Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pejalan kaki melintas di depan Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS. Foto: Spencer Platt / Getty Images / AFP

Pejalan kaki melintas di depan Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS. Foto: Spencer Platt / Getty Images / AFP

Fokus Pasar Pekan Depan, Putaran Terakhir Negosiasi Stimulus Fiskal

Sabtu, 17 Oktober 2020 | 08:58 WIB
Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Investor.id – Pekan depan, perhatian pasar akan fokus dengan negosiasi paket stimulus fiskal AS yang hingga saat ini belum mencapai kesepatan tentang jumlah yang akan digelontorkan untuk mempercepat pemulihan ekonomi AS yang rusak akibat pandemi virus corona (Covid-19).

Ketua DPR AS Nancy Pelosi mengatakan pada hari Jumat malam (Sabtu pagi WIB) bahwa dia akan berbicara dengan Menteri Keuangan Steven Mnuchin pada akhir pekan untuk putaran terakhir negosiasi tentang bantuan virus corona.

“Sekretaris kemarin mengatakan bahwa mereka bersedia menerima bahasa kami pada pengujian, tetapi mereka mengalami beberapa perubahan. Jadi kami masih menunggu untuk melihat apa saja perubahannya, karena seperti yang Anda ketahui, iblis dan para malaikat ada di detailnya, "kata Pelosi dalam wawancara dengan MSNBC.

“Begitu saya mendapatkannya, yang belum saya dapatkan, maka kita akan membicarakannya, mungkin pada hari Minggu,” tambahnya.

Sebelumnya, UU paket stimulus senilai US$ 2,2 triliun telah diloloskan oleh DPR yang dikuasai Partai Demokrat. Namun Gedung Putih menawar sebesar US$ 1,8 triliun. Trump mengatakan akan menaikkan tawaran itu, tapi ditentang oleh anggota Senat yang dikuasai Partai Republik.

Terobosan potensial dalam pencairan stimulus dapat memacu adanya rotasi pada saham-saham pendorong indeks utama di Wall Street, yang akan meredupkan daya tarik saham-saham Big Tech.

Adanya rotasi saham Big Tech juga dipicur oleh kekhawatiran bahwa aturan baru yang keras dan penegakan yang lebih ketat untuk perusahaan teknologi besar akan mengikuti jika calon presiden dari Partai Demokrat Joe Biden memenangkan Gedung Putih.

Lima perusahaan terbesar S&P 500, Apple Inc AAPL.O, Microsoft Corp MSFT.O, Amazon.com Inc AMZN.O, Alphabet Inc GOOGL.O dan Facebook Inc FB.O sekarang menyumbang 28% dari bobot indeks, Goldman Sachs mengatakan awal bulan ini.

Rata-rata, saham teknologi dan internet ini telah naik 49,23% tahun ini, dibandingkan dengan kenaikan 7% untuk S&P 500. Pandemi virus corona yang memicu ekonomi kerja-dari-rumah mendorong saham-saham Big Tech melesat, sementara menghancurkan perusahaan-perusahaan yang terkait dengan sektor-sektor seperti perjalanan, restoran, dan bahan bakar fosil.

Analis UBS telah merekomendasikan diversifikasi dari saham teknologi mega-cap di tengah tanda-tanda pemulihan ekonomi dan kenaikan valuasi. Mereka merekomendasikan penyeimbangan kembali ke semikonduktor AS, yang lebih sensitif terhadap pemulihan ekonomi, serta saham di pasar berkembang dan ekuitas yang berbasis di Inggris Raya.

Analis Societe Generale juga baru-baru ini mengutip lingkungan peraturan yang menantang sebagai salah satu alasan untuk melakukan diversifikasi dari saham teknologi AS ke saham Asia dan Eropa.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : REUTERS

BAGIKAN