Menu
Sign in
@ Contact
Search
Seorang wanita berjalan melewati logo Dana Moneter Internasional (IMF) di kantor pusatnya di Washington, AS, beberapa waktu lalu. (FOTO: REUTERS / YURI GRIPAS)

Seorang wanita berjalan melewati logo Dana Moneter Internasional (IMF) di kantor pusatnya di Washington, AS, beberapa waktu lalu. (FOTO: REUTERS / YURI GRIPAS)

IMF Pangkas Prospek Ekonomi Global, Berita Buruknya Tak Sampai di Situ

Rabu, 27 Juli 2022 | 13:08 WIB
Grace El Dora (redaksi@investor.id)

WASHINGTON, investor.id – Berita buruk ekonomi global mungkin tidak berhenti di inflasi saja, menurut peringatan Dana Moneter Internasional (IMF). Lembaga tersebut memangkas perkiraan prospek ekonomi tahun ini menjadi 3,2%

“Prospek ekonomi global sangat condong ke bawah,” katanya, Rabu (27/7). Jika itu terjadi, dapat mendorong ekonomi global ke salah satu kemerosotan terburuk dalam setengah abad terakhir.

Inflasi yang melonjak dan perlambatan parah di Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok mendorong IMF menurunkan prospek ekonomi global tahun ini dan tahun berikutnya. Pihaknya memberikan penilaian yang lebih tajam tentang apa yang mungkin ada di depan.

Baca juga: Lagi, BI Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global

“Prospek telah gelap secara signifikan sejak April. Dunia akan segera tertatih-tatih di tepi resesi global, hanya dua tahun setelah yang terakhir,” kata kepala ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas.

Ia menyampaikan bahwa tiga ekonomi terbesar di dunia, yakni AS, Tiongkok, dan kawasan euro terhenti dengan konsekuensi penting bagi prospek global.

Dalam Outlook Ekonomi Dunia (WEO) terbaru, IMF memangkas perkiraan produk domestik bruto (PDB) global 2022 menjadi 3,2%, empat persepuluh poin lebih rendah dari perkiraan April 2022 dan sekitar setengah dari tingkat yang terlihat tahun lalu.

Pemulihan tentatif tahun lalu dari penurunan pandemi telah diikuti oleh perkembangan yang semakin suram pada 2022 ketika risiko mulai terwujud, kata laporan itu.

“Sejumlah guncangan telah memukul ekonomi dunia yang sudah melemah akibat pandemi,” jelas IMF. Pukulan ini termasuk dari perang di Ukraina yang telah mendorong naik harga pangan dan energi global, kata IMF, membuat bank-bank sentral menungkit suku bunga secara tajam.

Lockdown Covid-19 yang sedang berlangsung dan krisis real estat yang memburuk telah menghambat aktivitas ekonomi di Tiongkok, sementara kenaikan suku bunga agresif Federal Reserve (Fed) memperlambat pertumbuhan AS dengan drastis.

Kunci di antara kekhawatiran ekonom adalah dampak dari perang Ukraina, termasuk potensi pemerintah Rusia memotong pasokan gas alam ke Eropa, lonjakan harga lebih lanjut, serta momok kelaparan karena perang yang mencekik pasokan biji-bijian.

Turun Lagi di 2023

Dalam peringatan yang tidak menyenangkan, WEO mengatakan bahwa guncangan seperti itu, jika cukup parah, dapat menyebabkan kombinasi resesi disertai dengan inflasi yang tinggi dan meningkat (stagflasi).

Itu akan menghambat pertumbuhan, memperlambatnya menjadi 2,0% pada 2023. Tingkat pertumbuhan global hanya lebih lambat lima kali sejak 1970, kata laporan itu.

Gourinchas mengatakan itu akan menjadi sangat dekat dengan resesi global.

Prioritas Inflasi

Prioritas utama bagi regulator adalah mengendalikan kenaikan harga, bahkan jika itu berarti penderitaan bagi warganya, kata IMF. Pasalnya, kerusakan yang disebabkan oleh inflasi yang tidak terkendali akan jauh lebih buruk.

Gourinchas, dalam sebuah unggahan blog tentang laporan tersebut, mencatat bahwa langkah tersinkronisasi oleh bank-bank sentral utama untuk menghadapi ancaman inflasi secara historis belum pernah terjadi sebelumnya. Dampaknya diperkirakan akan mengganggu pertumbuhan ekonomi.

Baca juga: Fed Siap Serang Inflasi dengan Kenaikan Suku Bunga

“Kebijakan moneter yang lebih ketat pasti akan menimbulkan biaya ekonomi yang nyata, tetapi menundanya hanya akan memperburuk kesulitan,” katanya.

IMF sekarang melihat indeks harga konsumen (CPI) melonjak 8,3% tahun ini, hampir satu poin persentase lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya. Sementara ekonomi pasar berkembang kemungkinan menghadapi kenaikan CPI 9,5%.

“(Namun) kejutan lebih lanjut terkait pasokan terhadap harga pangan dan energi dari perang di Ukraina dapat meningkatkan inflasi headline secara tajam,” lanjut Gourinchas.

Itu akan meningkatkan penderitaan bagi negara-negara miskin yang paling tidak mampu menahan goncangan, di mana makanan merupakan bagian yang lebih besar dari anggaran keluarga.

Editor : Grace El Dora (graceldora@gmail.com)

Sumber : AFP

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com