Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Papan digital raksasa terlihat di kampus kantor pusat perusahaan Facebook di Menlo Park, California pada 23 September 2019. ( Foto: JOSH EDELSON / AFP )

Papan digital raksasa terlihat di kampus kantor pusat perusahaan Facebook di Menlo Park, California pada 23 September 2019. ( Foto: JOSH EDELSON / AFP )

Facebook akan Rekrut 10.000 Pekerja dari UE untuk Metaverse

Selasa, 19 Oktober 2021 | 06:16 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

PARIS, investor.id – Perusahaan layanan jejaring sosial Facebook pada Senin (18/10) mengumumkan rencana untuk mempekerjakan 10.000 orang di Uni Eropa (UE) untuk membangun metaverse. Ini adalah versi realitas virtual dari internet yang dilihat oleh raksasa teknologi sebagai masa depan.

CEO Facebook Mark Zuckerberg telah menyuarakan promosi sensasional di Lembah Silikon seputar gagasan metaverse. Layanan ini akan mengaburkan batas antara dunia fisik dan dunia digital.

Teknologi tersebut, misalnya, akan memungkinkan seseorang untuk mengenakan kacamata realitas virtual yang membuatnya terasa seolah-olah bertatap muka dengan seorang teman. Padahal sebenarnya mereka terpisah ribuan mil dan terhubung melalui jaringan internet.

"Metaverse memiliki potensi untuk membantu membuka akses ke peluang kreatif, sosial, dan ekonomi baru. Dan orang Eropa akan membentuknya sejak awal," kata Facebook dalam sebuah unggahan blog, Senin (18/10), yang dilansir AFP.

Perekrutan di UE akan tersebar selama lima tahun ke depan, mencakup apa yang disebutnya insinyur yang sangat terspesialisasi. Tetapi sebaliknya, perusahaan memberikan beberapa rincian rencananya untuk tim metaverse baru.

"UE memiliki sejumlah keunggulan yang menjadikannya tempat yang bagus bagi perusahaan teknologi untuk berinvestasi (antara lain) keuntungan besar pasar konsumen, universitas kelas satu, dan yang terpenting, talenta berkualitas tinggi," kata unggahan di blog itu.

Memperbaiki Reputasi Buruk

Pengumuman itu muncul saat Facebook bergulat dengan dampak skandal yang merusak, pemadaman layanan besar-besaran, dan meningkatnya seruan bagi regulasi untuk mengekang pengaruhnya yang luas.

Perusahaan telah menghadapi badai kritik selama sebulan terakhir setelah mantan karyawan Frances Haugen membocorkan studi internal. Ia menunjukkan Facebook tahu situsnya bisa berbahaya bagi kesehatan mental anak muda.

Andreas Aktoudianakis, analis kebijakan digital utama UE di European Policy Centre, mencatat bahwa Facebook memiliki reputasi buruk yang perlu diperbaiki. Menurutnya, pengumuman tentang metaverse mewakili narasi positif di masa-masa yang sulit karena kritikan.

Perekrutan baru juga bisa memberi Facebook kekuatan tawar-menawar karena berusaha mempengaruhi dua bagian besar dari undang-undang teknologi yang dinegosiasikan oleh UE, yakni Undang-Undang Pasar Digital dan Undang-Undang Layanan Digital.

Tetapi Aktoudianakis mengatakan peraturan teknologi ketat UE sebenarnya adalah salah satu alasan mengapa Eropa masuk akal dijadikan lokasi tim metaverse baru Facebook.

"Jika ada tempat di mana ada kejelasan tentang apa yang dapat Anda lakukan dengan kecerdasan buatan, setidaknya dibandingkan dengan yang lain, tempat itu adalah Eropa," katanya, menunjuk pada regulasi perlindungan data yang sama kuatnya.

Zuckerberg memperkirakan pada Juli 2021 bahwa Facebook akan bertransisi dari perusahaan yang mengelola media sosial sebagai bisnis utama, menjadi perusahaan metaverse selama lima tahun ke depan.

Facebook membeli Oculus, sebuah perusahaan yang membuat headset realitas virtual (VR), seharga US$ 2 miliar pada 2014. Sejak itu pihaknya telah mengembangkan Horizon, dunia digital di mana orang dapat berinteraksi menggunakan teknologi VR.

Pada Agustus 2021, perusahaan meluncurkan Horizon Workrooms, sebuah fitur di mana rekan kerja yang memakai headset VR dapat mengadakan rapat ruang virtual di mana mereka semua muncul sebagai versi kartun tiga dimensi (3D) dari diri mereka sendiri.

Mengaburkan Garis

Promotor Metaverse menunjukkan bahwa internet sudah mulai mengaburkan batas antara pengalaman virtual dan pengalaman nyata.

Selebritas seperti diva pop Ariana Grande dan rapper Travis Scott telah tampil untuk banyak penonton, menonton di rumah, melalui video game populer Fortnite.

Di Decentraland, platform daring lain yang secara luas dipandang sebagai pelopor metaverse, pengguna sudah bisa mendapatkan pekerjaan sebagai bandar di kasino virtual.

"Tidak ada perusahaan yang akan memiliki dan mengoperasikan metaverse. Seperti internet, fitur utamanya adalah keterbukaan dan interoperabilitas," kata Facebook.

Perusahaan lain menggelontorkan dana jutaan dolar untuk mengembangkan teknologi yang dapat mengubah versi yang lengkap dari metaverse menjadi kenyataan.

Epic Games, perusahaan yang mengelola Fortnite, telah mengumpulkan US$ 1 miliar dalam pendanaan baru. Sebagian dari uang itu ditetapkan untuk mendukung visinya tentang metaverse.

Sementara itu raksasa teknologi lainnya, termasuk Google dan Amazon, berinvestasi besar-besaran dalam inovasi yang dapat dibuktikan penting untuk pengembangan metaverse. Mereka juga mengembangkan komputasi awan dan penyimpanan data.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN