Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seorang perawat memberikan suntikan vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca kepada mahasiswi kesehatan di  UBO (Universite de Bretagne occidentale) di Brest, Prancis barat, pada 12 Maret 2021. ( Foto: Fred TANNEAU / AFP )

Seorang perawat memberikan suntikan vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca kepada mahasiswi kesehatan di UBO (Universite de Bretagne occidentale) di Brest, Prancis barat, pada 12 Maret 2021. ( Foto: Fred TANNEAU / AFP )

Eropa Menuju Kekebalan Kelompok pada Akhir Juli

Rabu, 5 Mei 2021 | 07:07 WIB
Iwan Subarkah Nurdiawan (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

BRUSSELS, investor.id – Seperempat populasi Uni Eropa (UE) sudah mendapatkan setidaknya satu kali suntikan vaksin Covid-19. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen pun optimistis pada akhir Juli 2021 sebanyak 70% orang dewasa di UE sudah mendapatkan imunisasi Covid-19.

Pencapaian itu menunjukkan bahwa program vaksinasi Covid-19 di Eropa sekarang melonjak. Setelah tersendat-sendat pada triwulan pertama 2021 lantaran terhambatnya pasokan vaksin dari AstraZeneca.

Hingga Selasa (4/5) siang waktu setempat, 25,1% dari 446 juta populasi UE sudah menerima setidaknya satu kali suntikan vaksin Covid-19.

“Vaksinasi meningkat pesat di seluruh UE. Kami baru saja melewati 150 juta vaksinasi. Seperempat dari seluruh warga Eropa sudah menerima dosis pertama. Kami akan memiliki cukup dosis untuk memvaksinasi 70% orang dewasa UE pada Juli 2021,” tutur von der Leyen, via Twitter dan dikutip AFP.

Kekebalan kelompok dalam hal ini sering diartikan sebagai setidaknya 70% populasi penduduk sebuah negara atau wilayah sudah mendapatkan vaksinasi. Data yang dihimpun AFP menunjukkan bahwa 112 juta orang di Eropa sudah menerima setidaknya satu suntikan dan sudah lebih dari 153,8 juta dosis vaksin Covid-19 yang sudah diberikan di Eropa.

Sedikitnya 41,9 juta orang di Eropa sudah mendapatkan vaksinasi penuh atau 9,4% dari populasi. Pesatnya vaksinasi di Eropa membuat kawasan ini menuju 70% dari 365 juta orang dewasanya sudah diimunisasi pada akhir Juli 2021.

Target tersebut sudah dimajukan dua bulan. Dengan faktor pendorong utama adalah meningkatnya pengiriman pasokan vaksin buatan BioNTech-Pfizer. Vaksin ini mendominasi jumlah dosis vaksin yang sudah diberikan di 27 negara anggota UE.

Terkait keterlambatan pengiriman vaksin dari AstraZeneca pada triwulan pertama tahun ini, UE sudah mengambil langkah hukum. Produsen tersebut dianggap ingkar janji dalam pengiriman dosis vaksinnya.

UE sekarang memfokuskan pada teknologi mRNA yang digunakan dalam vaksin Covid-19 buatan BioNTech-Pfizer. UE masih bernegosiasi untuk menambah pesanan 1,8 miliar dosis dalam menghadapi varian-varian Covid-19, memvaksinasi remaja, dan mengekspornya ke negara-negara yang membutuhkan di luar UE.

Walaupun program vaksinasi Covid-19 di UE sekarang meningkat pesat, tapi masih tetap tertinggal dibandingkan Amerika Serikat (AS) dan Inggris. AS sejauh ini sudah memvaksinasi penuh 31,9% penduduknya. Sedangkan Inggris 22,8%.

Israel yang memimpin dalam jumlah vaksin yang sudah diberikan sudah mencapai 58,5% populasinya divaksin penuh. Tapi populasi penduduknya relatif sedikit dibandingkan AS, Inggris, dan UE.

Ketiga negara dan kawasan tersebut tahun lalu menginvestasikan dana besar-besaran untuk menjamin mendapatkan pasokan vaksin Covid-19.

Situasinya sangat bertolak belakang dengan negara-negara miskin. Masih banyak yang belum dapat memvaksinasi populasi penduduknya. Walaupun fasilitas Covax yang didukung Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO sekarang berupaya untuk mengirimkan berdosis-dosis vaksin ke negara-negara tersebut, dan sebagian besar akan menggunakan vaksin buatan AstraZeneca.

Tapi pasokan vaksin AstraZeneca dari India, yang memiliki pabrik vaksin terbesar di dunia, sudah melambat lantaran negara tersebut sedang kewalahan menghadapi lonjakan kasus dan kematian dan per Selasa jumlah kasusnya menembus angka 20 juta.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN