Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seorang pria mengangkut tong kosong dengan kereta yang ditarik oleh seekor kuda di Amritsar, India pada 17 November 2020. ( Foto: NARINDER NANU / AFP )

Seorang pria mengangkut tong kosong dengan kereta yang ditarik oleh seekor kuda di Amritsar, India pada 17 November 2020. ( Foto: NARINDER NANU / AFP )

India Memilih Kesepakatan Perdagangan Bilateral

Kamis, 26 November 2020 | 07:18 WIB
Iwan Subarkah Nurdiawan (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

SINGAPURA, investor.id – India dalam waktu dekat tidak akan bergabung dengan perjanjian perdagangan bebas terbesar di dunia, karena lebih memilih untuk menjalin kesepakatan-kesepakatan perdagangan bilateral.

Sebanyak 15 negara di Asia Pasifik baru saja menandatangani Kemitraan Ekonomi Menyeluruh Regional atau Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP). Kelimabelas negara tersebut menguasai sekitar 30% ekonomi global.

RCEP mencakup Tiongkok, Jepang, Koreal Selatan, Australia, Selandia Baru dan 10 negara anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara atau Asean.

Saat perundingan RCEP bergulir pada 2013, India terlibat di dalamnya. Tapi kemudian menolak bergabung karena ada kepentingan-kepentingan intinya yang tak terakomodasi. Namun negara-negara RCEP menyatakan pintu tetap terbuka bila India nantinya ingin bergabung.

RCEP akan memangkas sebagian besar tarif atas barang, memperkuat rantai pasokan di kawasan, dan standardisasi aturan investasi di negara-negara anggota.

“Aturan asal umum di bawah RCEP memang akan meningkatkan daya tarik sebagai tujuan rantai pasokan dan membayangi ambisi India untuk menarik rantai pasokan yang relokasi dari Tiongkok,” ujar Priyaka Kishore, kepala ekonom Oxford Economics untuk Asia Tenggara, kepada CNBC, Rabu (25/11).

Aturan asal mengacu pada kriteria yang dapat membantu dalam menentukan negara atau sumber dari mana sebuah produk berasal. Berdasarkan perjanjiannya, jika sebuah produk memenuhi kriteria tersebut, regulasinya akan berlaku sama bagi 15 negara anggota.

Yang berarti produk tertentu yang dikirimkan ke negara anggota RCEP yang mana pun dan menerima perlakukan tarif khusus yang sama, akan menurunkan biaya ekspor dan meningkatkan kemudian bisnis.

Tapi skema-skema domestik yang sekarang berlaku di India, tambah Kishore, seperti insentif produksi untuk barang tertentu yang diproduksi lokal, akan memberi keuntungan sementara.

“Sampai India fokus pada peningkatan daya saing manufakturnya, ia akan kesulitan untuk berpartisipasi dalam rantai pasokan regional,” kata dia.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN