Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
CEO Moderna Stephane Bancel saat wawancara lewat video dengan AFP pada 17 November 2020. ( Foto: IVAN COURONNE / AFP )

CEO Moderna Stephane Bancel saat wawancara lewat video dengan AFP pada 17 November 2020. ( Foto: IVAN COURONNE / AFP )

Harga Minyak Mentah Turun Nyaris 5%

Rabu, 1 Desember 2021 | 06:50 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Harga minyak mentah dilaporkan turun hampir 5% pada Selasa (30/11) setelah CEO Moderna Stéphane Bancel meragukan tingkat kemanjuran vaksin Covid-19 yang ada saat ini dalam melawan varian baru virus corona Covid-19, Omicron. Komentarnya membuat pasar keuangan ketakutan dan menambah kekhawatiran terhadap permintaan minyak.

Bos produsen obat Moderna itu mengatakan kepada Financial Times bahwa vaksin Covid-19 saat ini tidak mungkin sama efektifnya dengan varian Omicron, seperti halnya terhadap varian Delta.

Dampak dari pernyataan Bancel itu pun mendorong harga minyak mentah acuan Brent turun US$ 2,76 atau 3,76% menjadi US$ 70,68 per barel pada pukul 13.38 GMT, setelah sempat tergelincir ke level terendah dalam perdagangan intraday menjad US$ 70,22 – yang menjadi harga terendah sejak akhir Agustus.

Sedangkan harga minyak mentah acuan Amerika Serikat (AS), West Texas Intermediate (WTI) melemah US$ 2,86 atau 4%, nyaris mendekati US$ 67 per barel, setelah jatuh ke sesi perdagangan terendah US$ 66,51 per barel.

Sementara itu, Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell juga akan segera memberi tahu anggota parlemen AS bahwa varian baru Covid-19 dapat membahayakan pemulihan ekonomi. Demikian menurut pernyataan yang disiapkan.

“Dampak ekonomi didorong oleh ketakutan, dan oleh respons kebijakan. Ketakutan ini berdampak pada sektor perjalanan. Ada larangan langsung. Tetapi juga ketakutan terdampar yang menyebabkan rencana perjalanan berubah,” demikian isi catatan Paul Donovan dari UBS, yang dilansir Reuters.

Sebelumnya, harga minyak dilaporkan jatuh sekitar 12% pada Jumat (26/11) bersama dengan pasar keuangan, menyusul kekhawatiran Omicron yang sangat bermutasi ini bakal memicu aturan karantina (lockdown) baru dan mengurangi permintaan minyak global. Namun, masih belum diketahui jelas seberapa parah varian baru tersebut.

Dengan prospek permintaan yang melemah, berkembang ekspektasi bahwa Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak, Rusia dan sekutu mereka yang tergabung dalam OPEC+ akan menunda rencana menambah pasokan 400.000 barel per hari (bph) pada Januari mendatang.

“Kami pikir grup akan condong ke arah jeda kenaikan produksi mengingat varian Omicron dan pelepasan stok minyak oleh konsumen minyak utama,” kata analis komoditas Commonwealth Bank Vivek Dhar dalam sebuah catatan.

Tekanan yang dirasakan di dalam OPEC+ pun semakin berkembang. Mengingat jadwal pertemuan pada 2 Desember yang bertujuan mempertimbangkan kembali rencana pasokannya pasca pelepasan cadangan minyak mentah darurat pada pekan lalu oleh AS dan negara-negara konsumen minyak utama lainnya guna mengatasi kenaikan harga.

“Menyusul pelepasan cadangan strategis global dan pengumuman belasan negara yang membatasi perjalanan. maka OPEC dan sekutunya dapat dengan mudah membenarkan penghentian produksi atau bahkan sedikit pengurangan,” kata analis OANDA Edward Moya dalam sebuah catatan.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN