Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Taipei City, Taiwan. Foto: travelimage.com

Taipei City, Taiwan. Foto: travelimage.com

Hubungan Diplomatik Taiwan-Kiribati Putus

Grace Eldora, Sabtu, 21 September 2019 | 10:10 WIB

TAIPEI, investor.id – Pemerintah Taiwan kembali kehilangan sekutu diplomatiknya setelah salah satu negara kecil, Republik Kiribati mengalihkan pengakuannya kepada Tiongkok. Langkah pembelotan kedua dari negara yang berada di Samudera Pasifik itu pun menuai kecaman Taiwan, mengingat hanya kurang dari sepekan dari tindakan serupa oleh Kepulauan Solomon.

Kepulauan Solomon membuat keputusan yang sama pada empat hari sebelumnya, sehingga membuat Taiwan lebih terisolasi dibandingkan sebelumnya karena hanya menyisakan 15 negara yang mengakui kedaulatan mereka.

Dalam konferensi pers yang digelar secara tergesa-gesa, Presiden Taiwan Tsai Ing Wen mengatakan keputusan Kiribati adalah sebuah kesalahan, seraya menambahkan bahwa negara yang berpenduduk lebih dari 100.000 orang itu telah “melepaskan teman yang tulus dan memilih menjadi bidak catur Tiongkok”.

Langkah Kiribati juga dipandang sebagai bentuk kudeta lain bagi Tiongkok yang beberapa pekan ke depan bakal merayakan peringatan 70 tahun berdirinya Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

Seperti diketahui, Taiwan telah menjadi negara berdaulat de facto sejak berakhirnya perang saudara pada 1949, tetapi Tiongkok masih beranggapan pulau itu sebagai bagian wilayahnya dan berjanji untuk merebutnya, dengan kekerasan jika perlu.

Selama beberapa dekade, ketika kekuatan ekonomi dan militer Tiongkok terus tumbuh, sebagian besar negara – termasuk Amerika Serikat dan sebagian besar negara Barat – telah mengalihkan pengakuan kepada Tiongkok.

Kemudian dalam sepuluh tahun terakhir, hanya segelintir negara-negara – yang sebagian besar miskin di Amerika Latin dan Pasifik – yang tetap setia kepada Taiwan. Sementara itu, satu-satunya negara di Eropa yang masih mengakui Taiwan adalah Vatikan.

Selain itu, Tiongkok telah meningkatkan kampanyenya untuk mengisolasi Taiwan pasca terpilihnya Tsai dalam pemilihan umum (pemilu) 2016, karena dia berasal dari sebuah partai yang menolak mengakui gagasan bahwa Taiwan adalah bagian dari “satu Tiongkok”.

Tsai mengungkapkan pada Jumat bahwa penindasan-penindasan dari Tiongkok semakin sering terjadi, mengingat kurang dari 100 hari lagi sampai pelaksanaan pemilihan umum Taiwan pada Januari tahun depan.

“Mereka (Tiongkok) hanya memiliki satu tujuan, yaitu untuk memengaruhi hasil pemilihan presiden,” ujarnya.

Kemudian pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri Taiwan Joseph Wu mengumumkan bahwa Taipei akan segera menarik para diplomatnya dan berharap Kiribati melakukan hal yang sama. Dia juga menuding Tiongkok telah “memikat Kiribati agar mengubah hubungan diplomatiknya” dengan janji pemberian investasi dan bantuan.

Ketidakpastian Pemilu Taiwan

Di sisi lain, Negeri Tirai Bambu memberikan pujia kepada Kiribati karena telah memutuskan hubungan diplomatik dengan Taiwan. Pemerintah mengatakan sangat menghargai keputusan untuk melanjutkan hubungan diplomatik dengan Tiongkok.

Dengan demikian, sekarang tercata ada tujuh negara yang mengalihkan pengakuan selama masa pemerintahan Tsai, di mana Tiongkok juga meningkatkan latihan militer dan menekan negara pulau itu secara ekonomi.

Negara kecil di Afrika, yakni Sao Tome dan Principe adalah yang pertama tunduk pada akhir 2016, diikuti oleh Burkina Faso dan kemudian tiga negara Amerika Latin, yakni Panama, El Salvador dan Republik Dominika.

Kepulauan Solomon pun menyusul, setelah menimbang-nimbang selama berbulan apakah akan mengambil langkah setelah pemilihan Perdana Menteri Manasseh Sogavare pada April.

Taiwan dijadwalkan menggelar pemungutan suara pada Januari tahun depan, di mana Tsai berupaya meraih mandat dalam masa jabatan kedua. Kampanyenya juga didominasi soal hubungan Taiwan dengan Tiongkok.

Dia menggambarkan proses pemungutan suara sebagai sebuah perjuangan untuk kebebasan dan demokrasi. Hal itu-lah yang menempatkan dirinya sebagai seseorang yang dapat membela Taiwan dari kebijakan-kebijakan Tiongkok yang semakin tegas.

Sedangkan, rival utamanya, Han Kuo Yu dari partai oposisi Kuomintang, lebih memilih memulai kembali hubungan diplomatik dengan Tiongkok. (afp/eld)


 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA