 orang. Sementara itu, otoritas Jerman telah memvaksinasi 200.000 orang.

Sedangkan Belanda menyatakan telah melakukan vaksinasi selama dua hari hingga Rabu. Komisi Eropa pun menekankan bahwa pihaknya telah membeli akses ke hampir dua miliar dosis dari enam vaksin potensial atau sekitar empat kali lipat populasi seluruh Uni Eropa.

Sebagai informasi, vaksin Moderna yang dikembangkan di AS memiliki efektivitas 94,1% dalam mencegah Covid-19 dibandingkan dengan vaksin plasebo dalam uji klinis terhadap 30.400 relawan. Vaksin ini memberikan hasil sedikit lebih baik pada orang dewasa yang lebih muda dibandingkan dengan orang tua.

EMA pekan lalu mengatakan, bahwa vaksin virus corona yang dikembangkan oleh AstraZeneca dan Universitas Oxford – yang telah mendapat persetujuan Inggris pada Rabu (30/12) – tidak mungkin mendapat lampu hijau di UE pada bulan depan. Di samping itu, fakta bahwa kantor pusat EMA telah pindah dari London ke Amsterdam pasca-Brexit sendiri telah memicu komentar tentang bagaimana Inggris dapat bergerak lebih cepat setelah keluar blok UE.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : AFP

BAGIKAN