Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Data UNESCO yang menunjukkan bahwa pada April sebanyak 1,6 miliar anak muda keluar dari sekolah-sekolah dan universitas karena penerapan langkah-langkah untuk mencegah penyebaran virus corona Covid-19. ( Foto:  AFP / Ina Fassbender )

Data UNESCO yang menunjukkan bahwa pada April sebanyak 1,6 miliar anak muda keluar dari sekolah-sekolah dan universitas karena penerapan langkah-langkah untuk mencegah penyebaran virus corona Covid-19. ( Foto: AFP / Ina Fassbender )

Hampir 10 Juta Anak Berisiko Tidak Sekolah Lagi

Selasa, 14 Juli 2020 | 07:38 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Pandemi virus corona Covid-19 telah menyebabkan darurat pendidikan luar biasa. Pasalnya, tercatat hingga 9,7 juta anak yang terkena dampak penutupan sekolah berisiko tidak akan kembali ke kelas. Demikian peringatan dari badan Save the Children pada Senin (13/7).

“Sekitar 10 juta anak mungkin tidak pernah kembali ke sekolah. Ini adalah darurat pendidikan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan pemerintah harus segera berinvestasi dalam belajar. Alih-alih, kita menghadapi risiko pengurangan anggaran yang tak tertandingi yang akan memperlihatkan ledakan ketimpangan antara si kaya dan si miskin, dan antara anak laki-laki dan perempuan,” ujar Kepala Eksekutif Save the Children, Inger Ashing.

Badan amal Inggris itu mengutip data UNESCO yang menunjukkan bahwa pada April sebanyak 1,6 miliar anak muda keluar dari sekolah-sekolah dan universitas, karena penerapan langkah-langkah untuk mencegah penyebaran virus corona Covid-19. Jumlah tersebut sekitar 90% dari seluruh populasi siswa di dunia.

“Untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia, seluruh generasi anak-anak di seluruh dunia mengalami gangguan pendidikan,”demikian menurut laporan “Save our Education” yang baru.

Dikatakan dalam laporan, bahwa kejatuhan ekonomi dari krisis ini dapat memaksa penambahan 90 hingga 117 juta anak-anak ke dalam kemiskinan, yang berdampak langsung pada penerimaan sekolah.

Selain itu, dengan banyaknya anak muda yang dituntut bekerja atau anak-anak perempuan yang dipaksa menikah dini demi menghidupi keluarga mereka maka terdapat antara tujuh dan 9,7 juta anak putus sekolah secara permanen.

Kemudian pada saat yang sama, badan amal itu memperingatkan krisis itu dapat menyisakan kekurangan dalam anggaran pendidikan sebanyak US$ 77 miliar di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah pada akhir 2021.

Badan amal tersebut mendesak pemerintah, dan donor untuk menginvestasikan lebih banyak dana di balik rencana pendidikan global baru guna membantu anak-anak kembali ke sekolah ketika kondisi sudah aman, dan sampai saat itu mendukung pembelajaran jarak jauh.

“Kami tahu anak-anak yang paling miskin dan paling terpinggirkan sudah tertinggal paling jauh di belakang, mereka menderita kerugian terbesar, tanpa akses ke pembelajaran jarak jauh – atau pendidikan apa pun – selama setengah tahun akademik,” kata Ashing.

Save the Children juga mendesak kreditor komersial untuk menunda pembayaran utang bagi negara-negara berpenghasilan rendah. Langkah tersebut digadang-gadang dapat membebaskan anggaran US$ 14 miliar untuk program pendidikan.

“Jika kita membiarkan krisis pendidikan ini berlangsung, dampaknya pada masa depan anak-anak akan bertahan lama. Janji yang telah dibuat dunia untuk memastikan semua anak memiliki akses ke pendidikan berkualitas pada tahun 2030, akan mundur beberapa tahun,” ungkap Ashing, seraya mengutip tujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Laporan itu mencantumkan 12 negara di mana anak-anak paling berisiko dapat tersingkir dari pendidikan yakni Niger, Mali, Chad, Liberia, Afghanistan, Guinea, Mauritania, Yaman, Nigeria, Pakistan, Senegal, dan Pantai Gading.

Sebelum krisis Covid-19, lajut badan amal itu, diperkirakan 258 juta anak-anak dan remaja sudah tidak bersekolah. (afp)

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN