Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi dolar AS

Ilustrasi dolar AS

Harga Makanan dan Sewa Hunian Mendorong Lonjakan Inflasi di AS

Jumat, 15 Oktober 2021 | 06:24 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

WASHINGTON, investor.id - Lonjakan inflasi di Amerika Serikat (AS) belum berakhir. Data pemerintah pada Rabu (13/10) waktu setempat menunjukkan harga makanan dan sewa hunian meningkat bulan lalu. Hasil ini menggarisbawahi komplikasi yang dihadapi regulator AS saat memandu kebangkitan negara dari dampak pandemi Covid-19.

Indeks harga konsumen (IHK) terbaru yang dilaporkan Departemen Tenaga Kerja (Depnaker) AS mencatat adanya kenaikan 5,4% pada September dibandingkan bulan yang sama tahun lalu. Sedangkan dibandingkan Agustus, IHK di AS naik tepat di atas perkiraan kalangan analis sebesar 0,4%.

Harga makanan dan perumahan menyumbang lebih dari setengah dari kenaikan secara keseluruhan. Sementara dampak kenaikan harga energi global juga terlihat dalam data. Beberapa ekonom memperingatkan data ini mengindikasikan inflasi berada di jalur untuk melampaui tingkat yang diharapkan.

"Peningkatan biaya tempat tinggal adalah sesuatu yang harus diperhatikan, karena dapat mengimbangi beberapa perlambatan inflasi yang terjadi ketika gangguan rantai pasokan saat ini teratasi," kata Diane Swonk dari Grant Thornton lewat media sosial Twitter.

Pemerintah AS telah menghadapi kenaikan harga sepanjang tahun ini. Pasalnya, aktivitas bisnis mulai dibuka kembali dari penguncian Covid-19 pada 2020 sementara rantai pasokan menangani kekurangan dan penundaan.

Inflasi menghadirkan tantangan bagi Presiden AS Joe Biden. Lawan-lawannya juga menggunakan kesempatan ini untuk memperdebatkan rencana pengeluaran yang berlebihan.

Ini juga telah mengganggu Federal Reserve (The Fed), yang telah mengindikasikan kemungkinan mulai menarik kembali stimulus moneter pada akhir tahun ini. Tetapi pihaknya masih menunggu lebih lama untuk menaikkan suku bunga pinjaman, meskipun kekhawatiran atas kebijakan uang longgar bank sentral memungkinkan harga naik.

Pendakian

Risalah dari pertemuan pengaturan kebijakan The Fed pada September yang dirilis pada Rabu (13/10) waktu setempat mengatakan sebagian besar peserta melihat risiko inflasi masih naik, karena ada kekhawatiran bahwa gangguan pasokan dan kekurangan tenaga kerja mungkin akan bertahan lebih lama dan lebih berdampak daripada perkiraan.

Sementara bank sentral lebih memilih untuk mendapatkan angka inflasi dari Departemen Perdagangan, data IHK mengandung dinamika yang tidak diragukan lagi di benak para pemimpin The Fed.

Tidak termasuk harga makanan dan energi yang bergejolak, inflasi naik 4% bulan lalu dibandingkan dengan bulan yang sama pada 2020, menurut laporan itu. Dibandingkan Agustus 2021, angka tersebut naik 0,2%.

Di antara kategori yang mendorong kenaikan inflasi secara keseluruhan, kategori makanan menyumbang kenaikan 0,9% sedangkan kategori makanan rumah yang meliputi bahan makanan naik 1,2%.

Kategori tempat tinggal naik 0,4%, yang menurut Ian Shepherdson dari Pantheon Macroeconomics adalah peningkatan bulanan terbesarnya sejak Juni 2006.

"Ini mungkin hanya lonjakan setelah beberapa peningkatan yang relatif sederhana. Tetapi kita tidak bisa mengesampingkan sgagasan bahwa dasar-dasarnya (yakni) kenaikan harga rumah yang cepat, penetapan harga pemilik yang lebih agresif, persediaan rumah yang rendah, dan pertumbuhan upah yang lebih cepat (sehingga) mendorong tren tersebut," katanya.

Dampak kenaikan harga minyak global terlihat pada data, dengan indeks bensin naik 1,2% dibandingkan dengan Agustus dan energi secara keseluruhan naik 1,3%. Selama 12 bulan terakhir, harga energi naik 24,8% dan harga pangan naik 4,6%.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN