Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Suasana gedung Evergrande Center di Shanghai, Tiongkok, pada 22 September 2021. ( Foto: HECTOR RETAMAL / AFP )

Suasana gedung Evergrande Center di Shanghai, Tiongkok, pada 22 September 2021. ( Foto: HECTOR RETAMAL / AFP )

Fitch Memangkas Proyeksi Pertumbuhan Tiongkok

Jumat, 24 September 2021 | 06:30 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

BEIJING, investor.id - Lembaga pemeringkat Fitch Ratings pada Kamis (23/9) memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi Tiongkok tahun ini. Dengan alasan perlambatan di sektor properti, sementara sektor tersebut kontribusi sangat besar terhadap perekonomian. Secara khusus Tiongkok sedang dihadapkan pada gejolak akibat krisis utang yagn dialami raksasa real estat Evergrande.

Tiongkok sebelumnya pulih paling cepat dari dampak-dampak pandemi Covid-19. Tetapi aturan-aturan ketat baru terhadap para pengembang properti telah menyebabkan deleveraging -atau penjualan aset dengan cepat untuk menutupi utang- secara mendadak. Kondisi ini mendorong raksasa perumahan Evergrande jatuh ke titik krisis.

Pasar keuangan ikut jatuh karena kekhawatiran bahwa grup Tiongkok tersebut dapat kolaps. Hal tersebut dikhawatirkan berdampak lebih besar terhadap ekonomi negara dan melebar ke sektor lainnya.

Fitch menyatakan, pihaknya memperkirakan pertumbuhan ekonomi Tiongkok mencapai 8,1% tahun ini, dibandingkan proyeksi sebelumnya 8,4%.

"Faktor utama yang membebani prospek adalah perlambatan di sektor properti," kata Fitch, Kamis (23/9), yang dikutip AFP.

Pelemahan di pasar properti terjadi setelah pengetatan peraturan baru-baru ini oleh pihak berwenang, yang ingin mengendalikan lonjakan harga dan pinjaman perusahaan yang berlebihan.

Pemerintah Tiongkok telah menindak pengembang properti dalam upaya untuk memaksa mereka mengurangi utang, dengan memperkenalkan garis tiga merah untuk mengekang leverage tahun lalu.

"Perumahan mulai turun dan tekanan keuangan membebani investasi real estat. Investasi perumahan secara langsung menyumbang sekitar 10% dari produk domestik bruto (PDB) dan aktivitas properti memiliki tiak besar ke industri lain," kata Fitch dalam laporan terbarunya.

Perlambatan pasar properti juga diperkirakan akan memukul pasar negara berkembang, yang berdampak pada permintaan komoditas global.

Pada Rabu (22/9) media melaporkan Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang menyerukan upaya untuk menjaga agar ekonomi tetap berjalan dengan stabil.

Pertemuan Dewan Negara yang dipimpinnya menggarisbawahi langkah-langkah untuk mempromosikan konsumsi, menstabilkan harga komoditas, dan mempertahankan pertumbuhan investasi maupun perdagangan asing.

Para investor cemas apakah Evergrande dapat melakukan pembayaran pada obligasi luar negeri yang jatuh tempo Kamis.

Pasar global diguncang di awal pekan ini oleh kekhawatiran bahwa perusahaan tidak memiliki cukup uang untuk melunasi utangnya. Hal ini meningkatkan peringatan bahwa perusahaan mungkin akan gagal dan menyebabkan kemungkinan bangkrut.

Namun, muncul harapan bahwa perusahaan bisa mencegah resolusi utang yang tidak teratur. Evergrande mengumumkan pihaknya telah mencapai kesepakatan untuk membayar bunga obligasi domestik terpisah yang juga jatuh tempo Kamis.

Namun, meskipun tidak memberikan uang tunai kepada pemegang obligasi di luar negeri, Evergrande memiliki masa tenggang 30 hari untuk menggalang dana.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN