Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell. ( Foto: ERIC BARADAT / AFP  )

Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell. ( Foto: ERIC BARADAT / AFP )

Gubernur The Fed: Sangat Kecil Kemungkinan Terjadi Hiperinflasi

Kamis, 24 Juni 2021 | 05:59 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell pada Selasa (22/6) waktu setempat mengakui jika beberapa tekanan inflasi dilaporkan lebih kuat dan lebih persisten dibandingkan perkiraan sebelumnya. Hanya saja, kata dia, tekanannya tidak setara dengan beberapa episode terburuk yang pernah dialami oleh AS.

Saat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh panel khusus Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Powell terus mengaitkan sebagian besar lonjakan inflasi baru-baru ini dengan faktor-faktor yang terkait erat dengan pembukaan kembali kegiatan ekonomi.

Di antara faktor tersebut, gubernur bank sentral Amerika Serikat (AS) menyebutkan bahwa tiket pesawat, harga-harga hotel, dan perkayuan bersamaan dengan permintaan konsumen yang umumnya melonjak telah memompa perekonomian – yang mana setahun lalu menghadapi pemberlakuan pembatasan substansial di hari-hari awal pandemi Covid-19.

“Faktor-faktor itu, harus menyelesaikan sendiri dalam beberapa bulan mendatang. Mereka tidak berbicara tentang ekonomi ketat secara luas, dan hal-hal yang menyebabkan tingkat inflasi lebih tinggi dari waktu ke waktu,” ujar Powell kepada Subkomite Terpilih DPR (House Select Subcommittee) tentang Krisis Virus Corona, yang dikutip CNBC.

Pernyataan yang disampaikan Powell tersebut memberikan pembaruan ekonomi dan mencakup instrumen terkait pandemi yang diberikan Kongres kepada The Fed selama krisis.

“Saya akan mengatakan bahwa efek ini lebih besar dari yang kami perkirakan, dan mereka mungkin berubah menjadi lebih persisten dari yang kami harapkan. Tetapi data yang masuk sangat konsisten dengan pandangan, bahwa ini adalah faktor-faktor yang akan berkurang seiring waktu, dan inflasi kemudian akan bergerak turun mengarah ke target kami dan kami akan memantaunya dengan hati-hati,” katanya.

Harga inflasi utama pada Mei dilaporkan naik 5% year-over-year, tertinggi dalam hampir 13 tahun di tengah lonjakan harga mobil bekas dan sejumlah barang lain yang telah mengalami lonjakan permintaan menyusul pelonggaran pembatasan.

Pembaruan data dari alat ukur inflasi pilihan The Fed juga dirilis pada Jumat, yakni berdasarkan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti. Sedangkan perkiraan indeks Dow Jones untuk Mei mengalami kenaikan 3,4% year-over-year, lebih tinggi dari 3,1% pada April. Jika perkiraan itu benar maka menjadi indeks tertinggi sejak April 1992.

Janjikan Stabilitas Harga

Komite Partai Republik berulang kali menekan Powell, apakah ekonomi sedang menuju hiperinflasi seperti yang terjadi pada 1970-an dan awal 1980-an. Yakni di saat tingkat inflasi memuncak di atas 10%.

Powell mengatakan, bahwa skenario seperti itu sangat, sangat tidak mungkin.

“Kami percaya, apa yang kami lihat sekarang adalah inflasi dalam kategori barang dan jasa tertentu yang secara langsung dipengaruhi oleh peristiwa sejarah unik yang belum pernah dialami oleh kita sebelumnya,” ungkapnya.

Powell menambahkan, situasi saat ini disebabkan oleh permintaan yang sangat kuat pada tenaga kerja, barang dan jasa, ditambah dengan sisi pasokan yang tidak stabil. Dia pun berjanji bahwa The Fed akan waspada dalam menjalani perannya.

“Anda memiliki bank sentral yang berkomitmen pada stabilitas harga dan telah mendefinisikan apa itu stabilitas harga, dan sangat siap untuk menggunakan instrumen-instrumennya guna menjaga inflasi kita sekitar 2%. Semua hal ini menunjukkan kepada saya, bahwa episode seperti yang kita lihat di tahun 1970-an, saya tidak memperkirakan hal seperti itu terjadi,” katanya.

Tetapi Partai Republik di panel itu kembali mendorong narasi inflasi. Sebagian besar menyalahkan kebijakan ekonomi pemerintahan Biden karena menyebabkan tekanan ke atas dan kemungkinan The Fed harus menaikkan suku bunga.

“Jika Anda melihat hanya dua mandat Federal Reserve, lapangan kerja maksimum dan harga stabil, saat ini kami tidak memiliki keduanya dan itu karena keputusan kebijakan, keputusan kebijakan terutama oleh pemerintahan Biden,” ujar Steve Scalise dari Republik.

Tetapi Carolyn B. Maloney dari Demokrat New York mengaku lebih khawatir tentang reaksi The Fed, yang tergesa-gesa terhadap tekanan inflasi yang dia setujui tidak akan bertahan lama.

Maxine Waters dari Demokrat California juga mengatakan tidak terlalu khawatir tentang inflasi. “Saya tidak pernah benar-benar khawatir tentang inflasi, tetapi saya ingin mengawasi itu dan saya ingin Anda memberi tahu kami tentang apa yang terjadi dalam perekonomian kita,” kata Waters kepada Powell.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN