Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
(kiri-kanan bawah): anggota Komite Nobel Kimia, Pernilla Wittung Stafshede; Sekretaris Jenderal Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia, Goran K Hansson; dan anggota Komite Nobel Kimia, Peter Somfai saat berpidato dalam konferensi pers pengumuman pemenang Hadiah Nobel Kimia 2021 yang diraih oleh Benjamin List dari Jerman (kiri) dan David MacMillan dari Amerika Serikat (kanan) pada tampilan layar, di Royal Swedish Academy of Sciences di Stockholm, Swedia, pada 6 Oktober 2021. ( Foto: JONATHAN NACKSTRAND / AFP )

(kiri-kanan bawah): anggota Komite Nobel Kimia, Pernilla Wittung Stafshede; Sekretaris Jenderal Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia, Goran K Hansson; dan anggota Komite Nobel Kimia, Peter Somfai saat berpidato dalam konferensi pers pengumuman pemenang Hadiah Nobel Kimia 2021 yang diraih oleh Benjamin List dari Jerman (kiri) dan David MacMillan dari Amerika Serikat (kanan) pada tampilan layar, di Royal Swedish Academy of Sciences di Stockholm, Swedia, pada 6 Oktober 2021. ( Foto: JONATHAN NACKSTRAND / AFP )

Hadiah Nobel Kimia untuk Penemu Alat Konstruksi Molekul

Kamis, 7 Oktober 2021 | 07:09 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

STOCKHOLM, investor.id – Hadiah Nobel bidang Kimia dianugerahkan pada Rabu (6/10) kepada Benjamin List dari Jerman dan David MacMillan dari Amerika Serikat (AS). Atas karyanya yang mengembangkan alat untuk membangun molekul dan membantu membuat kimia menjadi lebih ramah lingkungan.

Sebelum karya keduanya diakui, para ilmuwan percaya bahwa hanya ada dua jenis katalis, yakni logam dan enzim. Pada 2000, baik List dan MacMillan masing-masing secara independen telah mengembangkan alat yang dapat digunakan untuk mengontrol dan mempercepat reaksi kimia, sehingga memberikan dampak besar pada penelitian obat-obatan.

Disampaikan dalam pernyataan, teknik baru yang bergantung pada molekul-molekuk organik kecil dan disebut asymmetric organocatalysis banyak digunakan dalam obat-obatan. Teknik ini memungkinkan para produsen obat merampingkan produksi obat-obatan, antara lain untuk depresi dan infeksi pernapasan.

Organocatalysts memungkinkan beberapa langkah dalam proses produksi untuk dilakukan dalam urutan yang tidak terputus, sangat mengurangi limbah dalam pembuatan kimia. Banyak bidang penelitian dan industri bergantung pada kemampuan ahli kimia untuk membangun molekul yang dapat membentuk bahan elastis dan tahan lama, menyimpan energi dalam baterai atau menghambat perkembangan penyakit. Pekerjaan ini membutuhkan katalis, yang merupakan zat yang mengontrol dan mempercepat reaksi kimia, tanpa menjadi bagian dari produk akhir,” demikian penjelasan Komite Nobel di Royal Swedish Academy of Sciences, Swedia, yang dilansir AFP.

List adalah orang pertama yang membuktikan bahwa asam amino prolin, yang disebut sebagai katalis favoritnya, dapat mendorong reaksi aldol – yaitu ketika atom karbon dari dua molekul berbeda terikat bersama.

“Dibandingkan dengan logam dan enzim, prolin adalah alat impian para ahli kimia. Ini adalah molekul yang sangat sederhana, murah dan ramah lingkungan,” tambah Komite.

Layar menampilkan pemenang Hadiah Nobel bidang Kimia 2021, Benjamin List dari Jerman (kiri) dan David MacMillan dari Amerika Serikat (AS), selama konferensi pers di Royal Swedish Academy of Sciences di Stockholm, Swedia, pada 6 Oktober 2021. ( Foto: JONATHAN NACKSTRAND / AFP )
Layar menampilkan pemenang Hadiah Nobel bidang Kimia 2021, Benjamin List dari Jerman (kiri) dan David MacMillan dari Amerika Serikat (AS), selama konferensi pers di Royal Swedish Academy of Sciences di Stockholm, Swedia, pada 6 Oktober 2021. ( Foto: JONATHAN NACKSTRAND / AFP )

Berbagi Hadiah

Mengingat ada dua ilmuwan yang menyabet Hadiah Nobel bidang Kimia maka List dan MacMillan – yang sama-sama berusia 53 tahun – bakal berbagi total hadiah sebesar 10 juta kronor (US$ 1,1 juta). Sebagai informasi, saat ini List adalah direktur Institut Max Planck di Jerman dan MacMillan, yang kelahiran Skotlandia, adalah profesor di Princeton University di AS.

“Saya pikir seseorang sedang membuat lelucon. Saya sedang duduk untuk sarapan bersama istri saya,” demikian komentar List kepada wartawan via telepon selama konferensi pers pengumuman Hadiah Nobel.

List mengungkapkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, istrinya kerap bercanda bahwa ia harus menantikan dering telepon dari Swedia.

“Tapi hari ini kami bahkan tidak bercanda. Sulit untuk menggambarkan apa yang Anda rasakan pada saat itu, tetapi itu adalah momen yang sangat istimewa yang tidak akan pernah saya lupakan,” ujarnya.

Saat ditanya arti hadiah itu bagi masa depannya sebagai peneliti, List berjanji sudah memiliki beberapa rencana lagi.

“Saya selalu suka melakukan hal yang ekstrem. Bisakah kita melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak mungkin?' Saya harap saya memenuhi pengakuan ini dan terus menemukan hal-hal menakjubkan,” tambahnya.

Seperti Demam Emas

Lembaga Sains mengatakan, sejak penemuan mereka, perkembangan di lapangan dapat hampir disamakan dengan demam emas, karena List dan MacMillan merancang banyak organokatalis yang murah dan stabil.

“Semisal pada 2011, para peneliti mampu membuat proses produksi strychnine 7.000 kali lebih efisien, menguranginya dari 29 reaksi kimia menjadi hanya 12, katanya.

Menurut laporan, menjelang pengumuman Hadiah Nobel pada Rabu, para analis mengatakan bahwa calon pemenang di bidang kimia terbuka lebar.

Berdasarkan Clarivate – yang menyimpan daftar para calon pemenang Hadiah Nobel – terdapat lebih dari 70 peneliti memiliki karya-karya yang perlu dipertimbangkan layak mendapat penghargaan tersebut, mengingat ada ribuan kutipan yang telah mereka terima dalam makalah ilmiah.

Tahun lalu, Hadiah Nobel Kimia diberikan kepada Emmanuelle Charpentier dari Prancis dan Jennifer Doudna dari AS, atas karyanya mengembangkan teknik penyuntingan gen yang dikenal sebagai CRISPR-Cas9 atau “gunting” pemotongan DNA.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN