Menu
Sign in
@ Contact
Search
James Bullard (FOTO: Olivia Michael | CNBC)

James Bullard (FOTO: Olivia Michael | CNBC)

Fed Yakin Ekonomi AS Bisa 'Soft Landing'

Rabu, 3 Agustus 2022 | 08:41 WIB
Grace El Dora (redaksi@investor.id)

NEW YORK, investor.id – Presiden Federal Reserve (Fed) St Louis James Bullard mengatakan bahwa dirinya masih berpikir bahwa ekonomi dapat menghindari resesi, meskipun ia memperkirakan bank sentral perlu terus menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi.

“Saya pikir inflasi telah datang lebih panas dari apa yang saya harapkan selama kuartal kedua. Sekarang setelah itu terjadi, saya pikir kita harus sedikit lebih tinggi dari apa yang saya katakan sebelumnya,” kata pejabat bank sentral dalam pidatonya di New York, Selasa (3/8).

Baca juga: AS Resesi, Kebijakan The Fed Ditaksir Tak Lagi Agresif

Suku fed funds rate (FFR), yang merupakan patokan bank sentral, kemungkinan harus naik ke 3,75% -4% pada akhir 2022 menurut perkiraan Bullard. Saat ini FFR berada di kisaran 2,25%-2,5% setelah empat kali kenaikan suku bunga tahun ini.

FFR menetapkan tingkat yang dibebankan bank satu sama lain untuk pinjaman, tetapi dibawa melalui banyak instrumen utang konsumen dengan tingkat yang dapat disesuaikan.

Namun demikian, Bullard mengatakan bahwa kredibilitas Fed dalam dedikasinya untuk memerangi inflasi akan membantunya menghindari penurunan ekonomi.

Bullard membandingkan situasi Fed saat ini dengan masalah yang dihadapi bank sentral pada 1970-an dan awal 1980-an. Inflasi sekarang berjalan di titik tertinggi sejak 1981.

Dia yakin, Fed hari ini tidak perlu menyeret ekonomi ke dalam resesi seperti yang dilakukan oleh Gubernur Paul Volcker pada awal 1980-an.

“Bank sentral modern memiliki kredibilitas lebih dari rekan-rekan mereka di 1970-an. Karena ini ... The Fed dan (Bank Sentral Eropa) mungkin dapat melakukan disinflasi secara teratur dan mencapai pendaratan yang relatif lunak,” papar Bullard.

Pasar akhir-akhir ini telah membuat taruhan yang berlawanan, yaitu bahwa Fed yang hawkish akan menaikkan suku bunga sedemikian rupa. Jika demikian, ekonomi yang telah mengalami pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) negatif selama kuartal berturut-turut akan jatuh ke dalam resesi.

Imbal hasil obligasi pemerintah sedang menuju lebih rendah dan selisih antara imbal hasil tersebut telah menekan, umumnya merupakan tanda bahwa investor memandang suram pertumbuhan di masa depan.

Baca juga: Antisipasi Ancaman Resesi Global

Faktanya, harga di bursa berjangka menunjukkan bahwa Fed harus mengikuti kenaikan suku bunga tahun ini dengan pemotongan paling cepat setelah musim panas 2023.

Tetapi Bullard berpendapat bahwa kemampuan Fed untuk mengarahkan ekonomi ke arah soft landing sebagian besar bergantung pada kredibilitasnya, khususnya apakah pasar keuangan dan publik percaya bahwa Fed memiliki keinginan untuk menghentikan inflasi.

Dia membedakan kondisi saat ini dari era 1970-an, ketika The Fed memberlakukan kenaikan suku bunga saat menghadapi inflasi tetapi dengan cepat mundur.

“Kredibilitas itu tidak ada di era sebelumnya. Kami memiliki lebih banyak kredibilitas daripada sebelumnya,” tegasnya.

Editor : Grace El Dora (graceldora@gmail.com)

Sumber : CNBC

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com