Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seorang pendukung royalis memegang potret mendiang raja Thailand Bhumibol Adulyadej saat mengikuti aksi mendukungan kerajaan Thailand di Narathiwat, pada 25 Oktober 2020. ( Foto: MADAREE TOHLALA / AFP )

Seorang pendukung royalis memegang potret mendiang raja Thailand Bhumibol Adulyadej saat mengikuti aksi mendukungan kerajaan Thailand di Narathiwat, pada 25 Oktober 2020. ( Foto: MADAREE TOHLALA / AFP )

Gerakan Pro-Demokrasi Thailand Tuntut Prayut Mundur

Senin, 26 Oktober 2020 | 07:46 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

BANGKOK, investor.id – Ratusan massa pro-demokrasi berkumpul di persimpangan jalan utama kota Bangkok pada Minggu (25/10) untuk memperbarui tuntutan agar Perdana Menteri Thailand Prayut Chan-O-Cha mengundurkan diri. Tantangan yang belum pernah terjadi ini dilakukan setelah Prayut mengabaikan tenggat waktu lengser yang diberikan para pengunjuk rasa.

Menurut laporan, mantan panglima militer yang melancarkan kudeta pada 2014 sedang menghadapi tekanan dari gerakan pro-demokrasi yang dipimpin kelompok massa mahasiswa. Kelompok tersebut telah mengorganisir aksi demonstrasi besar-besaran selama berbulan-bulan, yang meminta pengunduran Prayut.

Kelompok massa beranggapan bahwa kekuasaan Prayut tidak sah, setelah pelaksanaan pemilihan umum kontroversial. Mereka kemudian pada Rabu (21/10) memberinya waktu tiga hari untuk mundur.

Tetapi batas waktu yang berakhir Sabtu (24/10) malam tidak diindahkan dan memicu ratusan orang berkumpul pada Minggu di persimpangan jalan Ratchaprasong, pusat kota Bangkok – yang dikelilingi oleh pusat perbelanjaan mewah, serta mendapat pengawasan dari polisi lalu lintas.

“Hari ini terbuka bagi semua orang yang ingin berbicara tentang ketidakpuasan mereka terhadap pemerintahan Prayut,” ungkap pihak penyelenggara Jatupat "Pai" Boonpattararaksa, yang menyerukan protes pada malam sebelumnya.

Dia juga menegaskan kembali tiga tuntutan inti gerakan massa pro-demokrasi, yakni agar Prayut mundur, menulis ulang konstitusi yang dibuat militer pada 2017, dan meminta pihak berwenang “berhenti melecehkan” lawan-lawan politik.

“Jika Prayut bersikeras tidak mau mundur, kami akan terus mendesak untuk menggulingkannya,” kata Pai.

Massa yang berkumpul tersebut oleh berbagai kalangan mulai dari waria, anak-anak muda yang siap menghadap tindakan keras polisi, dan kelompok pengunjuk rasa lebih tua yang mengkhawatirkan ekonomi Thailand terjun bebas.

“Saya ingin Prayut berpikir sebagai warga negara dibandingkan sebagai perdana menteri. Perekonomian benar-benar buruk, karena dia tidak bisa menyelesaikan masalah. Dia harus mengundurkan diri, dan membiarkan orang lain melakukannya,” tutur Nuch (43 tahun).

Di sisi lain, Prayut tetap bersikukuh. Bahkan saat menghadiri upacara doa untuk negara pada Sabtu, di kuil bersejarah Bangkok, dia mengatakan bahwa semua masalah dapat diselesaikan melalui kompromi.

Dia juga menyatakakan kepada wartawan, dirinya tidak akan berhenti.

Sekadar informasi, gerakan massa yang dipimpin mahasiswa ini sebagian besar tidak memiliki pemimpin, tetapi kelompok-kelompok yang berbeda dapat bersatu ketika mereka menuntut perombakan pemerintahan Prayut.

Seorang pengunjuk rasa pro-demokrasi (tengah) mengibarkan bendera pelangi selama mengikuti aksi protes anti-pemerintah di Bangkok,Thailand pada 25 Oktober 2020. ( Foto: LILLIAN SUWANRUMPHA / AFP )
Seorang pengunjuk rasa pro-demokrasi (tengah) mengibarkan bendera pelangi selama mengikuti aksi protes anti-pemerintah di Bangkok,Thailand pada 25 Oktober 2020. ( Foto: LILLIAN SUWANRUMPHA / AFP )

Rombak Kerajaan

Beberapa kelompok juga mengeluarkan seruan kontroversial untuk merombak monarki kerajaan yang tak tergoyahkan, dan mempertanyakan peran Raja Maha Vajiralongkorn di Thailand. Sedangkan klompok lain, yang disebut Gerakan Rakyat, mengumumkan pawai ke Kedutaan Besar Jerman pada Senin (26/10) sore dengan tujuan menentang tindakan raja, yang menghabiskan waktu lama di Jerman.

Menurut laporan, raja telah kembali ke Thailand selama satu setengah pekan terakhir untuk memperingati hari raya umat Buddha, dan kematian mendiang ayahnya Bhumibol Adulyadej. Namun tidak ada komentar raja mengenai aksi demonstrasi tersebut, meskipun ada ketegangan di Bangkok karena pengunjuk rasa semakin berani dalam menyuarakan tantangan mereka terhadap institusi kerajaan.

Raja sendiri jarang menemui rakyat, di mana para pendukungnya kerap menunggunya di luar istana. Tetapi pada Jumat (23/10) dia melanggar protokol kerajaan dengan melontarkan pujian terhadap seorag pria yang mengusung potret orangtua raja di antara aksi protes pro-demokrasi.

“Sangat berani. Sangat bagus. Terima kasih,” ujar raja kepada pria itu, menurut rekaman yang diposting di laman Facebook.

Setelah interaksi tersebut, kutipan raja menjadi trending Twitter di Thailand disertai tagar atau hashtag (#). Pada Minggu pagi, tagar “massa 25 Oktober” juga menjadi trending teratas.

Sebelumnya, Prayut memberlakukan langkah-langkah darurat yang melarang pertemuan lebih dari empat orang. Namun dia mencabutnya sepekan kemudian setelah gagal menghentikan puluhan ribu orang yang muncul untuk mengikuti demonstrasi gerilya di seluruh ibu kota.

Puluhan aktivis dan pengunjuk rasa pun ditangkap. Beberapa di antaranya menghadapi tuduhan serius seperti penghasutan. Selama akhir pekan, pemimpin terkemuka Parit “Penguin” Chiwarak, Panupong “Mike” Jadnok, dan Panusaya “Rung” Sithijirawattanakul – sebagai tiga tokoh yang secara konsisten menyerukan reformasi kerajaan – jaminannya telah ditolak.

Di sisi lain, puluhan pendukung royalis berkumpul di luar gedung parlemen pada Minggu sore untuk memprotes aksi para mahasiswa. Selang sehari sebelum parlemen menggelar sidang khusus untuk membahas cara-cara mengurangi ketegangan.

Warga Thailand di luar negeri juga mengadakan demonstrasi solidaritas gerakan mahasiswa. Semisal di Tokyo, Jepang, terlihat beberapa orang berkumpul pada Minggu dengan memberikan hormat tiga jari. Sementara itu di Seoul, Korea Selatan, para pengunjuk rasa memegang poster-poster bertuliskan “Pulihkan kekuasaan untuk rakyat”. 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN