Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Polisi Hong Kong (tengah) jatuh ke belakang saat bentrok dengan pengunjuk rasa pro-demokrasi, selama aksi protes yang berlangsung di Bandara Internasional Hong Kong pada 13 Agustus 2019.
 AFP / Manan VATSYAYANA

Polisi Hong Kong (tengah) jatuh ke belakang saat bentrok dengan pengunjuk rasa pro-demokrasi, selama aksi protes yang berlangsung di Bandara Internasional Hong Kong pada 13 Agustus 2019. AFP / Manan VATSYAYANA

Google Nonaktifkan Video Youtube Aksi Protes di Hong Kong

Sabtu, 24 Agustus 2019 | 23:08 WIB

SAN FRANCISCO, investor.id – Perusahaan jasa dan produk internet Google mengatakan telah menonaktifkan serangkaian saluran media sosial YouTube, yang muncul sebagai bagian dari kampanye terkoordinasi terhadap protes pro-demokrasi di Hong Kong.

Pengumuman oleh perusahaan induk YouTube muncul, setelah Twitter dan Facebook menuduh Pemerintah Tiongkok mendukung kampanye media sosial dengan tujuan mendiskreditkan gerakan protes Hong Kong dan menabur perselisihan politik di kota tersebut.

Google menonaktifkan 210 saluran YouTube yang ditemukan terkoordinasi secara seragam, saat mengunggah video terkait protes Hong Kong. Hal ini diungkapkan Shane Huntley dari kelompok analisis ancaman keamanan perusahaan.

“Temuann ini konsisten dengan pengamatan dan tindakan terbaru terkait Tiongkok yang diumumkan oleh Facebook dan Twitter,” kata Huntley dalam unggahan di media online pada Kamis (22/8). Twitter dan Facebook mengumumkan pada pekan ini bahwa pihaknya telah menangguhkan hampir 1.000 akun aktif yang ditautkan dengan kampanye yang terkoordinasi.

Sementara Twitter mengatakan telah menutup sekitar 200.000 lebih akun, sebelum mereka dapat menimbulkan kerusakan. “Akun-akun ini sengaja dan khusus mencoba menabur perselisihan politik di Hong Kong, termasuk merusak posisi legitimasi dan politik dari gerakan protes di lapangan,” demikian pernyataan Twitter, merujuk pada penutupan akun-akun aktif tersebut.

Sedang Facebook menyampaikan, sejumlah unggahan dari akun yang dilarang telah membanding-bandingkan demonstran di Hong Kong dengan kelompok militan Negara Islam (IS). Mereka dicap sebagai kecoak dan dituduh berencana membunuh orang menggunakan ketapel.

Pemerintah Tiongkok dinilai telah mengambil satu halaman dari buku pedoman Rusia karena menggunakan platform media sosial di luar negeri untuk melancarkan kampanye disinformasi melawan protes, menurut Soufan Center. Soufan adalah pusat nirlaba untuk penelitian, analisis, dan dialog strategis terkait dengan masalah keamanan global.

"Tiongkok telah menggelar kampanye disinformasi tanpa henti di Twitter dan Facebook yang didukung oleh bot, troll, dan apa yang disebut boneka kaus kaki dalam jumlah yang tidak diketahui," jelas pusat tersebut di situs webnya.

Pihaknya merujuk pada identitas online palsu yang dibuat untuk penipuan. "Perilaku Tiongkok kemungkinan akan tumbuh lebih agresif, baik dalam ranah fisik maupun virtual. Menggunakan aksi on the ground untuk melengkapi kampanye siber intensif, yang ditandai dengan disinformasi, defleksi, dan kebingungan," ungkap perwakilan Soufan Center. (afp/eld)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA