Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seorang karyawan bekerja pada jalur produksi silinder di sebuah pabrik di Hangzhou, provinsi Zhejiang, Tiongkok timur pada 17 Januari 2020. ( Foto: STR / AFP )

Seorang karyawan bekerja pada jalur produksi silinder di sebuah pabrik di Hangzhou, provinsi Zhejiang, Tiongkok timur pada 17 Januari 2020. ( Foto: STR / AFP )

IHP Melonjak, Menggerus Laba Perusahaan

Kamis, 10 Juni 2021 | 06:21 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

BEIJING – Biro statistik nasional Tiongkok (National Bureau of Statistics/NBS) menyampaikan pada Rabu (9/6) bahwa indeks harga produsen (IHP) Tiongkok pada Mei dilaporkan naik 9% dibandingkan tahun lalu, akibat melonjaknya harga komoditas.

Data Wind Information juga menunjukkan bahwa angka itu menandai kenaikan tercepat dalam biaya produksi sejak September 2008, yakni saat indeks naik 9,13%.

Meskipun kenaikan tersebut melampaui ekspektasi kenaikan 8,5% yang tercatat dalam jajak pendapat Reuters, kenaikan ini sebenarnya turun dari basis yang rendah. Di mana indeks turun 3,7% pada Mei 2020 selama bulan-bulan, di awal pandemi virus corona Covid-19.

“Kenaikan harga bahan baku menjadi perhatian khusus bagi perusahaan-perusahaan yang berbismis bahan bangunan, serta besi dan baja. Perusahaan-perusahaan ini lebih pesimistis. Setiap mereka melihat kenaikan biaya yang sangat tajam, mereka pikir itu akan berlangsung hingga akhir tahun,” demikian penjelasan Gan Jie, seorang profesor keuangan dan direktur akademik untuk program MBA di Cheung Kong Graduate School of Business, Beijing pada Rabu, yang dikutip CNBC.

Dia menambahkan, bahwa bisnis-bisnis lain memperkirakan harga akan lebih cepat normal. Hal ini berdasarkan tindak lanjut timnya pada pekan lalu, ketika melakukan survei terhadap lebih dari 2.000 perusahaan Tiongkok yang bergerak di sektor industri.

Survei awal yang dilakukan di akhir Maret dan April mengungkap, bahwa sentimen bisnis tetap tidak berubah pada kuartal pertama dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Namun, studi tersebut menemukan proporsi perusahaan yang melaporkan margin laba kotor di bawah 15% telah mengalami peningkatan menjadi sekitar 70%.

“Mereka pasti sedang tertekan. Beberapa perusahaan bahkan mengatakan tidak dapat menerima pesanan saat ini, karena semakin banyak mereka berproduksi, mereka semakin merugi. Akibatnya, laba bersih mereka berada di angka negatif,” kata Gan.

Sebagai informasi, dalam beberapa pekan terakhir pemerintah pusat Tiongkok telah mengumumkan bantuan tambahan untuk usaha kecil, terutama yang terdampak kenaikan harga bahan baku.

“Dampaknya pada usaha menengah dan kecil agak besar,” pungkas Wang Jiangping, wakil menteri Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi, kepada wartawan pekan lalu dalam bahasa Mandarin, yang diterjemahkan CNBC.

Wang mencatat, margin laba operasi mereka sebesar 6% dalam empat bulan pertama tahun ini adalah 2 poin persentase lebih rendah dari perusahaan besar. Ini menunjukkan kesenjangan yang meningkat.

Data yang dirilis Rabu memperlihatkan, harga hampir naik dua kali lipat, 99,1% untuk industri ekstraksi minyak dan gas alam Tiongkok. Kenaikan sebesar 34,3% juga dialami minyak, batu bara, dan pengolah bahan bakar lainnya.

Di sisi lain, biaya konsumen swasta naik hanya sedikit. Menurut biro statistik pada Rabu, indeks harga konsumen (IHK) naik 1,3% year-on-year (yoy) pada Mei atau meleset dari ekspektasi untuk kenaikan 1,6%. Di samping itu, indeks ini juga dipengaruhi oleh penurunan harga daging babi, setelah sempat melonjak harganya dalam dua tahun terakhir.

Kekhawatiran Perang Dagang

Produsen Tiongkok dilaporkan sedang menghadapi tekanan dari perkiraan penurunan pembelian di luar negeri. Padahal ekspor sempat melonjak karena didorong oleh permintaan global untuk masker dan barang-barang terkait kesehatan lainnya, sehingga membantu meningkatkan perekonomian Tiongkok pada tahun lalu selama puncak pandemi virus corona.

“Bisnis menyerap biaya untuk saat ini dan tidak memangkas pekerja,” kata Gan.

Namun, dia mengatakan produsen Tiongkok telah memperkirakan pesanan dari luar negeri sedikit menurun, bahkan jika permintaan luar negeri pada akhirnya tetap sama. “Secara umum orang tidak yakin tentang apa yang terjadi di luar negeri. Salah satunya adalah Covid, yang lainnya adalah perang dagang dan sentimen keseluruhan terhadap bisnis Tiongkok,” ujar Gan.

Seperti diketahui, ketegangan antara Tiongkok dan mitra dagang terbesarnya, Amerika Serikat (AS) telah meningkat dalam tiga tahun terakhir. Penyebabnya, kedua negara saling mengenakan tarif impor barang satu sama lain. Ekspor Negeri Tirai Bambu ke AS dilaporkan tumbuh pada Mei dibandingkan bulan sebelumnya, tetapi catatan impor menunjukkan penurunan.

Selain itu, kesepakatan investasi besar antara Tiongkok dan Eropa yang mendekati penutupan di akhir tahun lalu tampaknya tidak mungkin tercapai, karena sanksi yang dijatuhkan oleh masing-masing pihak atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN